Pemerintah Iran Tangkap Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad - Kompas.com

Pemerintah Iran Tangkap Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Kompas.com - 08/01/2018, 18:14 WIB
Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.ATTA KENARE / AFP Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

TEHERAN, KOMPAS.com - Pemerintah Iran dikabarkan menangkap mantan presdien Mahmoud Ahmadinejad di kota Shiraz karena dianggap memicu kerusuhan dan demonstrasi.

Pemerintah menyebut, pernyataan Ahmadinejad yang dia sampaikan di kota Bushehr adalah penyebab merebaknya unjuk rasa di negeri itu.

Harian Al-Quds Al-Arabi, koran berbahasa Arab terbitan London, mengutip sejumlah sumber menyebut, pemerintah berencana menempatkan Ahmadinejad dalam tahanan rumah dengan persetujuan Ayatollah Ali Khamenei.

Saat berkunjung ke kota Bushehr pada akhir Desember lalu, Ahmadinejad mengatakan, Iran menderita akibat "salah urus".

Baca juga : Dinyatakan Selewengkan Uang Negara, Ahmadinejad Terancam Dipenjara

Ahmadinejad menambahkan, pemerintahan Presiden Hassan Rouhani menganggap diri sebagai penguasa dan sama sekali tak memedulikan rakyat.

"Beberapa orang pemimpin saat ini hidup terpisah dari berbagai permasalahan rakyat dan tidak mengetahui kondisi masyarakat yang sesungguhnya," tambah Ahmadinejad seperti dikabarkan harian tersebut.

Pemerintah Iran kemudian menuduh Ahmadinejad memicu lebih banyak unjuk rasa. Tuduhan serupa juga dilontarkan kepada politisi Mehdi Karroubi dan mantan perdana menteri Mir-Hossein Mousavi.

Dalam sebuah pernyataan yang direkam video, Ahmadinejad juga melontarkan kritiknya kepada Amole Larijani, kepala sistem peradilan Iran.

"Saya tak punya anak yang menjadi mata-mata Barat, saya tak punya saudara yang menyelundupkan berbagai barang, dan saya tidak mencuri tanah untuk memelihara ternak," ujar Ahmadinejad.

Baca juga : Ahmadinejad Dicoret sebagai Kandidat Presiden Iran

Aksi unjuk rasa yang saat ini terjadi dianggap sebagai yang terbesar dalam hal menentang pemerntahan Iran sejak  Gerakan Hijau pada 2009, setelah Ahmadinejad terpilih kembali menjadi presiden.

Hingga Minggu (7/1/2017), unjuk rasa di Iran sudah memasuki hari kesebelas dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti meski sudah mengakibatkan 50 nyawa melayang.


EditorErvan Hardoko
Komentar

Close Ads X