Yaman Tangkap Tentara Anak-anak Houthi - Kompas.com

Yaman Tangkap Tentara Anak-anak Houthi

Kompas.com - 25/01/2018, 21:22 WIB
Sejumlah perempuan dan anak-anak berkumpul di Sanaa dan mengangkat senjata sebagai bentuk dukungan kepada kelompok pemberontak Yaman, Houthi (13/1/2018).Yahya Arhab/EPA Sejumlah perempuan dan anak-anak berkumpul di Sanaa dan mengangkat senjata sebagai bentuk dukungan kepada kelompok pemberontak Yaman, Houthi (13/1/2018).

SANA'A, KOMPAS.com - Pasukan pemerintah Yaman menyatakan telah menangkap 27 anak-anak di perbatasan Yaman-Saudi pada pekan lalu.

Seperti diberitakan Arab News Kamis (25/1/2018), anak-anak tersebut ditangkap karena bergabung dengan kelompok pemberontak Houthi.

Kantor berita SPA melansir, anak-anak tersebut dipaksa berperang oleh Houthi untuk mempertahankan kawasan perbatasan.

"Tindakan mereka dalam menggunakan anak-anak untuk berperang sangat keji, dan melanggar hukum internasional," kata seorang kepala polisi yang menahan tentara cilik tersebut.

Saba Net via The National memberitakan, Yaman bakal menyerahkan anak-anak itu kepada organisasi Palang Merah Internasional, dan Bulan Sabit Merah di Saudi.

Baca juga : Houthi Paksa Warga Sipil di Yaman untuk Berperang

Nantinya, mereka bakal dipindahkan ke fasilitas milik Saudi, Pusat Bantuan dan Kemanusiaan King Salman untuk direhabilitasi.

Fasilitas tersebut total menangani sekitar 80 anak-anak yang dipaksa Houthi untuk berperang di garis depan.

Sebelumnya, pasukan pemerintah dilaporkan menangkap 50 anggota milisi Houthi pada 8 Januari lalu.

30 di antara tentara tersebut masih di bawah umur. Bahkan, ada yang masih berusia 10 tahun.

Pada 28 Desember 2012, Houthi dilaporkan mulai berada di instansi publik seperti sekolah hingga perkantoran.

Mereka memaksa warga sipil untuk berperang setelah kehilangan banyak pejuang dan wilayah yang dikuasai.

Ketika mulai melaksanakan operasi perekrutan, Houthi tengah terdesak di garis depan al-Bayda oleh pasukan pemerintah dan koalisi yang dipimpin Saudi.

Sumber internal Houthi menyatakan, jika warga sipil menolak perekrutan tersebut, mereka bakal diculik untuk kemudian ditempatkan di garis depan.

Baca juga : Lebih 300 Tentara Anak ISIS Tewas di Mosul


EditorArdi Priyatno Utomo
Komentar

Close Ads X