Keputusan Trump soal Yerusalem Tuai Kemarahan Para Pemimpin Negara - Kompas.com

Keputusan Trump soal Yerusalem Tuai Kemarahan Para Pemimpin Negara

Veronika Yasinta
Kompas.com - 07/12/2017, 08:25 WIB
Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem. (AFP/Marina Passos) Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem. (AFP/Marina Passos)


WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai kemarahan dari para pemimpin dunia.

Banyak yang merasa langkah pemerintah AS tersebut mengancam stabilitas di seluruh wilayah, dan menghancurkan prospek pencapaian perdamaian antara Israel dan Palestina.

Pemerintah AS juga akan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (7/12/2017), berikut beberapa negara yang bereaksi terhadap keputusan Trump.

Baca juga : Trump Akui Kedaulatan Israel dengan Ibu Kota Yerusalem

Presiden Lebanon, Michel Aoun, menyebut keputusan AS mengancam proses perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

Pemerintah Yordania, menganggap keputusan tersebut ilegal.

"Keputusan tersebut mengawali status final dari negoisasi yang dapat memicu kemarahan, dan mengobarkan emosi umat Islam dan Kristen di seluruh negara Arab dan Islam," kata juru bicara pemerintah Yordania, Mohammad Al Momani.

Israel menduduki Yerusalem Timur pada akhir Perang 1967 dengan Suria, Mesir, dan Yordania, yang menempatkan seluruh kota di bawah kendali Israel secara de facto.

Masyarakat internasional tidak pernah mengakui klaim Israel atas seluruh Yerusalem.

Baca juga : Mengapa Pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel Sangat Kontroversial?

Menteri Luar Negeri Qatar, Sheik Mohammed bin Abdulrahman mengatakan. keputusan Trump merupakan hukuman mati bagi semua orang yang mencari kedamaian.

Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Sementara, Israel bersikeras kota ini adalah ibu kota yang bersatu, dan tak dapat dibagi.

Presiden Perancis, Emmanuel Macron, menuliskan tanggapannya di Twitter.

"Pemerintah Perancis tidak menyetujui keputusan tersebut dan mendukung solusi dua negara, Israel dan Palestina, sehingga hidup damai dan aman, dengan Yerusalem sebagai ibu kota kedua negara," tulis Macron.

Sementara itu, Pemerintah Pakistan menilai langkah Trump merupakan pelanggaran jelas terhadap hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan perlindungan status Yerusalem menjadi sangat penting saat ini.

Berbeda dengan mereka, sambutan terhadap keputusan Trump ditanggapi dengan suka cita di Israel.

Baca juga : Turki Ancam Putus Hubungan Diplomatik dengan Israel

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan keputusan Trump soal Yerusalem menjadi hari bersejarah bagi negaranya.

Menurutnya, Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel selama hampir 70 tahun.

"Yerusalem menjadi fokus dari harapan, impian, dan doa kami selama 3.000 tahun. Yerusalem telah menjadi ibu kota orang-orang Yahudi selama 3.000 tahun," katanya dalam sebuah pernyataan.

Presiden Israel, Reuven Rivlin, juga menyambut baik pengumuman Trump. Dia mengatakan tidak ada lagi hadiah yang pantas dan seindah itu, ketika mendekati 70 tahun kemerdekaan Israel.

"Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan relokasi semua kedutaan ke kota itu, merupakan tanda pengakuan hak orang-orang Yahudi ke tanah kami," ujarnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisVeronika Yasinta
EditorVeronika Yasinta
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM