Mengapa Pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel Sangat Kontroversial? Halaman 1 - Kompas.com

Mengapa Pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel Sangat Kontroversial?

Veronika Yasinta
Kompas.com - 06/12/2017, 11:01 WIB
Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem. (AFP/Marina Passos) Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem. (AFP/Marina Passos)


YERUSALEM, KOMPAS.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu (6/12/2017) waktu setempat.

Dilansir dari CNN, pengumuman itu juga sebagai langkah memenuhi janji kampanyenya untuk memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Seperti diketahui, Israel dan Palestina mengklaim kota suci tersebut sebagai ibu kota mereka.

Keputusan Trump bakal memicu aksi demonstrasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan di kedutaan dan konsulat AS.

Lalu, mengapa pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel menjadi sangat kontroversial?

Baca juga: Trump Diklaim Bakal Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Status final Yerusalem selalu menjadi salah satu hal tersulit dan menyulutkan pertanyaan sensitif dalam konflik Israel dan Palestina.

Jika AS mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, hal itu seakan menjawab pertanyaan tersebut secara sepihak. Padahal, masalah tersebut akan berbenturan dengan konsensus internasional mengenai kota suci itu.

Mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel juga selangkah lebih maju untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem yang semakin mempererat Israel berdaulat atas kota tersebut.

Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem bisa saja menjadi mudah karena AS juga menempatkan konsulatnya di Yerusalem, sementara gedung kedutaan berada di Tel Aviv.

Baca juga: Menlu Panggil Dubes AS, Tanya Aksi Trump Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Namun, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pemindahan Kedubes AS berisiko menyulut krisis diplomatik dengan negara Arab, termasuk protes massa yang meluas di luar gedung Kedubes AS di negara-negara tersebut.

Pengakuan ini akan menggulingkan 70 tahun konsensus internasional terkait Yerusalem. Di sisi lain, pengakuan itu secara efektif akan memberi sinyal mengakhiri upaya mencapai perdamaian antara Israel dan Palestina.

Sejak 1995, Kongres AS mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan AS memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem. AS dianggap harus menghormati pilihan Israel atas Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Baca juga: Liga Arab: Pengakuan AS Terkait Yerusalem Bisa Picu Kekerasan

Namun, mantan Presiden AS, seperti Bill Clinton, George W Bush, dan Barack Obama, menolak memindahkan kedutaan tersebut dengan alasan kepentingan keamanan nasional.

Keputusan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem terus diperbarui setiap enam bulan sekali.

Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisVeronika Yasinta
EditorVeronika Yasinta
SumberCNN
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM