Kapal Migran Ditembaki dan Terbalik, 30 Orang Tenggelam - Kompas.com

Kapal Migran Ditembaki dan Terbalik, 30 Orang Tenggelam

Kompas.com - 26/01/2018, 21:13 WIB
Kapal pengangkut migran Afrika terbalik di perairan Yaman, menyebabkan setidaknya 30 orang tenggelam.AFP Kapal pengangkut migran Afrika terbalik di perairan Yaman, menyebabkan setidaknya 30 orang tenggelam.

SANAA, KOMPAS.com - Sebanyak 30 migran Afrika dilaporkan menjadi korban tewas dalam insiden kapal terbalik di perairan Yaman pekan ini. Pernyataan PBB menyebut adanya serangan dan tembakan yang menyebabkan kapal akhirnya terbalik.

Kapal yang berangkat dari Aden di selatan Yaman pada Selasa (23/1/2018) itu membawa sekitar 152 migran yang berasal dari Somalia dan Etiopia. Demikian dilaporkan Badan Pengungsi dan Migrasi PBB.

"Kapal yang mengangkut para migran itu diyakini adalah milik penyelundup yang berupaya membawa pengungsi ke Djibouti sambil terus memeras lebih banyak uang dari mereka," tulis pernyataan tersebut, Jumat (26/1/2018).

Baca juga: Permohonan Suaka Ditolak, Jerman Pulangkan 19 Warga Afghanistan

Di tengah perjalanan, kapal mendapat serangan dengan para penumpang kapal menjadi sasaran tembak. Kapal pun terpaksa memutar arah, namun kemudian terbalik.

PBB bekerja sama dengan penjaga pantai Yaman masih menyelidiki untuk mencari tahu kejadian sebenarnya.

"Akibat insiden itu, setidaknya 30 orang meninggal dunia, kebanyakan dari mereka tenggelam setelah kapal terbalik," tambah pernyataan itu dilansir AFP.

Telah lebih dari 9.200 nyawa melayang di Yaman setelah koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi melawan pemberontak Houthi pada 2015 lalu.

Ketidakpastian di negara itu memaksa banyak warganya memilih meninggalkan Yaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain.

Banyaknya korban jiwa yang terjadi memancing reaksi keras dari PBB.

"Konflik dan situasi tidak aman yang berkepanjangan di Yaman terus mengekspos pengungsi dan migran."

"Meningkatkan risiko pelanggaran hak asasi manusia, termasuk penangkapan, penahanan, perdagangan dan deportasi yang sewenang-wenang," tulis pernyataan PBB di Twitter.

Baca juga: Migran Afrika: Dipenjara Lebih Baik daripada Harus Kembali


EditorAgni Vidya Perdana
SumberAFP
Komentar

Close Ads X