Kelangkaan Air Ancam 11 Kota di Dunia, Jakarta Salah Satunya Halaman 1 - Kompas.com

Kelangkaan Air Ancam 11 Kota di Dunia, Jakarta Salah Satunya

Kompas.com - 12/02/2018, 16:07 WIB
Warga mengantre untuk mengambil air dari keran yang bersumber dari mata air di Newlands, Mei 2017 lalu.Rodger Bosch / AFP Warga mengantre untuk mengambil air dari keran yang bersumber dari mata air di Newlands, Mei 2017 lalu.

KOMPAS.com - Jakarta berada di posisi kelima di antara 11 kota dunia yang paling terancam kekurangan air minum setelah Cape Town.

Temuan ini hanya salah satu contoh ekstrem dari masalah yang sudah lama diperingatkan para ahli yaitu kelangkaan air.

Meskipun mencakup sekitar 70 persen permukaan bumi, air minum, tidaklah seberlimpah seperti yang dipikirkan orang. Hanya 3 persen saja air yang bisa dikonsumsi manusia.

Lebih dari satu miliar orang tak memiliki akses terhadap air bersih dan 2,7 miliar lainnya mengalami kelangkaan air setidaknya satu bulan dalam setahun.

Baca juga : Cadangan Air di Ibu Kota Afrika Selatan akan Habis dalam 90 Hari

Sebuah survei yang digelar 2014 terhadap 500 kota terbesar di dunia memperkirakan satu dari empat kota dunia sedang mengalami masalah air.

Menurut proyeksi PBB, pada 2030 kebutuhan akan air tawar dunia akan 40 persen lebih tinggi dari ketersediaan, akibat perubahan iklim, ulah manusia, dan pertumbuhan penduduk.

Karenanya tidak mengherankan, bahwa Cape Town hanyalah puncak gunung es. Inilah 11 kota lain, termasuk yang kemungkinan besar akan mengalami kelangkaan air.

1. São Paulo (Brasil)

Salah satu dari 10 kota terpadat di dunia ini pada 2015 mengalami masalah sebagaimana Cape Town, ketika cadangan air turun 4 persen di bawah kebutuhan yang semestinya.

Pada puncak krisis, kota berpenduduk lebih dari 21,7 juta jiwa itu hanya memiliki persediaan air untuk kurang dari 20 hari dan polisi harus mengawal truk air untuk mencegah penjarahan.

Penyebab awalnya diperkirakan adalah kekeringan yang melanda bagian tenggara Brasil antara 2014 dan 2017.

Baca juga : Pasokan Air Bersih di Jakarta Hanya Sepertiga dari Kebutuhan

Namun, sebuah misi PBB ke São Paulo mengkritik otoritas negara bagian lantaran "kurangnya perencanaan dan investasi yang tepat".

Krisis air dianggap 'selesai' pada 2016, namun pada Januari 2017 cadangan utama air mereka hanya 15 persen di bawah perkiraan untuk periode itu sehingga membuat persediaan air di masa depan kembali dipertanyakan.

2. Bangalore (India)

Kota di wilayah selatan India ini mengalami pertumbuhan properti yang sangat pesat akibat dipromosikannya Bangalore sebagai pusat teknologi. Sejak saat itu pemerintah kota mengalami kerepotan untuk mengelola sistem air dan limbah kota.

Lebih-lebih lagi, pipa saluran air di Bangalore sudah begitu tua dan membutuhkan perbaikan yang mendesak.

Sebuah laporan yang disusun pemerintah pusat menunjukkan, kota tersebut kehilangan lebih dari separuh air minum mereka karena terbuang begitu saja.

Baca juga : Warga di Perbatasan Krisis Air Bersih Saat Musim Hujan

Seperti China, India mengalami masalah polusi air yang pelik dan itulah yang dialami Bangalore.

Data menunjukan 85 persen persediaan air danau dan sumber air lain di kota itu hanya bisa digunakan untuk irigasi dan pendinginan industri.

Tak satu pun danau di kota itu yang airnya cocok untuk dikonsumsi warga atau digunakan untuk mandi.


Page:
Komentar

Close Ads X