Penyiksaan TKI di Malaysia, Kisah Suram yang Seolah Tiada Akhir Halaman 2 - Kompas.com

Penyiksaan TKI di Malaysia, Kisah Suram yang Seolah Tiada Akhir

Kompas.com - 13/02/2018, 19:58 WIB
Adelina Lisao tidur di beranda rumah di Taman Kota Permai, Penang, Malaysia, ketika ditemukan Sabtu (10/2/2018). TKI asal Nusa Tenggara Timur itu ditemukan dengan berbagai luka di wajah dan kepala. Perempuan 21 tahun itu meninggal dunia sehari berselang (11/2/2018).Steven Sim/The Malay Online Adelina Lisao tidur di beranda rumah di Taman Kota Permai, Penang, Malaysia, ketika ditemukan Sabtu (10/2/2018). TKI asal Nusa Tenggara Timur itu ditemukan dengan berbagai luka di wajah dan kepala. Perempuan 21 tahun itu meninggal dunia sehari berselang (11/2/2018).

 

Tegas, tetapi Belum Cukup

Pemerintah Malaysia bukannya tidak tegas dalam menjatuhkan hukuman kepada warganya yang terbukti menyiksa PRT asal Indonesia.

Pada Maret 2014, Pengadilan Tinggi Malaysia menjatuhkan vonis mati dengan cara digantung kepada pasangan yang terbukti membunuh TKI bernama Isti Komariah.

Fong Kong Meng dan Teoh Ching Yen dinyatakan bersalah membunuh Isti pada 2011 dengan membiarkannya kelaparan dan tidak memberikan obat-obatan.

Baca juga : BP3TKI Nunukan Tunggak Biaya Tes Kesehatan TKI Rp 460 Juta

Namun, seperti dilontarkan Direktur Advokasi Organisasi Perlindungan HAM dan Pekerja Tenaganita, Glorene Das, Malaysia harus membuat hukum yang benar-benar menjamin para pekerja migran di negaranya.

Jika merujuk kepada Hukum Tenaga Kerja Malaysia, para pekerja seperti Adelina diklasifikasikan sebagai "pelayan domestik".

Akibatnya, secara tidak langsung bakal menciptakan konstruksi pemikiran "hubungan majikan-pelayan" di kalangan pemberi kerja.

"Kami harus secepatnya menyelidiki hingga ke akarnya mengapa mereka (pemberi kerja) bisa merasa melakukan hal normal ketika menyiksa pekerja mereka," kata Das.

Jika tidak, tambah Das, ribuan migran lain yang bekerja sebagai PRT baik dari Indonesia, Filipina, dan Myanmar, terancam mengalami hal serupa.

"Kematian satu pekerja domestik sudah terlalu banyak. Penyebaran kekerasan harus dihentikan," ujar Das kembali.

Baca juga: Kasus TKI Tewas di Malaysia, Organisasi HAM Inginkan Perlindungan PRT


Page:
Komentar

Close Ads X