Salin Artikel

Turki "Sandera" Sekitar 50 Senjata Nuklir AS yang Tersimpan di Pangkalan Udara Bersama

Sementara Washington masih berupaya menemukan cara diplomatik untuk menanggapi invasi Turki ke Suriah.

Penarikan pasukan AS dari Suriah utara telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang akhirnya memungkinkan Turki dan milisi pemberontak Suriah untuk menggusur pasukan Kurdi yang menjadi sekutu Washington.

Keputusan penarikan pasukan AS dari Suriah telah menuai kecaman, bahkan dari dalam pemerintahan Presiden Donald Trump.

Meski demikian, Trump tetap meningkatkan oposisinya terhadap langkah invasi yang diumumkan Presiden Recep Tayyip Erdogan, dan mengancam bakal menghancurkan perekonomian Turki.

Kebijakan yang memicu penurunan hubungan antara kedua negara itu telah membuat para pejabat di Washington berupaya menemukan cara untuk mengamankan senjata nuklir AS yang masih tersimpan di pangkalan udara bersama di Incirlik.

Pejabat dari Departemen Luar Negeri dan Departemen Energi, yang mengelola persenjataan nuklir AS, telah bertemu pada akhir pekan lalu untuk mempertimbangkan langkah untuk menarik sekitar 50 senjata nuklir yang diperkirakan masih ada di tempat itu, menurut laporan The New York Times.

Salah seorang pejabat departemen telah mengatakan kepada surat kabar itu bahwa senjata-senjata nuklir tersebut kini secara efektif disandera oleh Erdogan.

"Pemindahan senjata-senjata (nuklir) tersebut dikhawatirkan bisa menjadi penanda berakhirnya hubungan antara sekutu NATO, sementara membiarkannya juga bisa membahayakan senjata pemusnah massal itu," tulis laporan surat kabar tersebut.

Teka-teki tentang langkah terbaik untuk puluhan senjata nuklir AS itu muncul hanya satu bulan usai Erdogan, dalam pidatonya, mengatakan bahwa merupakan hal yang "tidak bisa diterima" bahwa Turki tidak diizinkan memasok senjata sendiri di bawah Perjanjian Nonproliferasi Nuklir yang ditandatangani pada 1980.

Komunikasi telepon antara Trump dengan Ergogan pekan lalu, dan keputusan presiden AS untuk menarik diri dari Suriah usai membersihkan wilayah itu dari ISIS, disebut sebagai momen di luar perkiraaan oleh diplomat Amerika.

Setelah mengumumkan pemindahan pasukan untuk mengakhiri "perang tanpa akhir"di Suriah, Trump telah berulang kali dipaksa meningkatkan retorikanya di Turki, menyerukan gencatan senjata, dan menjatuhkan sanksi kepada para pejabat Ankara.

Namun ancaman dari AS tetap tidak berhasil menghentikan Turki dari melancarkan serangan militer ke Suriah dan sebaliknya semakin bergerak ke wilayah utara negara itu dan mengklaim wilayah serta terus menargetkan milisi Kurdi.

Dalam prosesnya, kelompok Kurdi Suriah telah meninggalkan penjara-penjara dan kamp penampungan yang menahan anggota ISIS, menyebabkan ratusan orang melarikan diri.

Sementara PBB mengatakan, puluhan ribu orang telah dipaksa mengungsi dan meninggalkan kediaman mereka akibat serangan, dengan puluhan lainnya menjadi korban tewas.

https://internasional.kompas.com/read/2019/10/17/18051121/turki-sandera-sekitar-50-senjata-nuklir-as-yang-tersimpan-di-pangkalan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.