Salin Artikel

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Minta Bantuan Taiwan

Hong Kong tengah dilanda krisis politik terburuk dalam beberapa dekade terakhir sejak ratusan warga menggelar aksi demonstrasi turun ke jalan mulai Juni lalu.

Massa pro-demokrasi juga merencanakan unjuk rasa massal menjelang peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China yang akan diperingati pada 1 Oktober mendatang.

Hong Kong, bekas koloni Inggris, kembali ke pemerintah China pada 1997 di bawah aturan "satu negara, dua sistem", yang menjamin kebebasannya.

China juga telah mengusulkan formula yang sama untuk Taiwan, yang dianggap sebagai bagian dari negaranya yang memisahkan diri.

Banyak orang di Taiwan, termasuk Presiden Tsai Ing-wen, yang telah mengawasi Hong Kong dan semakin waspada dengan agenda "penyatuan kembali" Beijing.

"Saya berharap orang-orang dapat saling bertukar pikiran tentang bagaimana menenangkan perang melawan teror putih dan pemerintahan otoriter Beijing ini," ujar Lester Shum, salah satu pemimpin mahasiswa dalam "Gerakan Payung" lima tahun lalu, yang kerap disamakan dengan aksi protes saat ini.

Teror putih merupakan istilah yang digunakan untuk mengekspresikan dan menggambarkan tindakan anonim yang menciptakan iklim ketakutan.

"Rekan-rekan di Taiwan bukan pengamat pergerakan di Hong Kong. Orang-orang Taiwan juga merupakan peserta."

"China pasti ingin mengambil alih Taiwan setelah mereka berhasil menguasai Hong Kong," ujar Shum kepada wartawan di Taipei.

Joshua Wong, salah satu pemimpin pergerakan paling menonjol pada 2014, juga turut menyerukan untuk dilakukannya unjuk rasa massa dalam gerakan pro-demokrasi kali ini.

"Kami berharap Hong Kong suatu hari nanti bisa menjadi seperti Taiwan, sebuah tempat dengan demokrasi dan kebebasan," ujarnya.

Wong, yang sempat ditahan aparat kepolisian akhir pekan lalu dan telah dibebaskan dengan jaminan, dituduh menghasut dan berpartisipasi dalam perkumpulan yang tidak sah di luar markas kepolisian Hong Kong pada 21 Juni.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan pada Selasa (3/9/2019), bahwa pemerintahannya terus mengawasi krisis Hong Kong.

Beijing menuduh Taiwan telah mendukung protes Hong Kong, tuduhan yang dibantah oleh Taipei.

"Seperti halnya komunitas internasional lainnya, bila perlukan dan dengan alasan masalah kemanusiaan, kami akan memberikan bantuan yang diperlukan kepada penduduk Hong Kong di Taiwan. Kami tidak akan hanya berdiri dan menonton," kata Tsai dalam sebuah pernyataan.

"Republik China (Taiwan) dengan gigih mendukung demokrasi dan kebebasan di Hong Kong, dan berharap masyarakat Hong Kong dapat dengan cepat memulihkan stabilitas kota mereka," tambahnya.

Anggota parlemen pro-demokrasi Hong Kong, Eddie Chu, turut mendesak kepada pemerintah Taiwan untuk datang melalui "mekanisme kemanusiaan" dan menerima para demonstran, setelah terjadi ratusan penangkapan sejak protes dimulai.

"Akan ada konflik yang lebih buruk di Hong Kong... Kami berharap pemerintah Taiwan dan partai-partai politik dapat membuat persiapan untuk skenario itu," katanya.

https://internasional.kompas.com/read/2019/09/03/21363291/aktivis-pro-demokrasi-hong-kong-minta-bantuan-taiwan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.