Salin Artikel

Menyatakan Menentang Presiden Maduro, 27 Tentara Venezuela Ditahan

Penangkapan dilakukan tak lama setelah sebuah video mereka yang menyerukan warga untuk turun ke jalan dan mendukung perlawanan beredar di media sosial.

"Kami adalah pasukan profesional Garda Nasional melawan rezim, yang kami tolak sepenuhnya. Kami butuh bantuan Anda, turun ke jalan," kata seorang pria yang mengidentifikasi dirinya sebagai pemimpin kelompok itu dalam sebuah video yang beredar di media sosial.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino mengatakan, kelompok yang beranggotakan 27 tentara tersebut telah ditahan dalam sebuah penggerebekan terhadap markas komando Garda Nasional di Caracas, pada Senin (21/1/2019).

Sebelum ditahan, kelompok tentara tersebut dilaporkan telah menyerang pos keamanan lain dan membawa lari sejumlah senjata api.

"Selama penangkapan, senjata yang dicuri telah ditemukan dan (pemberontak) memberi informasi yang berguna bagi dinas intelijen maupun sistem peradilan militer," ujar Padrino.

Ditambahkannya, para tentara pemberontak tersebut akan berhadapan dengan hukum yang berlaku.

Kepala Majelis Konstituen, Diosdado Cabello, mengatakan, 25 tentara ditangkap di markas Garda Nasional, sementara dua lainnya ditahan di tempat lain.

Cabello, yang juga merupakan tangan kanan Maduro, mengidentifikasi pemimpin pemberontak tersebut sebagai Sersan Mayor Luis Bandres Figueroa.

Meskipun kelompok kecil pemberontak itu berlangsung singkat, hal tersebut telah memicu aksi protes yang mendukung pemberontakan.

Di Distrik Cotiza, Los Mecedore, dan sejumlah lokasi lainnya di Caracas utara, orang-orang melemparkan batu dan botol ke arah polisi anti-huru hara, yang dibalas dengan tembakan gas air mata dan peluru karet. Beberapa demonstran dilaporkan mengalami luka.

Aksi pemberontakan sekelompok tentara itu pecah setelah Majelis Nasional, badan parlemen Venezuela yang dikuasai oposisi, mengajak kepada militer dan pejabat sipil pemerintah untuk menentang presiden dan pemerintah.

Pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido bahkan menyebut Maduro yang belum lama kembali dilantik menjadi presiden sebagai "perampas kekuasaan".

Namun Pengadilan Tertinggi, yang didominasi loyalis rezim kemudian menyatakan bahwa kekuasaan dan keputusan Majelis Nasional adalah tidak sah dan balik menyebut Guaido sebagai perampas kekuasaan.

Mereka juga membatalkan keputusan legislatif Majelis Nasional yang menyatakan Maduro sebagai perampas kekuasaan, serta janjinya memberi amnesti kepada personil militer yang melawan pemerintah.

"Parlemen (Majelis Nasional) tidak memiliki dewan direksi yang sah. Mereka telah merebut kekuasaan dan karena itu semua keputusannya tidak sah," kata Ketua Pengadilan Tinggi Juan Jose Mendoza.

https://internasional.kompas.com/read/2019/01/22/15242871/menyatakan-menentang-presiden-maduro-27-tentara-venezuela-ditahan

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.