Tak Terjangkau Ambulans, Korban Luka Menunggu Ajal

Kompas.com - 06/01/2009, 11:00 WIB
Editor

JENEWA, SELASA — Orang-orang yang terluka dalam pertempuran di Jalur Gaza akan meninggal dunia karena mobil ambulans tidak dapat mencapai mereka. Demikian pernyataan Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Senin (5/1).

"Situasinya berbahaya sekali dan koordinasi pelayanan mobil ambulans sangat kompleks karena serangan dan operasi militer yang tak putus-putusnya," kata juru bicara ICRC, Dorothea Krimitsas, di Jenewa kepada AFP.

"Sejumlah orang yang terluka telah tewas sementara menunggu mobil ambulans Bulan Sabit Merah Palestina," katanya. "Pada beberapa kasus lain, mobil ambulans tidak dapat mencapai mereka yang terluka sama sekali karena pertempuran dan penembakan tanpa henti."

Kepala Pelayanan Daruat Jalur Gaza mengatakan, sekitar 555 warga Palestina telah tewas dan 2.700 terluka sejak dimulainya serangan Israel untuk menghentikan tembakan roket Hamas pada 27 Desember, Senin.

Pelayanan kesehatan di wilayah itu di bawah tekanan, sementara banyak pekerja kesehatan tidak dapat mencapai rumah sakit mereka dan kamar darurat serta unit perawatan intensif kewalahan, menurut Palang Merah.

Sedikitnya dua rumah sakit telah kehabisan bahan bakar untuk generatornya, satu-satunya sumber listrik yang ada, kata Krimitsas.

Organisasi itu juga mengkhawatirkan pasokan air di jalur pantai berpenduduk padat itu. Krimitsas mengatakan, dua dari 45 sumur di Jalur Gaza tidak berdaya lagi setelah dihantam serangan udara Israel sementara pompa di delapan sumur lain tidak lagi bekerja karena putusnya listrik.

"Setengah juta orang, itu sekitar sepertiga penduduk wilayah tersebut, terancam kehilangan air sama sekali," katanya.

Erimitsas mengatakan, teknisi dibutuhkan untuk memperoleh akses ke instalasi listrik yang rusak dalam pertempuran. Satu tim dari empat staf medis ICRC, termasuk seorang ahli bedah, telah diizinkan masuk ke Jalur Gaza dari Israel, Senin, setelah tiga hari penangguhan, kata badan pertolongan itu.

Mereka akan membantu staf di rumah sakit Shifa di wilayah itu yang melakukan operasi kompleks terhadap orang yang terluka. Tim medis itu juga membawa masuk vaksin tetanus untuk anak-anak dan pasokan darah, kata Krimitsas.

"Rumah sakit-rumah sakit telah kehabisan sama sekali vaksin itu yang merupakan pertolongan potensial bagi pasien dengan luka buruk atau memerlukan operasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.