Salin Artikel

Hasil Survei Kandidat Capres Demokrat Mengerucut ke Tiga Nama, Siapa Saja?

Walau sampai saat ini masih ada 20 kandidat yang bertarung, namun hasil survei terbaru yang dilakukan CBS bersama lembaga riset YouGov, yang dirilis Minggu (8/9/2019), menunjukkan tiga nama teratas.

Ketiga nama itu mampu meraup dukungan hingga dua digit di empat negara bagian awal yang akan melakukan kaukus dan pemilihan pendahuluan.

Mantan Wakil Presiden Joe Biden diketahui unggul di negara bagian Iowa dengan 29 persen. Sementara Senator Vermont Bernie Sanders mengikuti dengan 26 persen.

Sedangkan di peringkat ketika, Senator Massachusetts Elizabeth Warren mengumpulkan 17 persen dukungan.

Tiga besar nama kandidat ini tidak berubah dalam survei di negara bagian lain, meski terjadi beda urutan peringkat.

Di negara bagian New Hampshire, Warren memimpin dengan 27 persen, disusul Biden 26 persen, dan Sanders dengan 25 persen.

Sementara di Nevada, Sanders memimpin dengan 29 persen, diikuti Biden yang meraih 27 persen dan Warren dengan 18 persen.

Dukungan signifikan diraih Biden di negara bagian South Carolina, di mana dia unggul telak dengan dukungan 43 persen. Sementara Sanders meraih 18 persen dan Warren 14 persen dukungan.

Pesaing terdekat ketiga nama itu adalah Senator California Kamala Harris, Wali Kota South Bend Pete Buttigieg, dan mantan anggota DPR negara bagian Texas Beto O’Rourke.

Meski demikian, tidak ada satupun dari nama-nama itu yang mampu meraih dukungan di atas 10 persen di empat negara bagian krusial itu.

Pemilihan pertama di Iowa baru akan dilangsungkan pada 1 Februari 2020. Namun peta dukungan mulai mengarah ke tiga kandidat tersebut, yang salah satunya diprediksi akan memenangkan tiket capres Demokrat.

Secara keseluruhan dukungan terhadap Warren menunjukan tren peningkatan yang pesat dibanding survei terakhir di bulan Mei. Sementara angka survei Biden dan Sanders tidak berubah banyak.

Biden Masih Favorit, Kenapa?

Persaingan ketat di Iowa dan New Hampshire menunjukkan kuatnya mesin politik Sanders dan Warren yang cenderung mengandalkan relawan akar rumput untuk menggalang suara.

Sementara Biden, walau memiliki tingkat pengenalan tinggi di kedua negara bagian yang didominasi pemilih berkulit putih itu, angka dukungan terhadapnya cenderung stagnan.

Walau demikian, status unggulan Biden masih aman karena tingginya dukungan pemilih kulit hitam atau Afro-Amerika terhadapnya.

Hal itu tak lepas dari pengalaman Biden sebagai wapres yang mendampingi Presiden Afro-Amerika pertama AS, Barack Obama.

Buktinya terlihat dari tidak goyahnya dukungan kuat yang diraih Biden di South Carolina, negara bagian di mana lebih dari 60 persen pemilih Demokrat adalah warga kulit hitam.

Politisi dari negara bagian Delaware itu meraih 41 persen dukungan pemilih Afro-Amerika di South Carolina menurut survei lain oleh Morning Consult.

Angka itu mencengangkan karena adanya dua capres Afro-Amerika lain, yaitu Kamala Harris dan Senator New Jersey Cory Booker di negara bagian itu.

Dukungan yang tinggi terhadap Biden juga terlihat di negara bagian Selatan lain dengan mayoritas pemilih Afro-Amerika seperti Alabama, Arkansas, Georgia, Lousiana, Mississippi, dan Tennessee.

Dukungan Pemilih Minoritas

Mengunci dukungan pemilih berkulit hitam sangat krusial untuk memenangkan tiket capres Demokrat.

Rendahnya dukungan blok pemilih ini terhadap Sanders adalah faktor utama kekalahannya melawan Hillary Clinton di pemilihan pendahuluan Demokrat pada Pilpres 2016.

Masalah yang sama masih harus dihadapi Sanders di pertarungan Pilpres 2020. Pun juga dengan Warren yang kesulitan untuk meningkatkan dukungan pemilih Afro-Amerika terhadapnya.

Rendahnya dukungan pemilih minoritas, seperti Afro-Amerika dan Hispanik, terhadap Sanders dan Warren menjadi alasan muncul keraguan terhadap elektabilitas kedua capres berideologi politik liberal atau progresif ini untuk mengalahkan Trump.

Biden telah berkali-kali menggunakan argumen elektabilitas sebagai alasan mengapa dia adalah sosok yang layak dipilih elektoral Demokrat untuk menantang Trump.

Namun bukan berarti jalan Biden akan mulus. Tetap muncul pertanyaan apakah Partai Demokrat yang secara ideologi semakin bergerak ke kiri akan menominasikan politisi berkulit putih berhaluan politik moderat atau sentris seperti Biden.

Alasan lainnya, usia Biden yang telah mendekati kepala delapan serta blunder-blunder politik yang kerap disampaikannya menimbulkan pertanyaan mengenai kekuatan stamina politik Biden untuk berduel dengan Trump.

Biden yang saat ini berusia 76 tahun akan menjadi presiden tertua dalam sejarah AS jika dia terpilih.

https://internasional.kompas.com/read/2019/09/09/21520671/hasil-survei-kandidat-capres-demokrat-mengerucut-ke-tiga-nama-siapa

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.