Filipina Tuntut Rp 800 Miliar dari Produsen Vaksin Demam Berdarah - Kompas.com

Filipina Tuntut Rp 800 Miliar dari Produsen Vaksin Demam Berdarah

Veronika Yasinta
Kompas.com - 08/12/2017, 16:59 WIB
Vaksin demam berdarah Dengvaxia yang dihentikan penggunaannya oleh pemerintah Filipina.Noel Celis / AFP Vaksin demam berdarah Dengvaxia yang dihentikan penggunaannya oleh pemerintah Filipina.


MANILA, KOMPAS.com - Pemerintah Filipuna meminta pengembalian dana sebesar 59 juta dolar Amerika Serikat atau Rp 800 miliar, dari perusahaan obat pembuat vaksin demam berdarah asal Perancis, Sanofi.

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat (8/12/2017), Menteri Kesehatan Filipina, Francisco Duque mengatakan, Sanofi harus membayar dana ganti rugi untuk menutup biaya rawat inap dan perawatan medis semua anak yang menderita demam berdarah akut, akibat efek vaksin demam berdarah Dengvaxia.

"Kami meminta pengembalian dana sebesar 3 miliar peso (Rp 800 miliar) untuk Dengvaxia," katanya.

Pekan lalu, pemerintah Filipina menangguhkan program imunisasi nasional, setelah Sanofi menemukan risiko penggunaan vaksin Dengvaxia yang akan menyebabkan demam berdarah parah, bagi orang yang sebelumnya tidak pernah menderita penyakit tersebut.

Baca juga : Filipina Akan Tuntut Perusahaan Pembuat Vaksin Demam Berdarah

Pemerintah Filipina telah menghentikan penjualan vaksin Dengvaxia, dan memerintahkan penyelidikan.

Duque mengatakan, jumlah anak-anak berusia 9 tahun ke atas yang telah diimunisasi dengan Dengvaxia mencapai 830.000 orang, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya sebanyak 734.000 orang.

Program vaksinasi demam berdarah di Filipina telah diluncurkan pada 2016, dengan biaya sebesar 3,5 miliar peso atau Rp 938 miliar. Duque menyatakan, pemerintah telah membayar 3 miliar peso atau Rp 800 miliar ke Sanofi.

Kantor perwakilan Sanofi di Filipina belum merespons terkait tuntutan tersebut.

Baca juga : Pemerintah Filipina Desak Dilakukan Penyelidikan Vaksin Demam Berdarah

Namun, pada Senin (4/12/2017), manajemen Sanofi melaporkan tidak ada kematian yang berkaitan dengan vaksin Dengvaxia.

Duque mengatakan perusahaan Sanofi mengklaim Dengvaxia dibuat untuk memberikan perlindungan 30 bulan terhadap demam berdarah bagi mereka  menerima vaksin ini, termasuk mereka yang tidak pernah menderita demam berdarah sebelumnya.

Namun, terdapat kasus seorang gadis berusia 12 tahun di provinsi Tarlac, sebelah utara ibu kota Manila, yang telah menyelesaikan pengobatan vaksin Dengvaxia tiga dosis dan menunjukkan gejala demam berdarah parah.

Baca juga : Filipina Tangguhkan Program Vaksin DBD

Gadis itu menerima vaksin Dengvaxia pada Maret 2016, dan mendapatkan dosis ketiga Agustus tahun ini.

Demam berdarah merupakan penyakit yang sering menjangkit manusia yang tinggal di daerah tropis. Penyakit ini telah menewaskan sekitar 20.000 orang per tahun dan menginfeksi ratusan juta orang.

PenulisVeronika Yasinta
EditorVeronika Yasinta
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM