Takut, Gelap, Dingin Menyelimuti Warga Gaza

Kompas.com - 06/01/2009, 07:36 WIB
Editor

Kilatan cahaya oranye dari tembakan roket, artileri, dan tank milik Israel di Jalur Gaza membuat 1,5 juta warga Palestina memilih tetap tinggal dalam ruang berdinding yang diharapkan bisa meredam daya ledak mesin-mesin pembunuh tadi. Suasana gelap akibat aliran listrik yang terputus membuat suasana kian mencekam. Embusan angin musim dingin tak terhindarkan.

”Hidup kami penuh ketakutan,” ujar Abdelrahim Malaka yang tinggal di pinggiran Gaza City. ”Kami ketakutan karena bisa mati setiap saat,” ujar Abu Abed Al-Safadi, warga lainnya. ”Kami meminta dunia membantu kami dari serangan Israel ini. Apa salahnya anak-anak sehingga rumah mereka harus dibom,” ujar Abdelrahim.

Ribuan rumah hancur atau rusak akibat gempuran pasukan Israel. Rumah-rumah ini praktis tidak bisa lagi digunakan, padahal udara dingin menyengat sangat terasa di Jalur Gaza. ”Kami melihat seorang perempuan di rumah sebelah mengibarkan bendera putih, tetapi pasukan Israel tetap menembak ke arah mereka,” ujar Yehia Anis Hussein, warga lainnya.

Mesin perang negara Yahudi sampai hari Senin (5/1) masih terus merangsek jauh ke wilayah Jalur Gaza. Banyak warga Palestina mengungsi meninggalkan Gaza City ke wilayah yang lebih aman di selatan. Mereka mengungsi menggunakan truk dan mobil kecil. Tidak sedikit yang berjalan kaki sambil menggendong anak-anak mereka.

Gerakan militer Israel disambut pejuang Hamas, membuat suasana pertempuran semakin membara. Jumlah korban yang jatuh kian tidak terhindarkan. Semakin bertambah selama aksi militer Israel belum juga mereda. Sejauh ini belum jelas sampai kapan aksi ini akan berakhir.

Sudah sekitar 512 orang tewas akibat aksi militer Israel ke Jalur Gaza. Keterangan resmi menyebutkan, operasi militer sejak 27 Desember ini sudah menewaskan 87 anak-anak.

Moawiya Hassanein, dari pusat medis darurat Gaza, menuturkan, jumlah korban di kalangan anak-anak kemungkinan terus meningkat karena sejauh ini ambulans tidak bisa dikerahkan untuk membawa para korban baik yang tewas maupun cedera ke pusat medis darurat.

Amukan militer Israel sepertinya tidak mengenal kompromi. Satu keluarga Palestina yang terdiri atas lima orang, termasuk seorang putri berusia 14 tahun, tewas hari Minggu setelah sebuah tank Israel mengarahkan larasnya menembak mobil mereka di dekat Gaza City.

Suara tembakan dari militer Israel, kegelapan akibat listrik padam, dan udara dingin semakin membuat warga sipil Palestina tidak berdaya. Pasokan bahan makan dan obat-obatan juga kian menipis. Sebuah tragedi kemanusiaan di Gaza. (PPG)

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.