Salin Artikel

Tarik Wisatawan, Pemerintah Taiwan Ajak Turis Menginap di Kantor Presiden secara Gratis

Cara yang diambil pemerintah Taiwan pun cukup unik dan tak biasa, yakni dengan menawarkan kesempatan kepada wisatawan yang berkunjung ke Taiwan untuk menginap di gedung kepresidenan.

Tak hanya membuka kesempatan kepada wisatawan untuk menginap di gedung kepresidenan berusia 100 tahun di Taipei, tawaran itu datang tanpa biaya alias gratis.

"Saya mengundang Anda untuk mengunjungi Taiwan dan merasakan kehangatan serta keramahan penduduknya," kata Presiden Tsai Ing-wen, dalam sebuah video promosi berbahasa Inggris, seperti dikutip AFP.

"Dan selagi Anda di sini, kenapa Anda tidak mencoba menjadi tamu saya dan menginap di gedung kepresidenan ini?" tambah Tsai, dalam video.

Dilansir AFP, hingga 20 wisatawan internasional bakal dipilih untuk dapat merasakan pengalaman menginap di gedung kepresidenan Taiwan secara gratis.

Tamu undangan bahkan berkesempatan untuk turut mengikuti upacara pengibaran bendera yang akan dimulai pada pukul 05.30 pagi.

"Program ini adalah yang pertama di dunia. Tujuan kami adalah ingin menunjukkan kebebasan, demokrasi, serta keterbukaan di Taiwan," tambah juru bicara kepresidenan, Xavier Chang.

Pelamar untuk program ini diharuskan telah berusia 20 atau lebih, merupakan warga negara non-Taiwan dan menyerahkan rencana perjalanan mereka disertai sebuah "video kreatif". Akomodasi untuk program ini direncanakan mulai tersedia pada Oktober mendatang.

Inisiatif wisata unik itu datang beberapa pekan usai otoritas China mengumumkan penangguhan izin perjalanan secara individu ke Taiwan, yang diyakini bakal menjadi pukulan bagi perekonomian pemerintahan pulau itu.

Pemerintah China menangguhkan program yang memungkinkan warga dari 47 kota untuk mengajukan izin perjalanan individual ke Taiwan.

Kementerian Pariwisata China mengatakan penangguhan tersebut dengan alasan perkembangan hubungan lintas-selat saat ini.

Taiwan telah mengalami penurunan tajam dalam wisatawan dari China daratan sejak Tsai menjabat tiga tahun lalu, dan Partai Progresif Demokratik (DPP) menuduh Beijing menggunakan pengunjung "sebagai senjata" untuk mengancam pemerintahannya.

DPP menolak untuk mengakui gagasan bahwa Taiwan adalah bagian pemerintah China di bawah gagasan "Satu China".

Sebagai hukuman, Beijing telah memutus komunikasi resmi, meningkatkan latihan militer, membasmi sekutu diplomatik, dan meningkatkan tekanan ekonomi di pulau itu.

Operator pariwisata mengaitkan penurunan tersebut lantaran media China yang menggambarkan Taiwan dengan lebih negatif, bersamaan dengan peningkatan promosi tur oleh agen perjalanan besar China.

"Sejak 2016, China terus menggunakan turisnya sebagai senjata untuk mengancam DPP," kata pihak Tsai dalam pernyataannya.

"Taiwan tidak akan tunduk pada tekanan politik semacam itu dan akan membuka lebih lebar untuk merangkul turis dari lebih banyak negara," kata DPP.

Beijing masih mengklaim pulau demokratis yang memerintah sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya dan masih menunggu untuk penyatuan kembali, bahkan jika perlu dengan kekerasan.

https://internasional.kompas.com/read/2019/08/13/18102711/tarik-wisatawan-pemerintah-taiwan-ajak-turis-menginap-di-kantor

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.