Salin Artikel

Menhan AS Mundur karena Percakapan Telepon Trump dan Erdogan

Dalam laporan yang dilansir The Guardian Jumat (21/12/2018), Mattis memutuskan mundur setelah Trump mengumumkan bakal menarik pasukan dari Suriah.

Keputusan itu dibuat Trump setelah dia berdiskusi dengan Erdogan dalam percakapan telepon yang dilaporkan terjadi pada 14 Desember.

Mattis yang terkejut dengan keputusan Trump berusaha menemuinya Kamis (20/12/2018) siang waktu setempat dengan membawa surat pengunduran diri.

Kolega Mattis yang tak menolak disebutkan namanya berkata, awalnya menhan berjuluk Mad Dog itu tidak berniat untuk mengumumkan pengunduran diri.

Pensiunan Jenderal Korps Marinir itu berusaha untuk terakhir kalinya meyakinkan sang presiden supaya membatalkan keputusannya.

Dia tidak menyebut Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang selama in menjadi sekutu AS. Dia berargumen pentingnya penghormatan terhadap sekutu dalam keamanan nasional mereka.

Namun dalam pertemuan berdurasi 45 menit itu, Trump menolak penjelasan Mattis. Malah dia menunjukkan rekaman pengumumannya kepada sang menhan.

Mattis bereaksi dengan menunjukkan surat pengunduran dirinya yang membuat Trump terkejut. Dia juga memerintahkan agar suratnya disalin sebanyak 50 lembar.

Menurut laporan New York Times, Mattis memerintahkan agar salinan surat pengunduran dirinya dibagikan ke seluruh staf Pentagon setelah dia kembali.

Sebenarnya setelah Suriah, Trump juga mempertimbangkan untuk menarik lebih dari separuh pasukan AS berjumlah 14.000 orang di Afghanistan.

Namun keputusan Trump soal Suriah-lah yang membuat Mattis memantapkan diri untuk mundur. Si kolega mengatakan menhan 68 tahun itu tak berniat mundur.

Kolega itu menjelaskan Mattis masih berupaya untuk bertahan meski sering berbeda pendapat dengan Trump. "Itu dilakukannya demi melindungi militer dan konstitusi," terangnya.

Dalam video pendek yang diunggah ke Twitter Rabu (19/12/2018), Trump memuturkan penarikan militer AS terjadi setelah dia mengklaim Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah dikalahkan.

"Kami telah mengalahkan mereka dan kami memukul mereka dengan sangat keras. Kami merebut kembali wilayah, dan sekarang saatnya bagi pasukan kami untuk pulang," tuturnya.

Keputusan Trump itu memantik reaksi dari negara Barat bahwa ISIS masih belum kalah sepenuhnya. Selain itu mereka juga mengkhawatirkan nasib SDF.

Sebabnya Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang merupakan tulang punggung SDF memerangi ISIS berada dalam radar Erdo.

Adapun Presiden Rusia Vladimir Putin menuturkan keputusan Trump sudah tepat karena sejatinya keberadaan militer AS di Suriah ilegal.

https://internasional.kompas.com/read/2018/12/22/14584581/menhan-as-mundur-karena-percakapan-telepon-trump-dan-erdogan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.