Hamas Giring Tentara Israel ke Gedung Kosong

Kompas.com - 06/01/2009, 07:29 WIB
Editor

GAZA CITY, SENIN — Militer Israel mempererat cengkeraman di Jalur Gaza. Dari udara, satuan pesawat tempur Israel masih melaksanakan misi menghancurkan infrastruktur Hamas. Sementara dari darat, ribuan tentara terlibat pertikaian sengit dengan para pejuang Hamas.

Baku tembak yang sengit terjadi di Gaza City timur dan di wilayah utara, Senin (5/1). Berusaha memukul balik tentara Israel, para pejuang Hamas gencar menembakkan granat, roket, mortir, dan memasang ranjau.

Menurut beberapa saksi mata, para pejuang Hamas juga terlihat berusaha menggiring tentara Israel masuk ke kawasan yang penuh dengan gedung yang kosong. Di satu sisi, militer Israel mengklaim berhasil menggoyang Hamas, sementara pemimpin senior Hamas di Gaza menyatakan Hamas akan segera menang.

Hamas menyatakan telah menyiapkan ”ribuan” pejuang untuk menghadapi Israel di Gaza. ”Kami sudah siapkan ribuan pejuang yang akan menanti kalian di berbagai sudut kota di Gaza,” kata juru bicara Brigade Ezzedine Al-Qassam, Abu Obeida.

Memasuki hari ke-10 serangan Israel, penduduk Gaza makin terjepit. Sedikitnya 30 pesawat tempur Israel mengebom lokasi-lokasi strategis Hamas, seperti masjid yang dicurigai dipakai untuk menyimpan senjata. Kapal-kapal perang Israel di lepas pantai Gaza juga menembakkan roket untuk membantu operasi di darat. Sejak operasi militer Israel ”Cast Lead” dimulai 27 Desember 2008, sebanyak 530 orang tewas (90 anak-anak) dan sekitar 2.500 orang terluka.

”Sebagian Gaza City telah dikepung. Kami berhasil memukul Hamas, tetapi tujuan utama kami belum tercapai. Operasi militer ini belum selesai,” kata Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak di parlemen.

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert juga menolak mengakhiri serangan Israel. Ia menegaskan, Israel tak akan berhenti menyerang Gaza hingga tujuannya tercapai. ”Kami tidak berniat menduduki Gaza kembali. Kami ingin serangan roket dari Hamas berhenti,” katanya.

Israel menuntut tiga hal kepada Palestina, yakni dihentikannya serangan roket dan mortir, pengawasan komunitas internasional pada kesepakatan gencatan senjata, serta kesediaan Hamas untuk melucuti senjata. Hamas juga memiliki dua tuntutan untuk Israel, yakni penghentian serangan Israel serta dibukanya penyeberangan Gaza dan Israel.

Untuk membicarakan krisis di Gaza dan cara penyelesaian konflik, delegasi Hamas, Osama Hemdan, ke Mesir. ”Kami ingin serangan Israel dihentikan dan pemblokadean dibuka. Setelah itu barulah kita dengarkan usulan Mesir,” katanya.

Tak mau terlibat

Semua faksi dalam koalisi Pemerintah Lebanon, termasuk gerilyawan Hezbollah, tak ingin kembali terlibat dalam konflik dengan Israel. ”Sampai saat ini Hezbollah belum terlihat hendak kembali menyeret Lebanon ke konflik baru itu,” kata Menteri Penerangan Lebanon Tarek Mitri.

Banyak pihak mengaku khawatir krisis Gaza akan menular ke Lebanon selatan. Akan tetapi, kata Mitri, Hezbollah sudah menegaskan tidak ingin kembali terlibat perang dengan negara-negara tetangga. ”Ada konsensus di Lebanon. Kami tak ingin perang lagi di wilayah selatan,” ujarnya. (AP/LUK) 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.