Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tentukan Pilihanmu
0 hari menuju
Pemilu 2024

Makanan Alkali

Kompas.com - 23/06/2008, 09:48 WIB
Editor

Kunjungan terakhir saya ke Bali minggu lalu menghasilkan satu "penemuan" baru. Jane Chen, seorang teman yang multibakat, memperkenalkan saya kepada makanan alkali (alkaline foods). Gara-gara teman dekatnya menderita kanker parah, Jane jadi mengenal konsep makanan alkali. “Kapan-kapan kalau ke Bali saya masakin makanan alkali,” janjinya.
Jane memenuhi janjinya ketika saya singgah di rumahnya di Canggu yang tampaknya tidak akan pernah selesai dibangun saking besarnya. Karena waktu yang sangat singkat, Jane hanya membuatkan sup sayur dan tumis kembang kol yang memenuhi standar makanan alkali.

Pada dasarnya, sel-sel sehat tubuh kita bersifat alkali (basa). Semakin asam (acidic) sel-sel itu, kita akan menjadi semakin sakit. Tubuh kita menghasilkan asam sebagai hasil sampingan dari metabolisme normal. Karena tubuh tidak memproduksi alkali, maka kebutuhan akan alkali harus dipasok dari luar. Prinsipnya, agar kita sehat, makanan yang kita konsumsi harus terdiri atas 80 persen alkali dan 20 persen asam.

Khususnya bagi penderita kanker pada stadium awal, mengonsumsi makanan alkali secara ketat berpotensi mujarab untuk menyembuhkan mereka. Secara umum diketahui bahwa dalam keadaan normal, tubuh kita bersifat alkali dengan pH 7,4. Dalam keseimbangan ini, proses kimia tubuh berjalan lancar dan semua kotoran yang ditimbulkan oleh proses ini dapat dengan cepat dilenyapkan.

Tetapi, bila kita terlalu banyak makan makanan asam, maka darah dan tubuh kita pun akan menjadi asam. Akibatnya, hati, limpa, jantung, dan ginjal harus bekerja lebih keras untuk membersihkan darah. Inilah yang mengakibatkan tubuh kita menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit. Padahal, selama ini kita terlalu cepat menuding virus sebagai penyebab semua sakit yang kita derita.

Sampah beracun yang tidak dapat dikeluarkan biasanya mengumpul di persendian, menyebabkan rematik dan gout (penyakit karena asam urat). Bisa juga keluar melalui kulit menjadi jerawat, eksim, bisul, dan lain-lain. Lebih serius lagi, kondisi keasaman darah dan tubuh juga menjadi penyebab berbagai penyakit seperti darah tinggi, wasir, jantung, kanker, dan sebagainya. 

Makanan alkali juga identik dengan makanan tanpa daging. Soalnya, daging, ikan, dan telur bersifat asam. Makanan dan minuman yang mengandung asam antara lain teh, kopi, alkohol, sambal, acar, bumbu, cuka, rempah-rempah, padi-padian (khususnya yang diputihkan atau tepung yang dihaluskan), bawang putih, jamu, minyak, lemak, dan makanan yang mengandung banyak gula.

Makanan alkali yang perlu ditingkatkan jumlahnya dalam diet kita adalah hampir semua sayuran (khususnya yang berdaun hijau), susu, mentega (khususnya ghee dan butter milk), madu, buah, dan sari buah–terutama buah yang mengandung banyak air seperti pepaya, apel, nenas, tomat, dan pisang.

Nasi yang cocok bagi mereka yang menjalani diet alkali adalah nasi merah atau brown rice. Bila tidak tersedia beras merah, bisa dibuat dari beras putih organik yang dimasak dengan kaldu sayur. Kaldu sayur ini dibuat dengan merebus wortel dan seledri dalam waktu lama, sehingga semua sari patinya diserap oleh air rebusan. Penggunaan kaldu sayur mirip demi glace (brown stock yang dibuat dari daging dan tulang sapi) yang banyak dipakai dalam memasak.

Sup sayur yang dibuat Jane sangat mirip gazpacho–sup dingin dari Spanyol. Bahan utamanya adalah bayam, alpokat, paprika, seledri, dicampur dengan kaldu sayur dan sedikit bumbu. Untuk memperkaya teksturnya, Jane memasukkan segenggam kacang almond ke dalam campuran sup. Semuanya kemudian di-blender. Sentuhan akhirnya adalah perasan lemon.

Lho, bukankah lemon itu asam? Ternyata itu adalah salah kaprah. Hanya karena rasanya asam tidak berarti lemon bersifat asam. Kalau kita minum sari lemon, cairan itu akan teroksidasi menjadi air, karbon dioksida, dan berbagai komponen anorganik yang bersifat alkali. Karena itu, lemon adalah salah satu jenis jeruk (citrus) yang bersifat alkali. Demikian pula halnya dengan berbagai jenis buah yang sekalipun rasanya asam–seperti nenas, jeruk, dan anggur–tetapi bersifat alkali.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Oke