Salin Artikel

Kebangkitan Xi Jinping, Ketika Nostalgia Kekaisaran "Menyihir" Asia Tenggara

Banyak orang menganggap Xi sebagai salah satu pemimpin China paling kuat yang setara atau bahkan melebihi para pendahulunya, Deng Xiaoping dan Mao Zedong.

Dan juga, dibandingkan Donald Trump, pemimpin Amerika Serikat, yang semakin tersingkir dalam prospek "Pax Sinica", saat China akan menjadi kekuatan besar dunia nantinya.

Tak dapat dipungkiri lagi, semua orang terutama di Asia Tenggara telah mencampuradukkan kemiripan-kemiripan dengan sejarah China, seakan melihat ke masa lalu untuk mendapatkan petunjuk terhadap masa depan yang dipimpin Xi Jinping.

Xi memiliki kepribadian yang sangat luar biasa. Kemunculannya hingga menjadi terkenal, pasti lebih dari sekadar mencocokkan ambisi dengan beberapa pemimpin sejarah China yang paling terkemuka.

Mengingat bahwa China dulu adalah – dan dapat dikatakan masih- sebuah kekaisaran, kecenderungannya adalah membandingkannya dengan kaisar-kaisar sebelumnya.

Memang, banyak yang melihat bahwa "Kekaisaran China" telah dihidupkan kembali dan diperbaharui (dengan tinta merah) di bawah Xi sebagai bagian penting dalam pergeseran geopolitik ke Asia Pasifik.

Tentu saja terdapat banyak tokoh sejarah teladan yang disandingkan dengan Xi. Kekuasaannya yang besar, pengaruh China yang semakin luas dan kedudukan yang kuat di negaranya telah membuat beberapa orang membandingkannya dengan kaisar terbesar Dinasti Qing seperti Kangxi, Yongzheng dan Qianlong.

Xi saat ini juga dianggap memiliki kemiripan dengan Yongzheng, yang dikenal karena tindakan kerasnya terhadap aksi antikorupsi dan melakukan reformasi keuangan. Apa yang dilakukan Yongzheng juga sedang dilakukan oleh Xi saat ini.

Sebagian lainnya juga percaya bahwa Xi mirip dengan kaisar Yongle dari dinasti Ming, yang mendirikan kembali Beijing sebagai ibu kota kekaisaran, melakukan proyek konstruksi yang ekstensif dan yang lebih penting adalah memerintahkan pelaut terkemuka Dinasti Ming, Zheng He, untuk menjelajahi Asia Tenggara dan sekitarnya.

Melihat jauh ke belakang, satu hal dapat menunjukkan hubungan panjang antara Kerajaan Tengah dan Asia Tenggara dalam Dinasti Song dan bahkan Dinasti Tang, terutama masa yang menjadi saksi ketika I Ching melakukan perjalanannya yang terkenal ke Sriwijaya.

Kemiripan yang mungkin tidak ada habisnya. Memang, masyarakat China lebih sering bercerita tentang jadwal dan kecemasan orang-orang yang suka membanding-bandingkan daripada bercerita tentang apa yang mungkin China dan XI benar-benar lakukan di ke-21.

Namun, bagi Asia Tenggara, pertanyaan pentingnya adalah apakah para pemimpin dan para dinasti ini merupakan hal yang positif bagi wilayah kita?

Apakah kita mendapatkan keuntungan dari adanya hubungan perdagangan dan ekonomi yang lebih kuat?

Apakah hubungan Asia Tenggara dengan China dapat menguntungkan kita? Mari jangan lupakan, dahulu ada yang disebut sistem "upeti", saat kekaisaran selalu ada di atas dan negara-negara lain sebagai sekelompok "barbarian" yang suka memohon-mohon.

Penting untuk dicatat bahwa hubungan China dengan Asia Tenggara tidak pernah 100 persen berjalan ramah ataupun adil, apapun zamannya.

Dinasti Ming dan Qing, keduanya pernah meluncurkan serangan berulang ke Vietnam (1407-1427 dan 1788-1789) serta empat serangan ke Burma (masing-masing antara 1382-1449 dan 1765-1769).

Tingkat perhatian yang didapat Asia Tenggara dari China juga sangat bervariasi selama berabad-abad.

Fokus para kaisar di dinasti Qing sering kali pada umumnya, jika tidak secara khusus berada di daerah leluhur mereka di Asia Tengah.

Sebagian besar dinasti Tiongkok cenderung bergerak ke dalam, terutama menjelang akhir zaman mereka.

Apa pun pengaruh China di Asia Tenggara tentu saja dapat dikatakan masih kalah dibandingkan perjalanan penjajahan yang dilakukan negara Barat.

Hal yang juga sangat signifikan ketika Revolusi tahun 1911, yang menggulingkan dinasti Qing dan monarki China didukung penuh oleh Orang China rantauan di Asia Tenggara ketika banyak di antaranya yang datang ke sana setelah Qing dipermalukan dalam Perang Opium (1839-1842 dan 1856 -1860) dan Pemberontakan Taiping (1850-1871).

Intinya adalah Asia Tenggara tidak ingin adanya hegemoni. Kita lebih memilih China yang kuat tetapi masih sedikit terganggu oleh urusan internalnya sendiri.

Dengan begitu, kita di Asia Tenggara dapat memainkan “Kekuatan Besar” satu sama lain. Kita ingin mereka bersaing untuk mendapatkan dukungan dan perhatian kita, bukan sebaliknya.

Tidak ada yang dapat menyangkal adanya kebutuhan untuk melibatkan China secara ekonomi, politik dan budaya.

Tetapi keberadaan Xi Jinping yang kuat dan keberanian China bukanlah suatu hal yang diinginkan Asia Tenggara.

Para pengagum Xi yang ingin sekali memanggilnya sebagai "Yongzheng baru" juga harus ingat bahwa pemerintahan Kaisar Qing menandai titik balik dalam sejarah China, sebagaimana Middle Kingdom ini terjatuh di bawah kebijakan sesat yang dimulai saat zamannya.

Jadi sementara China tampaknya sedang maju sekarang, namun sandungan lain mungkin dapat menjatuhkannya terutama jika krisis utang dan ketidaksetaraan pendapatan domestik masih tidak terselesaikan.

Sambil menengok sejarah, mungkin itu bukan hal yang buruk untuk Asia Tenggara setelah semua yang telah dilakukan oleh China.

https://internasional.kompas.com/read/2017/12/07/20074091/kebangkitan-xi-jinping-ketika-nostalgia-kekaisaran-menyihir-asia

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.