Salin Artikel

8 Catatan Sejarah dari Secangkir Kopi, dari Ethiopia hingga Eropa

KOMPAS.com - Kopi yang telah menjadi bagian dari gaya hidup manusia modern kini, memiliki catatan sejarah panjang dari berabad-abad silam.

Diyakini sekitar berabad lalu, kopi ditemukan pertama kali di Ethiopia, kemudian dalam perkembangannya kopi mulai populer di Timur Tengah pada abad ke-16.

Lalu, pada abad ke-17, kopi menghiasi kisah revolusi sosial di Inggris.

Melansir History Extra, berikut 8 fakta menarik tentang kopi yang membudaya hingga kini:

1. Kambing energik

Alkisah pada abad ke-9, penggembala kambing bernama Kaldi dari Ethiopia menemukan kambingnya tiba-tiba menjadi energik, setelah mengunyah buah seperti beri dari sebuah tanaman.

Kaldi kemudian melaporkan keanehan yang ia lihat saat seorang diri mengembala kambing, kepada biarawan setempat tentang hal itu.

Kemudian, biarawan mendapatkan ide untuk mengeringkan dan merebus buah itu untuk dibuat minuman.

Dia melemparkan buah beri itu ke dalam api, aroma harum keluar, yang kini kita kenal sebagai aroma kopi.

Biarawan dan para biksu mendapatkan bahwa minuman itu membuat mereka terjaga selama berjam-jam. Hal itu dianggap cocok untuk para pria yang mengabdikan diri untuk berdoa berjam-jam.

Kabar tentang kambing energik Kaldi, tanaman ajaib, dan minuman panas ajaib itu kemudian menyebar dengan cepat hingga ke jazirah Arab.

Namun, di tanah berbeda dari negeri Yaman, terdapat juga kisah berbeda tentang penemuan kopi.

Seorang sufi Yaman bernama Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili disebutkan juga telah melihat seekor burung memakan buah seperti beri terbang di atas desanya dengan sangat energik.

Penasaran, ia kemudian mencicipi beberapa buah beri itu dan dia mendapati dirinya memiliki energi lebih.

2. Kopi dari Mocha

Cerita lainnya tentang keajaiban kopi dari Yaman, muncul juga dari seorang syekh bernama Omar, murid dari sufi Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili.

Menurut cerita, Omar dikenal karena dapat membantu menyembuhkan orang sakit melalui doa.

Saat berada di pengasingannya dari Mocha ke gua gurun dekat Ousab, Omar tak sengaja menemukan buah kopi ketika sedang lapar.

Ketika itu dia mengunyah beberapa buah seperti beri itu, yang mendapati rasanya pahit.

Lalu,ia mencoba untuk memanggangnya, tetapi hanya membuat buah itu keras saja.

Akhirnya, ia mencoba untuk merebusnya, menghasilkan cairan coklat harum dan dalam sekejab memberinya energi lebih, yang membuatnya tetap terjaga selama berhari-hari.

Penemuan yang disyukurinya, disampaikannya ke Mocha. Sehingga, ia diminta untuk kembali ke Mocha dan budaya minum kopi menyebar ke seluruh dunia Arab.

Pada abad ke-16, kopi adalah minuman pilihan di Persia, Mesir, Suriah dan Turki. Reputasinya sebagai "anggur Araby" tidak pernah berhenti oleh ribuan peziarah yang mengunjungi kota suci Mekkah setiap tahun dari seluruh umat Muslim di dunia.

Pedagang Yaman membawa pulang kopi dari Ethiopia dan mulai menanamnya sendiri.

Minuman itu dihargai oleh para sufi di Yaman yang menggunakan minuman tersebut untuk membantu berkonsentrasi dan sebagai minuman spiritual. Mereka juga menggunakannya untuk dapat terjaga selama renungan malam hari.

Dari Timur Tengah popularitas kopi segera menyebar ke seluruh Balkan, Italia, dan ke seluruh Eropa, juga ke timur di Indonesia dan kemudian ke barat di Amerika, sebagian besar melalui Belanda.

3. Kopi dalam revolusi sosial

Sejak kopi dikenal luas pada abad ke-16, kedai kopi juga mulai muncul segera dan populer, menjadi tempat favorit bersosialisasi.

Minum kopi dan percakapan dilengkapi dengan segala macam hiburan, mulai dari pertunjukan musik, menari, permainan catur, dan yang paling penting adalah menjalin percakapan segala jenis, ada yang bergosip, berdebat atau mendiskusikan soal berita.

Kedai kopi ini segera dikenal sebagai "sekolah orang bijak", tempat yang dikunjungi, jika ingin tahu apa yang sedang terjadi di dunia.

Hubungan antara kopi dan kehidupan intelektual saat itu telah terjalin.

4. Minuman berdosa

Diceritakan menurut catatan sejarah History Extra, sekitar 1500-an, keberadaan kopi sempat diperdebatkan. Apakah kemungkinan itu adalah minuman yang mengundang dosa?

Pada 1511, dipimpin oleh Gubernur Mekkah saat itu, Khair Beg, muncul aturan bahwa minum kopi dilarang.

Alasannya, budaya minum kopi mendorong orang-orang menjadi pemberontak pemerintah dengan terjadinya diskusi tentang kegagalan kepemimpinan seorang pejabat.

Sehingga, lahirlah asosiasi kopi dengan hasutan dan revolusi, yang memutuskan minum kopi adalah berdosa (haraam). Kontroversi itu masih berlanjut selama 13 tahun kemudian.

Akhirnya pada 1524, larangan itu dicabut atas perintah Sultan Turki Utsmaniyah Selim I dengan Mufti Besar Mehmet Ebussuud el-?madi mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan kopi diminum kembali.

Sementara Khair Beg yang terlibat suatu masalah yang berbeda, mendapatkan hukuman atas perintah Sultan.

Di Kairo ada larangan serupa pada 1532. Saat itu, kedai kopi dan gudang kopi di sana digeledah.

5. Minuman iblis

Kopi dikenalkan ke daratan Eropa pertama kali melalui perdagangan di Venesia yang menguntungkan dan dinikmati kota dengan tetangga Mediterania-nya.

Namun, kedatangan kopi di Eropa oleh bangsa Timur Tengah dan Turki sempat mendapatkan prasangka pada zaman itu.

Minuman misterius, eksotik, dan berenergi, dinggap mencurigakan oleh masyatrakat Eropa yang saat itu mayoritas Katolik, menyebutnya adalah "penemuan pahit dari iblis".

Kontroversi yang berkembang saat itu, medorong Paus Klemens VIII turun tangan untuk membuktikan dan menengahi berdebatan.

Dia mencicipi kopi untuk dirinya sendiri dan menyatakan bahwa itu benar-benar minuman semua agama.

Saat mencicipinya, dia dengan cerdik menyatakan, "Minuman iblis ini sangat enak...kita harus menipu iblis dengan membaptisnya!" Sejak saat itu, kopi dijuluki sebagai minuman iblis, atau cangkir iblis.

6. Kedai kopi pertama London

Menurut catatan buku harian Samuel Pepys, seorang administrator Angkatan Laut Inggris era sejarah, kedai kopi pertama Inggris didirikan di Oxford pada 1650.

Berdiri di The Angel di paroki St Peter di timur, oleh seorang pria Yahudi bernama Jacob, di gedung yang sekarang dikenal sebagai The Grand Cafe.

Sementara, kedai kopi pertama London dibuka pada 1652 di St Michael's Alley, dekat St Michael di halaman gereja Cornhill.

Dijalankan oleh Pasqua Rosée, seorang pria Yunani yang pada 1672 juga mendirikan sebuah kedai kopi di Paris.

Pepys mengunjungi kedai kopi London pada 10 Desember 1660, “Dia (Col. Slingsby) dan saya pada malam hari ke Kedai Kopi di Cornhill, pertama kalinya saya berada di sana, dan saya menemukan banyak kesenangan di dalamnya, melalui beragam teman dan bahasan.”

7. Kedai kopi sumber pertukaran informasi

Bagi Pepys dan pria terpelajar lainnya zaman itu, kedai kopi adalah korannya atau internetnya.

Dalam buku hariannya, menceritakan bahwa di kedai kopi ia akan menerima berita terbaru tentang konflik dengan Belanda, misalnya, “komet yang terlihat di beberapa tempat” pada 15 Desember 1664, dan “ancaman wabah yang berkembang dan solusi untuk melawannya” pada 24 Mei 1665.

Pada 3 November 1663, Pepys menceritakan bahwa budaya ngopi di kedai kopi kala itu diselingi diskusi lebih tentang beragam Kekaisaran Romawi, perbedaan antara terjaga dan bermimpi, dan gagasan tentang serangga.

Pada 1675 ada lebih dari 3.000 kedai kopi di Inggris saja. Beberapa bahkan memiliki tempat tidur dan menu sarapan untuk tamu yang bermalam.

8. Petisi wanita melawan kopi

Pada era 1690-an, para wanita sempat geram dengan berkembangnya kedai kopi dan budaya "ngopi" kala itu. Berbanding terbalik dengan para pria, para wanita cenderung merasakan dampak buruk dari berkembangnya kedai kopi. 

Sebuah esai "Defense of the Female Sex", pada 1696, Mary Astell menulis dengan amarah, tentang suaminya yang seringkali menghabiskan waktu ngopi di kedai kopi, mengobrol banyak hal tentang kepentingan publik, tapi lupa tentang keluarganya sendiri.

Hal serupa dikatakannya juga dirasakan oleh para wanita lainnya yang hanya bisa tertahan di rumah untuk mengurus rumah dan keluarga, selama para suami menyibukaan diri di luar sana.

Astell bercerita ia hanya mengobrol dengan semua istri lain yang tinggal di rumah dengan tugas dan cangkir teh mereka.

Pada 1674, ada petisi pedas "The Women's Petition Against Coffee", di mana para istri berargumen bahwa suami mereka selalu absen dari pekerjaan rumah dan keluarga, mengabaikan tugas-tugas rumah tangga mereka.

Alasannya, semata-mata hanya untuk menikmati "secangkir kecil minuman hitam pekat, yang menjijikan, pahit, dan berbau busuk".

Dalam kritikan para kaum wanit asaat itu juga menyinggung masalah "efek samping" dari hubungan intim dengan suami mereka.

Kopi, katanya, "membuat manusia tidak berbuah seperti gurun, di mana buah beri yang tidak bahagia dibawa, sehingga keturunan nenek moyang kita yang perkasa akan menyusut menjadi serangkaian kera dan babi".

https://internasional.kompas.com/read/2021/04/23/140929570/8-catatan-sejarah-dari-secangkir-kopi-dari-ethiopia-hingga-eropa

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.