Mega Pantun Sindiran Tifatul

Kompas.com - 04/08/2008, 19:33 WIB
Editor

BANDUNG, SENIN - Menanggapi serangan balik terhadap wacana calon presiden muda yang diusungnya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera atau PKS Tifatul Sembiring membuat pantun. Dia melihat calon presiden yang muncul belakangan ini baru sebatas tebar pesona, belum mempunyai rumusan solusi permasalahan bangsa.

"Pantun ini untuk merespons semua capres. Ya, sekadar hiburanlah he he he. Judulnya Mega Pantun. Teman-teman wartawan, judulnya jangan dibalik menjadi Pantun Mega," kata Tifatul sebelum membacakan pantun tersebut dalam acara kampanye menjelang pemilihan wali kota Bandung di Lapangan Gasibu, Bandung, Senin (4/8). Tifatul hadir sebagai salah satu juru kampanye bagi pasangan yang diusung PKS, Taufikurahman dan Abu Syauqi (Trendi).

Mega Pantun itu berbunyi,

Anak balita bertopi merah
Topi terbuat dari bahan katun
Daripada ibu jadi pemarah
lebih baik kita berbalas pantun

Jadi pemimpin mesti telaten
Sambangi rakyat yang tak berbaju
Kalau ibu nak jadi presiden
Monggo kerso silakan maju

Buat apa pergi ke seberang
Airnya susut banyak berbatu
Buat apa melarang orang
Dah terbayang kursi RI satu

Banyak pejabat terlibat korupsi
Setelah empuk duduk di kursi
Ini bukan sekadar masalah ambisi
Rakyat lapar menunggu solusi

Ini bukan sebuah hikayat
Pantun diuntai sekadar hiburan
Kalau ada yang kurang tepat
Bapak dan ibu mohon maafkan

Tifatul mengatakan, semua orang dan parpol bebas mencalonkan presiden sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, untuk perubahan yang lebih baik bagi bangsa, PKS mewacanakan calon presiden yang berusia di bawah 50 tahun. Komentarnya itu sempat dikiritik balik oleh Megawati Soekarnoputri.

"Kami tidak pernah melarang orang tua menjadi presiden. Kami tidak pernah melarang perempuan menjadi presiden. Kami tidak pernah melarang perempuan tua menjadi presiden. Kami tidak pernah melarang laki-laki tua menjadi presiden," kata Tifatul.

Menurut Tifatul, belakangan ini muncul banyak figur yang berminat menjadi presiden. Akan tetapi, mereka hanya tebar pesona atau beriklan di televisi. Mereka belum berbicara secara substantif. Mereka belum memberikan jalan untuk menyelesaikan masalah bangsa.

"PKS sendiri, kata Tifatul, belum memutuskan figur yang akan diusung menjadi presiden. Alasannya, Majelis Syuro PKS masih menunggu survei dan aspek lain sebagai pertimbangan. Akhir bulan Agustus ini mestinya Majelis Syuro sudah membahas soal calon presiden," ujarnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X