Penembakan di Italia, 6 Migran Afrika Terluka - Kompas.com

Penembakan di Italia, 6 Migran Afrika Terluka

Kompas.com - 05/02/2018, 10:56 WIB
Buku otobiografi Adolf Hitler, Mein Kampf, dan buku fasisme Storia Della Repubblica Sociale.Carabinieri Macerata Buku otobiografi Adolf Hitler, Mein Kampf, dan buku fasisme Storia Della Repubblica Sociale.

MACERATA, KOMPAS.com - Seorang pria ditangkap oleh aparat keamanan setelah melakukan penembakan di Macerata, Italia.

Pria bernama Luca Traini tersebut ditangkap usai menembak enam orang migran Sabtu (3/2/2018).

Dilansir Sky News, Wali Kota Macerata, Romano Carancini berkata, seluruh korban merupakan migran berkulit hitam.

"Enam orang tersebut, lima pria dan satu perempuan, terluka. satu di antaranya berada dalam kondisi kritis," beber Carancini.

Media lokal, RAI mengabarkan, keenam korban penembakan itu berusia antara 22-33 tahun. Mereka berasal dari Ghana, Gambia, Nigeria, dan Mali.

Baca juga : 20 Mayat Migran Ditemukan di Laut Mediterania

Komandan Polisi Macerata, Michele Roberti berujar, Traini melakukan aksinya dalam kesadaran penuh. "Dia begitu berdeterminasi, dan seakan paham akan konsekuensinya," tutur Roberti.

Bahkan, diberitakan oleh ANSA, sesaat sebelum dimasukkan ke mobil, Traini masih sempat melakukan salam fasis ke sebuah tugu peringatan.

Pelaku penembakan di Macerata, Italia, Luca Traini.Carabinieri Macerata Pelaku penembakan di Macerata, Italia, Luca Traini.

Tidak hanya itu, ketika polisi menggeledah rumah pria 28 tahun tersebut, mereka menemukan dua buku yang berkaitan dengan fasisme.

Yang pertama berjudul Storia Della Repubblica Sociale. Kemudian buku kedua adalah otobiografi Pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler, Mein Kampf.

Belum jelas apa motif yang dilakukan oleh Traini. Namun, pekan lalu, terjadi pembunuhan yang menimpa seorang perempuan kulit putih.

Perempuan bernama Pamela Mastripietro itu dimutilasi, dan ditemukan dalam dua koper Kamis (1/2/2018).

Pelaku menangkap pria Nigeria yang diduga menjadi tersangka pembunuhan remaja 18 tahun itu.

Insiden itu, kata jurnalis Times Tom Kington, menciptakan jurang intoleransi di antara warga Macerata dan para migran.

"Kemungkinan dia melakukan aksi gila tersebut sebagai bentuk pembalasan dendam," ucap Roberti kembali.

Pembunuhan tersebut juga dimanfaatkan politisi sayap kanan untuk mendulang dukungan jelang pemilihan Perdana Menteri Italia 4 Maret mendatang.

Matteo Salvini misalnya. Ketua Liga Utara itu berjanji bakal memulangkan 150.000 migran Afrika jika terpilih.

"Migrasi menjadi isu utama. Sejumlah politisi bersama mantan Perdana Menteri Silvio Berlusconi telah menabuh genderang anti-migran," kata Kington.

Baca juga : Migran Afrika: Dipenjara Lebih Baik daripada Harus Kembali


EditorArdi Priyatno Utomo
SumberSky
Komentar

Close Ads X