Salin Artikel

5 Kisah Para Korban Tewas Jatuhnya Pesawat Ethiopian Airlines

Jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 selang beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa juga menjadi duka besar bagi PBB.

Berikut ini beberapa kisah dari para korban tragedi kecelakaan pesawat maskapai Ethiopian Airlines:

Sang arkeolog

Arkeolog asal Italia Sebastiano Tusa (66) menjadi salah satu korban tewas. Sebelumnya, dia menghabiskan waktu untuk menjelajahi dasar laut kepulauan Egadi di dekat Sisilia.

Dia menemukan sebotol anggur yang berasal dari 1.000 tahun atau lebih, yang diyakini sebagai yang tertua di dunia.

Hasratnya terbesarnya dalam riset adalah Pertempuran Egadi, yang menentukan antara kekuatan Mediterania di Republik Romawi dan Kartago pada 10 Maret, 241 SM.

Kehilangan seluruh keluarga

Anggota parlemen Slowakia Anton Hrnko kehilangan seluruh keluarganya dalam kecelakaan itu.

Dia kehilangan istrinya, putranya, dan putrinya. Perjalanan keluarganya direncanakan oleh sang putra, Martin, sebagai hadiah untuk adiknya, Michala.

Sementara istri Hrnko merupakan pengacara dengan spesialisasi real estate, sedangkan putrinya bekerja sebagai pakar IT di perusahaan produksi film.

Kursus pelatihan

Dua peneliti, Doaa Atef dan Abdel Hamid El Farag, dari Desert Research Center yang berbasis di Kairo, Mesir, ikut penerbangan Ethiopian Airlines pada Minggu pagi.

Mereka bersiap untuk menempuh kursus pelatihan di Kenya.

"Saya ingat Doaa begitu bersemangat malam sebelum pergi, itu terakhir kali saya melihatnya. Dia sangat senang, dia seperti burung terbang," kata ayah Doaa, Atef Abdelsalam.

Misi perdamaian

Christine Alolo bekerja dengan African Mission di Somalia, lembaga pasukan penjaga perdamaian yang berjuang untuk menjaga keamanan di negara itu.

Alolo, seorang warga negara Uganda dan ibu dari dua anak. Sebagai komisioner polisi misi tersebut, dia rencananya akan kembali ke Mogadishu dari Italia.

Dia bergabung dengan polisi di Uganda sebagai kadet pada 2001 dan bertugas di berbagai posisi komando.

Pekerjaan kemanusiaan

Diwartakan ABC, jumlah anggota staf PBB dan pekerja bantuan dari lembaga lain di pesawat nahas itu mungkin lebih tinggi dari biasanya.

Hal itu karena adanya konferensi selama sepekan yang digelar oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) di Nairobi, yang dimulai pada Senin.

Joanna Toole termasuk yang tewas. Dia berasal dari Inggris yang bekerja sebagai konsultan perikanan untuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan organisasi internasional tersebut sedang berduka.

"Rekan-rekan kami adalah perempuan dan pria, profesional junior dan pejabat berpengalaman, berasal dari seluruh penjuru dunia dan dengan beragam keahlian," kata Guterres.

https://internasional.kompas.com/read/2019/03/12/09561341/5-kisah-para-korban-tewas-jatuhnya-pesawat-ethiopian-airlines

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.