Polisi PNG Usir Penghuni Kamp Pengungsi di Pulau Manus - Kompas.com

Polisi PNG Usir Penghuni Kamp Pengungsi di Pulau Manus

Kompas.com - 23/11/2017, 12:25 WIB
Polisi PNG tengah memberi pengarahan kepada para penghuni kamp pengungsi Pulau Manus.Australia Plus Polisi PNG tengah memberi pengarahan kepada para penghuni kamp pengungsi Pulau Manus.

CANBERRA, KOMPAS.com - Menteri Imigrasi dan Perlindungan Perbatasan Australia Peter Dutton membenarkan operasi polisi Papua Niugini di pusat detensi Pulau Manus pada Kamis (23/11/2017) pagi.

Dutton menyatakan, ratusan penghuni tempat itu akan dipindahkan dari pusat penampungan yang secara resmi telah ditutup tersebut.

"Rakyat Australia telah membayar sekitar 10 juta dolar untuk fasilitas baru dan kami menghendaki orang-orang pindah ke sana," katanya kepada stasiun radio Sydney 2GB.

"Tentu, pada akhirnya hal ini merupakan masalah bagi polisi PNG dan pihak berwenang di sana tapi memang ada operasi yang melibatkan polisi pagi ini," jelasnya.

Baca juga : Papua Niugini Akan Tutup Pusat Detensi di Pulau Manus

Sebelumnya, pengungsi asal Iran Behrouz Boochani lewat akun Twitter-nya melaporkan aparat keamanan PNG secara agresif meminta para penghuni kamp untuk pergi.

Kondisi tersebut memicu kembali ketegangan dalam beberapa pekan terakhir setelah pusat detensi itu ditutup.

Mantan wartawan tersebut mengatakan, polisi PNG yang disebut "dipandu" seorang perwira Kepolisian Federal Australia (AFP), memasuki kamar-kamar di kompleks Delta dan memaksa penghuninya untuk pergi.

"Imigrasi dan polisi mulai memeriksai kamar dan menyatakan 'Move Move' Anda punya waktu satu jam untuk keluar," tulisnya.

"Banyak tekanan dan ketegangan di Delta sini. Beberapa pengungsi menangis," tambahnya.

"Seorang anggota Kepolisian Federal Australia sedang memandu pasukan PNG, ada sekitar 50 personel yang mengancam orang untuk pergi," kata Boochani.

Menanggapi laporan adanya seorang petugasnya yang memandu operasi aparat kepolisian PNG, dalam pernyataannya kepada ABC, AFP menjelaskan keberadaan seorang petugas penghubung di Provinsi Manus yang bekerja "dalam kapasitas pendampingan".

"AFP tidak memiliki anggota di bekas pusat pemrosesan regional Manus dan tidak terlibat dalam tindakan hari ini," tambahnya.

Menteri Dutton meminta aktivis yang "bermaksud baik" untuk berhenti mendorong pencari suaka dan pengungsi tetap bertahan di pusat detensi itu.

"Dengan memberita tahu mereka untuk patuh pada pihak berwenang, menolak paket untuk kembali ke negara asal mereka, terima juga bahwa posisi kami tidak akan berubah," kata Dutton.

Baca juga : Detensi di Pulau Manus Ilegal, Manusia Perahu Tak Pantas Dihukum

"Beberapa dari mereka percaya bahwa jika ada kekerasan dengan polisi dan rekamannya disiarkan ke sini, hal itu akan melemahkan dan mengubah kebijakan kami. Namun dalam keadaan apapun orang-orang ini boleh datang ke Australia," kata Menteri Dutton.

Sementara itu, Shen Narayanasamy dari LSM advokasi GetUp mengatakan, pihaknya telah menerima laporan bahwa para penghuni bekas pusat detensi itu diminta untuk pergi.

"Saya diberitahu bahwa polisi PNG telah memasuki kamp dalam jumlah besar dengan tujuan mengusir mereka dari kamp secara paksa," katanya.

Beberapa jam kemudian Boochani mengatakan, ancaman terus berlanjut menjadi lebih agresif.

Juru bicara Partai Hijau untuk urusan imigrasi Nick McKim mengatakan pihaknya mendapat informasi adanya sekitar 100 polisi PNG di dalam detensi "menggiring mereka ke area kecil dan mengambil ponsel mereka".

"Ada ketakutan besar para tahanan bahwa kekerasan akan dilakukan terhadap mereka. Mereka bertekad untuk tetap damai," kata McKim.

"Namun jika ada kekerasan dan jika terjadi pertumpahan darah hal itu akan terjadi karena pilihan dan keputusan yang dibuat Malcolm Turnbull dan Peter Dutton," kata Senator McKim.

Baca juga : Pusat Detensi Pengungsi Pulau Manus Kecewakan Warga Lokal

EditorErvan Hardoko
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM