Salin Artikel

Kisah Perang: Sejarah Penaklukan Konstantinopel oleh Turki Ottoman

Penaklukan Konstantinopel dilakukan Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Muhammad Al Fatih atau Sultan Mehmed II, dengan mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur.

Konstantinopel dulu merupakan kota paling penting di dunia pada abad pertengahan, karena letak strategisnya dalam perekonomian maupun politik dunia.

Konstantinopel yang terletak di antara benua Asia dan Eropa serta dibelah Selat Bosportus, juga menjadi ibu kota Byzantium Romawi Timur sejak 324 M sampai awal abad ke-15 Masehi.

Awal mula sejarah penaklukan Konstantinopel

Dr Yoyo, Ketua Pusat Kajian Timur Tengah Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, bercerita bahwa Konstantinopel sudah diprediksi takluk oleh Nabi Muhammad SAW saat dikepung orang-orang Quraisy di Perang Khandaq.

"Konon ketika Nabi membelah batu kemudian ada percikan lalu menyampaikan, suatu saat nanti Romawi akan kalah," imbuhnya.

Kemudian sejak zaman khulafaur rasyidin, para penerus Nabi seperti Daulah Umayyah, Daulah Abasiyah, dinasti Mamalik, dan termasuk Mehmed II semua berambisi menaklukkan Romawi.

"Tetapi itu baru tercapai pada masa kekuasaan Turki Utsmani, yaitu pada masa pemerintahan Muhammad Al Fatih, atau Mehmed Isani kalau dalam bahasa Turki."

"Bentuk kekuasaan Islam terakhir dalam bentuk kerajaan atau monarki ataupun daulah itu adalah daulah Utsmaniyah, atau Ottoman Empire sering disebutnya dalam bahasa Inggris," terang Yoyo saat dihubungi Kompas.com pada Minggu (18/4/2021).

Sultan Mehmed II, sosok di balik penaklukan Konstantinopel

Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad Al Fatih merupakan sultan ketujuh dari Turki Utsmani dan usianya sangat muda.

Ia lahir pada 30 Maret 1432 dan wafat 3 Mei 1481. Mehmed II mulai berkuasa pada 1451 ketika umurnya baru akan beranjak 20 tahun.

"Kemudian di tahun 1453 dua tahun setelah berkuasa mampu menaklukkan Konstantinopel."

"Itu luar biasa. Satu achievement yang luar biasa bagaimana seorang panglima muda mampu mengalahkan satu kekaisaran yang hampir 500 tahun lamanya berjalan," cerita Yoyo.

Mengutip artikel Kompas.com pada 24 November 2020, ada tiga latar belakang penaklukan Konstantinopel.

Kenapa Romawi sulit ditaklukkan di Konstantinopel?

Dr Yoyo menerangkan, Konstantinopel memiliki benteng pertahanan yang sangat kuat sampai tiga lapis, sehingga saat itu hampir tidak mungkin ditembus.

Namun Mehmed II tidak kehilangan akal. Ia menyusun strategi untuk bisa membongkar pertahanan Konstantinopel. Berikut adalah empat caranya.

1. Mempersiapkan persenjataan yang sangat lengkap, utamanya meriam yang diperkirakan bisa merobek dinding-dinding pertahanan Konstantinopel

"Konon dia mengundang beberapa ahli beberapa pakar persenjataan, yang kemudian mampu menciptakan meriam, yang untuk waktu itu adalah meriam dengan ukuran terbesar yang ada pada zamannya," urai Yoyo.

Untuk menyiapkan armada di jalur laut yang dikuasai Romawi, Mehmed II menyelundupkannya lewat darat. Caranya dengan pembalakan hutan lalu perahu-perahu itu dibawanya lewat darat sampai tembus ke laut.

3. Tentara yang direkrut Muhammad Al Fatih dilatih sejak kecil

Yoyo bercerita, pasukan yang dia rekrut adalah tentara-tentara terlatih sejak kecil.

"Jadi ada kontrak dengan orangtua. Anak-anak itu dikumpulkan dari berbagai daerah, direkrut, kemudian orangtuanya diberi hak-hak sebagai imbalan karena anaknya menjadi tentara."

4. Diplomasi atau pendekatan dulu dengan negara-negara di sekitarnya

"Dia minta saat penyerangan itu kita berdamai, agar dia fokus hanya menyerang Konstantinopel, menyerang Romawi Timur, tidak yang lainnya. Jadi dia tidak terpecah konsentrasinya."

Penaklukan Konstantinopel dimulai 6 April 1453 dengan pasukan Utsmani yang berjumlah 150.000 tentara.

Setelah dikepung hampir 50 hari, Konstantinopel akhirnya takluk pada 29 Mei 1453.

"Ketika dikuasainya jalur armada itu, maka secara internasional semakin memperluas jalur yang dimiliki daulah Turki Utsmani."

Capaian itu pun dikatakan sebagai The Great Achievement dalam sejarah Pemerintahan Islam.

Penaklukan Kontantinopel juga berarti akhir dari kekuasaan Romawi Timur dan akhir abad pertengahan Eropa, untuk kemudian masuk ke era modern.

Sumber: KOMPAS.com (Penulis: Gama Prabowo | Editor: Serafica Gischa)

https://internasional.kompas.com/read/2021/04/20/160000170/kisah-perang-sejarah-penaklukan-konstantinopel-oleh-turki-ottoman

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.