Demo Anti-pemerintah Iran Masuk Hari Keenam, 21 Orang Tewas - Kompas.com

Demo Anti-pemerintah Iran Masuk Hari Keenam, 21 Orang Tewas

Ardi Priyatno Utomo
Kompas.com - 02/01/2018, 15:26 WIB
Seorang mahasiswi Universitas Teheran berunjuk rasa menentang kenaikan harga pokok Sabtu (30/12/2017). Demo tersebut merupakan yang paling serius sejak 2009AFP via BBC Indonesia Seorang mahasiswi Universitas Teheran berunjuk rasa menentang kenaikan harga pokok Sabtu (30/12/2017). Demo tersebut merupakan yang paling serius sejak 2009

TEHERAN, KOMPAS.com - Demonstrasi menentang pemerintahan Presiden Hassan Rouhani di Iran belum menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti.

Malah, seperti dilaporkan televisi pemerintah via AFP Selasa (2/1/2018), terdapat tambahan korban tewas akibat bentrokan antara para pengunjuk rasa dengan pihak keamanan.

Sembilan orang tewas ketika kerusuhan terjadi antara pasukan Garda Revolusi dengan para pengunjuk rasa di kawasan Isfahan.

Rinciannya, enam orang terbunuh ketika berusaha menyerang pos polisi di kota Qahderijan yang mempunyai populasi 30.000 jiwa tersebut.

Kemudian tiga orang tewas di kota Kahriz Sang. Dua di antaranya merupakan anggota penegak hukum, sedangkan sisanya merupakan warga sipil yang tengah melintas.

Baca juga : Demo Anti-pemerintah di Iran, 10 Orang Tewas

Dengan demikian, total sejak demonstrasi terjadi di Masyhad Kamis (28/12/2017), 21 orang tewas.

Sementara 450 orang ditahan di ibu kota Teheran dalam demo tiga hari terakhir.

"Bagi kami, ini lebih baik dari pada hanya sekedar duduk dan diam," ujar demonstran bernama Milad kepada Al Jazeera.

Sementara Aslan, pria 52 tahun yang tidak ikut berunjuk rasa, menuturkan sudah saatnya rakyat Iran menunjukkan bahwa mereka tidak bahagia.

"Pemerintah seharusnya membiarkan mereka turun ke jalan, dan protes apa yang mereka keluhkan," kata Aslan

Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Iran, Ali Shamkhani mengatakan, demo ini merupakan yang terburuk sejak 2009.

"Pesan yang ditampilkan terkait situasi di Iran berasal dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Arab Saudi," ujar Shamkhani.

Sebelumnya, demonstrasi bermula di Masyhad, kota terbesar kedua Iran, Kamis (28/12/2017).

Awalnya demo tersebut mengecam harga-harga barang yang tinggi, ekonomi yang tidak kunjung membaik, hingga merebaknya kasus korupsi.

Padahal, ketika meneken kesepakatan nuklir pada 2015 untuk mencabut sanksi internasional dari PBB, Presiden Rouhani menjanjikan perbaikan ekonomi.

Namun, faktanya tingkat penganggueran masih menembus angka 12,4 persen.

Demo kemudian merebak di kota besar lainnya seperti Qom, Kermanshah, hingga Teheran. Nahasnya, demo tersebut juga diselingi dengan konflik melawan para penegak hukum.

Baca juga : Iran Blokir Telegram dan Instagram yang Dianggap Media Provokator

PenulisArdi Priyatno Utomo
EditorArdi Priyatno Utomo
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM