90 Tahun Perang Dunia I

Kompas.com - 11/11/2008, 05:04 WIB
Editor

ERICH Kastner (Jerman) dan Lazare Ponticelli (Perancis) termasuk sisa-sisa veteran dalam Perang Dunia I. Keduanya kini telah tiada. Kastner meninggal 1 Januari 2008 dalam usia 107 tahun. Selang dua bulan kemudian, Ponticelli menyusul. Pria kelahiran Italia itu meninggal 12 Maret lalu dalam usia 110 tahun.

Satu per satu veteran Perang Dunia (PD) I harus pergi. Namun, kenangan akan PD I yang terjadi 90 tahun lalu tak boleh ikut pergi. Menteri Urusan Veteran Perancis Jean-Marie Bockel, pekan lalu, mengingatkan, kenangan dan sejarah PD I tidak boleh dilupakan begitu saja. Rekonsiliasi yang telah terjalin di antara negara-negara yang pernah bersengketa tidak kemudian berarti melupakan PD I.

”Rekonsiliasi tidak berarti melupakan semua yang telah terjadi. Setelah veteran terakhir meninggal, kita kembali berbagi kenangan. Perang ini bagian dari kenangan kolektif. Mereka yang tidak tahu atau melupakan sejarah masa lalunya tidak akan punya masa depan,” kata Bockel.

Peringatan 90 tahun PD I pada pekan ini semakin terasa menyedihkan. Apalagi bagi veteran yang masih hidup. Satu per satu rekan seperjuangan tak ada lagi. Untuk mengenang sejarah PD I, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Pangeran Charles dari Inggris, Ketua Parlemen Jerman Peter Muller, dan Gubernur Jenderal Australia Quentin Bryce akan bersama-sama menggelar upacara peringatan PD I. Mereka akan bertemu di Benteng Douaumont yang menjadi titik pusat Perang Verdun 1916, Selasa (11/11). Di lokasi itu pula dikebumikan jenazah 300.000 tentara yang tewas dalam pertempuran sengit menggunakan senapan mesin dan artileri berat yang lain selama 300 hari.

Ratusan ribu sukarelawan yang masih belia tewas satu per satu di tangan industri senjata modern. Tidak ada yang menduga akan menghadapi terjangan persenjataan modern. Sejak April hingga Desember ratusan ribu tewas. Dalam satu hari saja puluhan ribu orang tewas. Dari keseluruhan tentara yang tewas, sebagian besar berasal dari Jerman (1,9 juta orang), Rusia (1,7 juta), Perancis (1,4 juta), Austria-Hongaria (1 juta), dan Inggris (760.000).

PD I yang juga disebut War to End All Wars (Perang untuk Mengakhiri Semua Peperangan) itu berlangsung 1914-1918. Perang ini terjadi setelah pembunuhan Pangeran Ferdinand, Putra Mahkota Kerajaan Austria-Hongaria (kini disebut Austria). Ia dibunuh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip, di Sarajevo, 28 Juni 1914. Satu bulan kemudian, Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia yang bersekutu dengan Rusia.

Konflik ini meluas hingga ke Jerman, yang kemudian bersekutu dengan Austria-Hongaria. Perancis kemudian masuk karena bersekutu dengan Rusia. Jerman menginvasi Belgia yang ketika itu memilih netral. Akibatnya, Inggris ikut terjun ke peperangan. Untuk mendukung Jerman, Turki ikut terlibat.

Kemudian 21 Februari 1916, Jerman menyerang pasukan Perancis di Verdun. Di sisi Front Timur, Rusia mendesak Jerman keluar dari Verdun. Perang berakhir 11 November 1918 seusai Jerman menandatangani kesepakatan gencatan senjata. Di dalam Pakta Versailles (28 Juni 1919) disebutkan, Jerman harus membayar ganti rugi akibat peperangan. Sementara kerajaan Austria-Hongaria dibubarkan.

Asia dan Afrika

Pada peringatan PD I kali ini Belgia berusaha meluruskan sejarah kontribusi negara-negara jajahan Eropa di Asia dan Afrika selama PD I. Lebih dari satu juta orang dari negara-negara jajahan bersedia angkat senjata membantu Perancis, Inggris, AS, Belgia, Kanada, Australia, dan negara lain di Front Barat dengan imbalan kemerdekaan.

Lebih dari 100.000 tewas di medan pertempuran. Namun, pengorbanan mereka tidak diingat, bahkan tidak disinggung dalam buku-buku sejarah. Usai perang, mereka pun terlupakan. Janji-janji kemerdekaan tidak juga dipenuhi. Pengkhianatan Eropa itu yang menjadi bibit gerakan kemerdekaan yang lantas mengakhiri zaman penjajahan.

”Peran Asia dan Afrika sangat penting bagi Sekutu selama peperangan. Setelah perang berakhir, bantuan mereka tidak dianggap. Era penjajahan mulai rontok pasca-PD II karena makin banyak yang kecewa dan merasa terhina,” kata Kepala Museum In Flanders Fields di kota Ypres, Piet Chielens.

Meski telah berjasa, pasukan negara jajahan lebih banyak mengalami diskriminasi, terutama dalam hal pemberian upah dan struktur kepemimpinan. Hanya warga Eropa yang boleh memegang komando dan menduduki posisi penting. Pasukan dibiarkan tidak terlatih dan dibekali perlengkapan yang tidak memadai. Wajar jika kemudian ada dendam yang tersimpan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.