Salin Artikel

Kisah Perang: Invasi Soviet ke Afghanistan yang Berujung Lahirnya Taliban

Invasi Uni Soviet ke Afghanistan berlangsung selama 10 tahun, mulai 1979 dan berakhir 1989.

Tujuan invasi Uni Soviet ke Afghanistan adalah untuk memberesi kekacauan pemerintahan, karena saat itu kedua negara sedang bermitra.

Dikutip dari BBC Indonesia, pada akhir 1970-an pasukan Uni Soviet menyerbu Afghanistan untuk mendukung pemerintahan berhaluan komunis.

Hubungan kedua negara sebenarnya baik. Pada 1921, Soviet dan Afghanistan menandatangani Treaty of Friendship agar sama-sama berposisi setara dan netral.

Perjanjian itu juga mengatur agar tidak ada agresi militer satu sama lain dan berlaku 10 tahun. Treaty of Friendship terakhir kali diperpanjang pada 1975.

Namun, mengutip Kompas.com pada 3 Januari 2019, tahun 1973 di Afghanistan terjadi kudeta yang menggulingkan monarki dan menjadi dasar berdirinya Republik Afghanistan.

Pemerintahan baru itu condong kepada Soviet, namun mulai mendapat pertentangan. Akhirnya, lima tahun kemudian, hubungan pemerintahan Mohammed Daoud Khan dengan Soviet merenggang.

Negara itu tak lama setelahnya terseret ke berbagai konflik era Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Soviet. Badan Intelijen Pusat (CIA) lalu mulai membantu kelompok Mujahideen atau Mujahidin.

Dalam buku A Darkling Pain (2015), dikisahkan Taraki kemudian tewas dibunuh perdana menterinya sendiri, Hafizullah Amin, pada Oktober 1979 dengan menyekap mulut dan hidungnya memakai bantal sampai tak bernapas.

Amin lalu menjadi presiden, tetapi karena latar belakang pendidikannya yang pernah sekolah di "Negeri Paman Sam", Soviet tidak percaya kepadanya.

Jalannya invasi Uni Soviet ke Afghanistan

Soviet dilaporkan beberapa kali mencoba membunuh Amin, tetapi selalu gagal. Mereka akhirnya melancarkan invasi pada malam 24 Desember 1979.

Tujuan invasi Uni Soviet ke Afghanistan kala itu, mereka perlu memberesi situasi di Afghanistan yang merupakan negara mitra.

History menjabarkan, Soviet mengorganisir pengangkutan udara militer besar-besaran ke Kabul yang melibatkan sekitar 280 pesawat angkut, dan tiga divisi dengan masing-masing beranggota 8.500 orang.

Pada 27 Desember, Babrak Karmal, pemimpin faksi Parcham dari Partai Demokratik Rakyat Afghanistan (PDPA) yang diasingkan, dilantik sebagai kepala pemerintahan baru Afghanistan. Pasukan darat Soviet kemudian memasuki Afghanistan dari utara.

Namun, dikutip dari BBC Indonesia, Soviet mendapat perlawanan sengit dari kelompok bersenjata Mujahidin yang didukung AS, Pakistan, China, Arab Saudi, dan beberapa negara lain.

Mujahidin menggunakan taktik gerilya melawan Soviet. Mereka menyerang cepat lalu menghilang ke pegunungan, menyebabkan kehancuran besar tanpa pertempuran sengit.

Anggota Mujahidin menggunakan senjata apa pun yang bisa mereka ambil dari Soviet atau yang diberikan oleh AS.

Pesawat-pesawat dan sejumlah helikopter Soviet pun berjatuhan kena tembak. Sekitar 15.000 tentara Soviet tewas dalam Perang Afghanistan.

Pemimpin Soviet yang baru, Mikhail Gorbachev, lalu memutuskan penarikan pasukan pada 1989.

Setahun sebelumnya pasukan Soviet sudah mundur teratur, karena demoralisasi dan memprediksi tak akan bisa menang.

Munculnya Taliban

Penarikan mundur pasukan Soviet dari Afghanistan memicu lahirnya Taliban, yang dalam bahasa Pashto berarti "pelajar".

Hal ini merujuk pada anggota kelompok yang pernah belajar di bawah Mullah Omar, salah satu pendiri Taliban dan komandan pasukan Mujahidin yang mendorong Uni Soviet keluar dari Afghanistan pada 1989.

Melansir iNews.co.uk, Taliban juga merupakan transformasi dari Mujahidin yang dilatih dan dipersenjatai oleh CIA, serta badan intel militer Pakistan yaitu inter-Services Intelligence (ISI).

Taliban awalnya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan pengaruhnya mulai terasa pada musim gugur 1994.

Janji Taliban di wilayah-wilayah kediaman warga Pashtun, yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan, adalah memulihkan perdamaian dan keamanan jika mereka berkuasa.

Penduduk Afghanistan yang lelah dengan perang saudara setelah penarikan Soviet, umumnya menyambut Taliban saat muncul sebagai penguasa.

Namun, di sisi lain, Taliban melarang televisi, musik, dan bioskop, melarang anak perempuan berusia 10 tahun lebih ke sekolah, dan memaksa perempuan mengenakan burka.

Taliban juga memberlakukan atau mendukung hukum keras, seperti eksekusi di depan umum untuk kasus pembunuhan dan perzinahan, serta potong tangan bagi para pencuri.

Kejatuhan Taliban dimulai ketika terungkap melindungi pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, yang menjadi dalang aksi teror tragedi 9/11.

Invasi Amerika ke Afghanistan berhasil membunuh bin Laden memukul mundur Taliban, sebelum bangkit lagi sekarang setelah AS dan negara asing lainnya menarik pasukan.

Sementara itu di Soviet, dampak dari kekalahan Perang Afghanistan sangat besar dan panjang.

Soviet tidak pernah pulih dari hubungan masyarakat dan kerugian finansial, yang secara signifikan berkontribusi pada jatuhnya kekaisaran mereka pada 1991.

Uni Soviet lalu pecah dengan banyak wilayahnya memerdekakan diri, dan Rusia menjadi entitas negara tersendiri.

Sumber: Kompas.com (Penulis: Ardi Priyatno Utomo | Ardi Priyatno Utomo)

https://internasional.kompas.com/read/2021/08/17/181102670/kisah-perang-invasi-soviet-ke-afghanistan-yang-berujung-lahirnya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.