Salin Artikel

Menangkal Islamofobia: Refleksi atas Kasus di India dan Eropa

Islamofobia didefinisikan sebagai sebuah perasaan ketakutan atau pun kebencian terhadap Islam, orang-orang Islam (muslim), maupun budaya keislaman. Meskipun definisi islamofobia masih diperdebatkan banyak ahli, tetapi semuanya mengerucut pada kesamaan tentang munculnya sebuah ideologi ketakutan yang irasional (irrational fear) terhadap Islam.

Istilah islamofobia pertama kali muncul dalam sebuah tulisan berjudul L’Orient vu del’Occident karya Etienne Dinet, seorang orientalis Eropa. Tahun 1990-an, islamofobia menjadi istilah umum yang paling sering digunakan untuk menjelaskan fenomena perilaku diskriminatif yang diterima komunitas muslim di Eropa Barat.

Dari perasaan ketakutan terhadap Islam inilah muncul persepsi bahwa setiap penganut agama merupakan seorang yang fanatik, dan mempunyai tendensi untuk melakukan kekerasan terhadap orang-orang non-Islam. Persepsi ini juga meyakini bahwa Islam menolak nilai-nilai kesetaraan, toleransi, atau pun demokrasi karena demokrasi dianggap sebagai produk dari ideologi Barat.

Fenomena di India dan Eropa

Saat ini, fenomena islamofobia kian terasa di kawasan Asia Selatan, tepatnya di India. Dalam kejadian beberapa waktu belakangan ini, minoritas muslim di India menyampaikan berbagai protes dan kecaman atas pernyataan pejabat pemerintahnya yang dianggap merepresentasikan islamofobia.

Naveen Jindal dan Nupur Sharma, anggota Bharatiya Janata Party (BJP), sebuah partai politik beraliran nasionalis konservatif di India, diberhentikan dari keanggotaannya di partai itu karena pernyataanya yang menghina Nabi Muhammad dan istrinya. Kedua anggota partai tersebut, yang merupakan partai pengusung Perdana Menteri India Narendra Modi, menduduki posisi kepala bagian media dan juru bicara nasional BJP.

Meski pemerintah India dan BJP telah mengeluarkan pernyataan yang tidak membenarkan tindakan kedua anggota partai tersebut, islamofobia telah menjadi bagian sentral dari kampanye ideologi negara dan partai berfaksi nasionalis Hindu di India tersebut. Pemeritahan Modi telah berhasil mem-framing kesan Islam yang brutal dan kejam demi menyukseskan kampanye mereka. Pemerintah India seperti percaya bahwa hindunisasi akan membawa kembali kemajuan dan kebanggaan atas identitas asli negara tersebut.

Alhasil, negara-negara Arab banyak melayangkan protes kepada pemerintah India atas apa yang menimpa minoritas muslim di negara tersebut.

Di Eropa, islamofobia bukanl hal baru. Fenomena kebencian terhadap Islam di Eropa telah berlangsung lama, sejak abad ke-8 Masehi dan telah berkembang hingga saat ini dalam berbagai bentuk. Dalam sejarah, kebencian terhadap kaum muslim tercatat dalam bentuk Perang Salib (Crusade).

Akan tetapi, gejala islamofobia saat ini jauh lebih kompleks sejak terjadi peristiwa 9/11, yaitu tragedi serangan teroris terhadap gedung WTC pada 11 September 2001 di Amerika Serikat, serta tragedi bom London pada 7 Juli 2005. Kejadian tersebut membangkitkan kembali kecurigaan dan kebencian terhadap Islam di Eropa.

Hal tersebut juga dimanfaatkan partai-partai berhaluan konservatif di negara-negara Eropa untuk menciptakan iklim prasangka buruk terhadap berbagai komunitas Islam di dunia. Salah satu efek bersifat diplomatif yang terjadi akibat fenomena ini adalah kontroversi dan perdebatan saat Turki, negara mayoritas muslim di Eropa, mengajukan keanggotaan penuh untuk masuk Uni Eropa tetapi gagal hingga pembahasannya ditutup tahun 2016.

Tidak menutup kemungkinan, fenomena islamofobia juga akan merambat ke berbagai negara, bahkan di negara mayoritas muslim. Prasangka buruk itu selain akan berpengaruh negatif terhadap masyarakat Islam di dunia, juga akan menimbulkan dampak buruk pada hubungan bilateral maupun multilateral berbagai negara Islam.

Hal ini juga dapat melahirkan eksklusivisme dan ketidakstabilan politik negara akibat dari bangkitnya konservatisme politik.

Untuk dapat mengangkat isu islamofobia di berbagai forum politik, negara-negara Islam, khususnya Arab harus mengambil bagian untuk berani berbicara lebih. Negara-negara Islam perlu menawarkan sebuah konsep baru kepada dunia di mana islamofobia dapat menimbulkan eksklusivisme antara negara-negara Islam dengan non-Islam, yang sangat bertentangan dengan semangat inklusivisme.

Diharapkan hal ini dapat menimbulkan kesan lebih baik terhadap Islam yang lebih cinta damai di mata dunia. Selain itu, negara-negara Islam harus bersatu dan mulai mempromosikan konsep moderasi, kosmopolitanisme, dan menghargai sesama warga dunia. Tidak dapat dipungkiri, mengesampingkan berbagai hal yang berbau konflik masa lalu memang bukan perkara mudah, khususnya antara negara-negara Arab yang seringkali berkonflik secara fisik maupun ideologis dengan Amerika Serikat dan Eropa.

Namun, untuk mewujudkan inklusivitas dan menghilangkan islamofobia, negara-negara Islam harus mulai banyak berbaur dengan masyarakat dunia. Menghadirkan Islam yang bersatu di tengah-tengah masyarakat yang kosmopolitan dapat mengurangi kecenderungan prasangka buruk.

Salah satu contoh konkret adalah perlunya diaspora negara-negara Islam di suatu negara, khususnya negara mayoritas non-muslim seperti di Eropa mempromosikan Islam yang moderat dan menghargai perbedaan. Dengan cara inilah, pemahaman warga non-muslim di berbagai negara terkait Islam sebagai agama yang tidak inklusif dapat berubah dengan baik.

Terakhir, dalam praktik berpolitik dan bernegara, perlu ditekankan untuk menghilangkan segala macam bentuk diskriminasi terhadap suatu golongan, etnis, ras, maupun kelompok agama tertentu. Kasus yang terjadi di India dapat kita refleksikan sebagai suatu bentuk diskriminasi terhadap golongan agama tertentu.

Karena itu, sudah selayaknya kesetaraan perlu dijunjung tinggi dalam berpolitik. Persamaan kedudukan manusia di dalam berpolitik dan bernegara tanpa melihat latarbelakang etnis, ras, dan agama dapat mengurangi friksi dan ketegangan yang diakibatkan oleh pernyataan-pernyataan yang menimbulkan perpecahan. Friksi internal negara, dalam kasus India, nyatanya tidak hanya dapat melahirkan instabilitas politik, tetapi juga kecaman yang datang dari negara lain.

https://internasional.kompas.com/read/2022/07/02/15315071/menangkal-islamofobia-refleksi-atas-kasus-di-india-dan-eropa

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.