Napi Al Qaeda Ini Hidup Bak Raja di Penjara Guantanamo - Kompas.com

Napi Al Qaeda Ini Hidup Bak Raja di Penjara Guantanamo

Kompas.com - 12/02/2018, 13:42 WIB
Ahmed al Darbi, mantan anggota Al Qaeda yang menjadi pelaku peledakkan kapal tanker di Teluk Aden, Yaman, pada 6 Oktober 2002.ICRC via Chicago Tribune Ahmed al Darbi, mantan anggota Al Qaeda yang menjadi pelaku peledakkan kapal tanker di Teluk Aden, Yaman, pada 6 Oktober 2002.

GUANTANAMO, KOMPAS.com - Kehidupan Ahmed al Darbi tidak seperti tahanan lainnya ketika berada di penjara Teluk Guantanamo, Kuba.

Alih-alih disiksa, mantan anggota kelompok Al Qaeda itu menjalani hari-harinya laksana penguasa.

Seperti dilansir Miami Herald via New York Post Minggu (11/2/2018), Darbi menerima segala pelayanan kelas satu di Guantanamo.

Darbi tidak hanya tinggal di sel yang luas dan nyaman, namun juga mendapat berbagai peralatan elektronik.

Di antaranya laptop pribadi, DVD, PlayStation 3, dan cat air untuk memuaskan hobi melukisnya.

Baca juga : Trump Buka Penjara Guantanamo, Mungkinkan untuk Tahan Anggota ISIS?

Darbi juga menerima layanan streaming drama situasi komedi Amerika Serikat (AS), Arrested Development.

Dia juga mendapat perangkat lunak Rosetta Stone untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris-nya.

Tidak hanya itu, Darbi juga bisa memakan, atau memasak apapun yang dia suka, seperti Oreo, atau memasak domba, ayam, dan kelinci.

Lantas, apa yang diperbuat Darbi sehingga dia bisa menerima segala pelayanan mewah seperti itu?

Diwartakan Miami Herald, berbagai fasilitas itu diberikan sebagai imbalan atas kesaksian pria 42 tahun tersebut.

Sebelumnya, dia ditangkap setelah menjadi pelaku peledakkan terhadap kapal tanker berbendera Perancis, Limburg, pada 6 Oktober 2002.

Saat itu, kapal yang membawa 397.000 barel minyak mentah tersebut tengah berada di Teluk Aden, Yaman, ketika Al Qaeda menanam TNT di lambungnya.

Akibat insiden itu, seorang kru kapal asal Bulgaria, Atanas Atanasov tewas, dan 12 orang lainnya terluka.

Baca juga : Disiksa di Guantanamo, Mantan Napi Dapat Kompensasi Rp 107 Miliar

Pada 2017, dalam sebuah rekaman, Darbi bersaksi bahwa dalang dari serangan itu bernama Abd al Rahim al Nashiri.

Selain itu, dalam sebuah pengadilan terpisah, Darbi juga memberikan kesaksian tentang seseorang bernama Nashwan al Tamir.

Darbi saat itu berkata, nama Tamir sebenarnya adalah Abd al Hadi al Iraqi, dan merupakan eks komandan Al Qaeda.

Adapun adik ipar Darbi, Khalid al Mihdhar, menjadi pelaku pembajakan pesawat yang menyerang Pentagon saat peristiwa 11 September (9/11) 2001 silam.

Status Darbi bakal semakin istimewa. Sebab, dia dilaporkan bakal dideportasi ke sebuah program rehabilitas di Arab Saudi, 20 Februari nanti.

Deportasi itu merupakan keputusan yang diambil di era Presiden Barack Obama. Namun, Darbi harus mendapat persetujuan dari Menteri Pertahanan Jim Mattis.

"Seperti yang Anda ketahui, Anda bakal pulang 10 hari ke depan," kata pengacara Darbi, Mayor Yolanda Miller.

Namun, Miler menambahkan, Darbi tetap harus meneruskan kontak dengan militer jika mereka membutuhkan tambahan keterangan soal kegiatan Al Qaeda.

"Yang diminta adalah kejujuran. Saya tidak akan memberi hal lain segala kesaksian jujur," ucap Darbi.

Baca juga : AS Mendakwa Tahanan Guantanamo Kelahiran Cianjur, Siapa Dia?


Komentar

Close Ads X