Bom Pembunuh Jurnalis Pengkritik Pemerintah Malta Diaktifkan Lewat SMS - Kompas.com

Bom Pembunuh Jurnalis Pengkritik Pemerintah Malta Diaktifkan Lewat SMS

Ardi Priyatno Utomo
Kompas.com - 07/12/2017, 11:29 WIB
Foto Daphne Caruana Galizia, jurnalis Malta yang tewas akibat bom mobil 16 OktoberMatthew Mirabelli/AFP Foto Daphne Caruana Galizia, jurnalis Malta yang tewas akibat bom mobil 16 Oktober

VALLETTA, KOMPAS.com - Aparat penegak hukum Malta mengembangkan dugaan tentang cara pembunuhan terhadap Daphne Caruana Galizia, jurnalis Malta yang tewas akibat ledakan bom 16 Oktober lalu.

Sebelumnya, dari 10 terduga pelaku yang ditangkap Senin (4/12/2017), tiga di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

Mereka adalah Vincent Muscat (55), dan dua kakak beradik Degiorgio George (54), dan Alfred (52).

Dilansir Malta Today Rabu (6/12/2017), sumber di Kejaksaan Malta berujar, bom yang membunuh Galizia diaktifkan menggunakan pesan pendek ( SMS).

Bom jenis TNT itu dipasang oleh Alfred Degiorgio di bawah kursi pengemudi yang diparkir di gang dekat rumah Galizia di Bidnija.

Baca juga : Malta Tetapkan 3 Orang sebagai Pelaku Pembunuhan Jurnalis Pengkritik Pemerintah

Dalam bom itu, terpasang sejenis piranti elektronik yang menggunakan kartu telepon, dan berfungsi sebagai pemicu.

Alfred kemudian memberi tahu George dia telah memasang bomnya.

George mengaktifkan bom itu dengan cara mengirimkan SMS ke nomor yang dipasang di bom sehingga meledakkan mobil beserta Galizia di dalamnya dari kapal yang bersandar di Pelabuhan Marsa.

"Polisi menemukan ponsel yang diduga digunakan pelaku untuk membunuh Daphne di dalam air," kata sumber tersebut dikutip dari Sky News.

Ketiganya menyangkal semua tuduhan tersebut.

Saksi mata berkata, saat kejadian dia melihat mobil itu meledak dua kali, tergelincir di lapangan sebelum kemudian terpanggang.

Putra Galizia, Mathew, berkata dia melihat jenazah ibunya hancur.

Galizia dibunuh karena dia kerap vokal mengkritik pemerintahan Perdana Menteri Joseph Muscat yang melakukan korupsi, dan terlibat dalam skandal Panama Papers.

Pembunuhan itu mendapat perhatian khusus dari Uni Eropa.

Delegasi Parlemen Eropa melakukan kunjungan ke Malta Sabtu (2/12/2017).

Ketua delegasi, Ana Gomes berujar, dari hasil kunjungan, didapati pengusutan terhadap Galizia nyatanya hanya berjalan di tempat.

Baca juga : Polisi Malta Tangkap 10 Terduga Pelaku Pembunuhan Jurnalis Pengkritik Pemerintah

PenulisArdi Priyatno Utomo
EditorArdi Priyatno Utomo
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM