Kuburan Massal, Bukti Pembantaian Etnis Rohingya oleh Militer Myanmar - Kompas.com

Kuburan Massal, Bukti Pembantaian Etnis Rohingya oleh Militer Myanmar

Kompas.com - 02/02/2018, 14:56 WIB
Seorang pengungsi Rohingya menahan bayinya di pusat pendaftaran setelah dia melintasi perbatasan dari Myanmar, di Teknaf, Bangladesh pada 2 Oktober 2017. Myanmar telah mengusulkan untuk membawa kembali ratusan ribu orang Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir. Seorang pengungsi Rohingya menahan bayinya di pusat pendaftaran setelah dia melintasi perbatasan dari Myanmar, di Teknaf, Bangladesh pada 2 Oktober 2017. Myanmar telah mengusulkan untuk membawa kembali ratusan ribu orang Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir.


GU DAR PYIN, KOMPAS.com - Sejumlah penduduk etnis Rohingya yang menempati desa-desa di negara bagian Rakhine, Myanmar, telah dibantai dan dikubur di lima kuburan massal.

Sekitar 400 orang dilaporkan telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (1/2/2018), laporan investigasi AFP menunjukkan kesaksian penduduk bagaimana tentara melepaskan tembakan ke arah sekelompok pria yang sedang memilih anggota untuk tim sepak bola lokal, di desa Gu Dar Pyin.

Salah satu korban selamat, Noor Kadir menemukan enam orang temannya terkubur di dua kuburan massal yang terpisah. Dia mengatakan mayat korban hanya bisa dikenali dari warna celana pendek mereka.

Baca juga : Pengungsi Rohingya di Kamp Bangladesh Terancam Terkena Banjir

Pembunuhan massal itu diyakini terjadi pada 27 Agustus 2017 dan para tentara berusaha menyembunyikan bukti kekejaman mereka.

Video yang ditayangkan Associated Press mengindikasikan percobaan penggunaan asam untuk memusnahkan jenazah tersebut.

Sisa-sisa yang terkandung di dalam kuburan dangkal naik ke permukaan, setelah hujan deras. Korban yang selamat dari pembantaian merekam bukti-bukti itu.

Phil Robertson dari Lembaga HAM mengatakan hasil laporan tersebut menjadi pertaruhan bagi masyarakat internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dari Myanmar.

"Sekarang waktunya Uni Eropa dan Amerika Serikat untuk serius mengidentifikasi dan menaikkan sanksi ke militer Myanmar, serta tentara harus bertanggung jawab atas kejahatan hak asasi manusia," katanya.

Baca juga : Psikolog: Anak-anak Rohingya Trauma dan Takut Kembali ke Myanmar

Yanghee Lee dari Badan PBB urusan HAM mengatakan laporan pembunuhan dan pembuangan mayat menandai adanya genosida.

Namun, dia tidak bisa mendeklarasikannya sebagai tindakan genosida sebelum masyarakat internasional mempertimbangkan sejumlah bukti.

Sebelumnya, Myanmar telah mengaku bertanggung jawab atas penemuan kuburan massal berisi 10 jenazah di desa Inn din.

Pembunuhan itu terjadi pada September 2017, tapi pejabat baru mengakuinya setelah kuburan massal ditemukan pada Desember lalu dan mengklaim mayat-mayat tersebut adalah teroris.

Amnesty International menggambarkan penemuan pada Desember 2017 merupakan fenomena gunung es.

Baca juga : PBB Tegaskan Situasi Myanmar Belum Aman untuk Muslim Rohingya

Sejak Agustus 2017, lebih dari 655.000 warga etinis Rohingya melarikan diri dari Myanmar menuju Bangladesh. Secara wacana, PBB menyebut pembantaian di Myanmar sebagai genosida.

Militer Myanmar mengklaim operasi mereka sebagai perjuangan melawan teroris, namun para korban selamat yang menyeberang ke Bangladesh menyatakan tentara melakukan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan membakar rumah-rumah.

Bangladesh dan Myanmar juga telah sepakat untuk mengembalikan pengungsi Rohingya ke rumah mereka.


EditorVeronika Yasinta
Komentar

Close Ads X