Salin Artikel

Kisah Sedih Quaden Bayles, Anak Korban Bully yang Menangis Histeris

SYDNEY, KOMPAS.com - Quaden Bayles (9) menangis histeris di dalam mobil saat sang ibu menjemputnya dari sekolah. 

"Give me a rope, I want to kill my self," ungkap bocah itu dalam sebuah video yang diunggah sang ibu di facebook.

Quaden Bayles mengungkapkan keinginannya untuk mati (bunuh diri). Dia berkali-kali meminta kepada sang ibu untuk memberikan tali agar dia bunuh diri, pisau agar dia bisa menusuknya tepat di jantungnya dan dia juga menangis ketika mengatakan, "aku ingin seseorang membunuhku..."

Sang ibu, Yarraka Bayles sengaja mengunggah video tersebut agar para orangtua bisa mendidik anak-anak mereka untuk tidak melakukan perundungan. 

"Lihat, inilah akibat dari perundungan." Ungkap sang ibu yang sudah tidak tahu hendak berbuat apa. 

Pada lima menit awal video, Bayles mengatakan, "Saya baru saja menjemput anak saya dari sekolah. Dia kerap mendapatkan perundungan terus menerus, saya telah menghubungi kepala sekolah dan saya ingin orang-orang tahu inilah akibat dari perundungan. Inilah yang dilakukan para pelaku perundungan."

Yarraka juga meminta para orangtua melalui videonya, "Saya harap Anda (para orangtua) mampu mengedukasi anak-anak Anda, keluarga dan kawan-kawan Anda karena itu yang dibutuhkan...dan Anda akan bertanya-tanya mengapa banyak anak ingin bunuh diri..."

Selama ini Yarraka Bayles selalu menyimpan tangis sang anak sebagai suatu hal yang bersifat privasi. Namun kali ini dia memutuskan untuk membagikannya kepada publik agar perilaku bully tidak lagi terjadi.

Quaden Bayles kerap mendapatkan perundungan karena kondisi dwarfisme yang dialaminya. Dwarfisme, merupakan suatu kelainan yang dialami seseorang sehingga tinggi badannya berada di bawah rata-rata ukuran manusia lain.

Bukan Pertama Kali

Meski begitu, ini bukan kali pertama Yarraka Bayles mendapat hinaan tentang anaknya. Sebelumnya, seperti dilansir dari Daily Mail Australia pada 2015, Bayles mengunggah video Quaden saat sedang melakukan berbagai ekspresi dan mimik wajah di depan cermin di sebuah Rumah Sakit di Brisbane, Australia.

Video itu kemudian banjir dengan beberapa hinaan terkait kondisi anaknya. Komentar pertama berbunyi, "Jelek sekali anak itu." Tak lama disusul pula komentar cemooh lain seperti, "Lihat si cebol itu.", "Itu anak korban obat-obatan."

Bahkan ada seseorang yang tega mengatakan, "Itulah yang terjadi jika Anda mengonsumsi obat-obatan (psikotropika) saat hamil".

Hal itu cukup membuat Bayles terkejut, "Sungguh berlebihan. Saya mengunggah video di laman pribadi saya dan tidak berharap akan diperlakukan sedemikian rupa."

Video itu dibagi beberapa kali dari laman pribadinya dan sejak itu beberapa komen negatif bermunculan.

Kepada media, Yarraka Bayles mengaku membagi video anaknya berekspresi di depan cermin adalah wujud dari rasa bangganya atas pencapaian sang anak sehingga membuatnya ingin untuk berbagi kebahagiaan itu.

"Tidak ada seorang pun yang ingin dengar hal buruk tentang anak mereka atau ketika mereka mengalami perundungan," Ungkap Bayles.

Anda tidak sendiri 

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

https://internasional.kompas.com/read/2020/02/22/06171431/kisah-sedih-quaden-bayles-anak-korban-bully-yang-menangis-histeris

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.