Ketika Warga Sipil Kurdi Suriah di Afrin Ikut Berperang Melawan Turki - Kompas.com

Ketika Warga Sipil Kurdi Suriah di Afrin Ikut Berperang Melawan Turki

Kompas.com - 05/02/2018, 13:08 WIB
Anak muda Kurdi Suriah ketika menggelar parade militer di Afrin (28/1/2018). Mereka semua merupakan warga sipil yang dimobilisasi untuk menghadapi operasi militer Tangkai Zaitun yang diterapkan oleh Turki.DELIL SOULEIMAN/AFP Anak muda Kurdi Suriah ketika menggelar parade militer di Afrin (28/1/2018). Mereka semua merupakan warga sipil yang dimobilisasi untuk menghadapi operasi militer Tangkai Zaitun yang diterapkan oleh Turki.

AFRIN, KOMPAS.com - Sabuk amunisi tergulung dengan rapi di pundak puluhan anak muda Kurdi di Afrin, Suriah.

Beberapa dari anak muda itu mengenakan perlengkapan militer yang sebenarnya tidak cocok. Bahkan, mereka mengaku ini merupakan pengalaman pertama dalam memegang senjata.

Namun, mereka meneriakan satu kalimat yang sama: perlawanan terhadap operasi militer yang dilakukan Turki.

Diwartakan AFP Senin (5/2/2018), mereka adalah warga sipil yang dengan sukarela terjun ke medan perang.

Salah satunya adalah anak muda bernama Samaa. Dia rela meninggalkan kuliahnya di jurusan Jurnalistik Universitas Afrin Januari lalu demi bergabung dengan paramiliter.

"Afrin adalah tempat saya dibesarkan. Sama seperti orangtua, dan kakek-nenek saya," tegas warga bernama Asmaa.

Baca juga : Erdogan Umumkan Serangan ke Wilayah Kurdi Suriah

Pemerintah kota memang mencanangkan "mobilisasi massal" untuk menghadapi Turki yang tengah menyerang Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

Dari ajakan tersebut, pemerintah Afrin mengklaim telah menerima ratusan permohonan sukarelawan.

Kebanyakan ditempatkan di garis depan menjadi pejuang. Sementara sisanya menjadi perawat di rumah sakit, dan petugas penyelamat.

Sementara untuk Asmaa, dia lebih memilih untuk berjuang di garis depan berbekal penutup kepala bewarna putih-hitam.

"Hari ini, saya tidak melihat diri saya sebagai mahasiswa, namun pejuang," ujar remaja perempuan 19 tahun tersebut.

Penasihat bidang media YPG, Rezan Haddu menyatakan, permintaan akan sukarelawan terus meningkat sejak Turki mengumumkan serangan 20 Januari lalu.

"Mereka mendaftarkan diri sesuai dengan pengalaman dan kemampuan mereka," kata Haddu.

Khusus mereka yang mendaftar untuk berperang, mereka menerima pelatihan di bawah komando Pemimpin Pergerakan Pemuda Kurdi cabang Afrin, Jinda Tulhaldan.

Baca juga : Para Relawan Inggris dan AS Siap Bantu Kurdi Melawan Tentara Turki

Anak muda tersebut menerima pelatihan selama sepekan untuk menembak, dan memahami situasi di medan perang.

"Kami tahu sepekan tidaklah cukup. Namun, saat ini kami diserang, dan kami harus mempertahankan kota kami dengan apa yang kami miliki," tegas Tulhalda.

Ucapan Tulhalda diperkuat dengan keterangan dari salah satu relawan, Tirij Hassan.

Hassan berkata, mereka dilatih menggunakan senjata ringan seperti senapan serbu di pusat pelatihan pemuda.

"Ini pengalaman pertama saya. Namun, saya bahagia karena saya mempertahankan Afrin," kata pemuda 22 tahun tersebut.

Relawan lainnya, Farhad Akid, menyatakan seluruh warga Afrin mempunyai kewajiban mempertahankan kotanya dari Turki.

Sebab, menurut data dari Lembaga Pengamat HAM di Suriah, 68 warga sipil tewas dari operasi militer bernama "Tangkai Zaitun" tersebut. "Kami tidak akan membiarkan satu orang Turki memasuki wilayah suci kami," tegas Akid.

Sebelumnya, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mendeklrasikan perang melawan YPG.

Deklarasi itu terjadi menyusul pengumuman bahwa pasukan koalisi pimpinan AS di Suriah akan membentuk "pasukan keamanan perbatasan" untuk mencegah ISIS kembali ke Suriah.

Namun, Ankara melihat pasukan Kurdi Suriah ini merupakan perpanjangan tangan dari pemberontak Kurdi PKK yang menjadi musuh lama pemerintah Turki.

Sehingga, Ankara melihat kehadiran pasukan PKK di perbatasan dengan negeri itu merupakan ancaman keamanan.

Baca juga : Presiden Macron Ingatkan Turki untuk Tidak Menginvasi Suriah


EditorArdi Priyatno Utomo
SumberAFP
Komentar

Terkini Lainnya

Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

Regional
Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

Internasional
Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

Megapolitan
Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

Nasional
Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

Regional
Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

Regional
Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

Regional
Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

Nasional
Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

Megapolitan
Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

Internasional
'Underpass' Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

"Underpass" Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

Megapolitan
Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

Internasional
Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

Regional
Isu Penyerangan Pemuka Agama Jadi Liar, Adakah yang Menunggangi?

Isu Penyerangan Pemuka Agama Jadi Liar, Adakah yang Menunggangi?

Nasional
Jembatan “Saksi” Agresi Militer Belanda II Itu Akhirnya Runtuh…

Jembatan “Saksi” Agresi Militer Belanda II Itu Akhirnya Runtuh…

Regional

Close Ads X