Trump Berniat Kembangkan Senjata Nuklir Terhebat - Kompas.com

Trump Berniat Kembangkan Senjata Nuklir Terhebat

Kompas.com - 13/02/2018, 20:41 WIB
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan. Di belakangnya berdiri Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan Ketua DPR AS Paul Ryan (kanan) bertepuk tangan di majelis Dewan Perwakilan AS di Washington DC, pada Selasa (30/1/2018). (Win McNamee/POOL/AFP)Win McNamee Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan. Di belakangnya berdiri Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan Ketua DPR AS Paul Ryan (kanan) bertepuk tangan di majelis Dewan Perwakilan AS di Washington DC, pada Selasa (30/1/2018). (Win McNamee/POOL/AFP)

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat ( AS) Donald Trump berniat untuk mengembangkan persenjataan nuklir terhebat yang pernah ada.

Pernyataan itu disampaikan Trump di depan awak media seperti dilaporkan oleh The Independent Senin (12/2/2018).

"Militer AS bakal menjadi yang terkuat sejak negara ini berdiri selama saya menjabat sebagai presiden," koar Trump.

Trump menyatakan, Negeri "Paman Sam" bakal menjadi nomor satu untuk bidang pertahanan. "Kita akan jauh melampaui negara lain," lanjutnya.

Trump menjelaskan, langkah ini dilakukan sebagai tanggapan atas keputusan beberapa negara yang meningkatkan kemampuan senjata nuklirnya.

Baca juga : Penasihat Iran: Barat Pakai Kadal dan Bunglon untuk Pantau Nuklir Kami

Meski tidak secara spesifik, pernyataan Trump jelas mengarah kepada Korea Utara ( Korut) yang melakukan serangkaian uji coba sepanjang 2017.

Di antaranya pada 3 September ketika mencoba bom hidrogen, dan 29 November tatkala meluncurkan Hwasong-15, sebuah rudal balistik antar-benua (ICBM).

"Jika mereka berhenti, maka kami juga berhenti. Namun, kenyataannya mereka tidak. Jadi, kami akan bergerak dengan menciptakan senjata terhebat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya," kata Trump.

Konfidensi Trump membuncah setelah Kongres AS menyetujui rancangan anggaran hingga tahun fiskal 2019.

Dalam rancangan tersebut, sektor pertahanan mendapat kenaikan pengeluaran hingga 195 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 2.657 triliun.

Namun, karena anggaran pertahanan membengkak, Gedung Putih memutuskan untuk memangkas beberapa pengeluaran program domestik.

Antara lain pemangkasan 1,7 triliun dolar AS, atau sekitar Rp 23.166 triliun Program Medicare.

Kemudian, Washington juga memotong program kemanusiaan, Kementerian Luar Negeri, serta mewacanakan penghapusan 62 program negara.

Kebijakan ini langsung ditentang oleh 150 pensiunan jenderal, dan 1.200 veteran perang melalui surat yang dikirim Minggu (11/2/2018).

Dalam suratnya, mereka meminta agar presiden ke-45 AS tersebut tidak memotong anggaran untuk kemenlu.

Sebab, krisis yang berkembang di dunia akhir-akhir ini tidak bisa hanya diselesaikan melalui opsi militer.

"Kami meminta Anda agar menjamin pegawai dari kalangan sipil untuk menjamin negara ini tetap aman," demikian isi surat tersebut.

Baca juga : Kedubes Korea Utara di Jerman Diduga Pasok Teknologi Nuklir


Komentar

Close Ads X