Kisah Zulfarhan, Calon Perwira yang Tewas Disiksa Rekan-rekannya - Kompas.com

Kisah Zulfarhan, Calon Perwira yang Tewas Disiksa Rekan-rekannya

Karim Raslan
Kompas.com - 21/11/2017, 21:55 WIB
Hawa memasang foto almarhum anak lelakinya, Zulfarhan Osman, sebagai screensaver di ponsel.
Karim Raslan Hawa memasang foto almarhum anak lelakinya, Zulfarhan Osman, sebagai screensaver di ponsel.

PADA 1 Juni 2017 tepatnya pukul 11.30, Zulkarnain Idros, pengemudi taksi berusia 53 tahun, menerima panggilan telepon.

Panggilan tersebut dari petugas Universitas Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM), tempat anak laki-lakinya yang paling tua, Zulfarhan Osman (21), menuntut ilmu untuk menggapai impiannya menjadi seorang Angkatan Laut.

 “Anak Anda telah meninggal,” ujar petugas di telepon kepada Zulkarnain.

Suasana seketika menjadi hening.

 “Apa yang terjadi?”

 “Anak Anda meninggal terbakar,” begitu jawab suara di ujung telepon. 

Ketika Hawa Osman, istri Zukarnain yang berusia 54 tahun mendengar berita tersebut, air matanya langsung membanjiri wajahnya. “Allah, anak saya…”

Awalnya, petugas universitas tersebut membacakan nomor identitas militer milik Zulfarhan melalui telepon. Karena merasa tidak terima dan tidak percaya adanya kabar buruk tersebut, sang ayah meminta nomor identitas kartu tanda penduduknya.

"Pikiran saya seperti tidak karuan" kata Zulkarnain yang memiliki wajah bulat. "Saya terus berpikir bahwa itu semua hanyalah sebuah kesalahan. Mungkin saja itu anak orang lain? Saya perlu melihat dengan mata kepala saya sendiri. "

Tengah malam itu juga, Zulkarnain, Hawa dan ketiga anak mereka yang masih kecil berangkat dari rumah mereka di Johor, Malaysia bagian selatan, untuk melakukan perjalanan sejauh 300 km ke Rumah Sakit Serdang di Kajang, Selangor.

Hawa, dengan ekspresinya yang emosional dan sedih mengingat bagaimana dirinya telah menduga ada sesuatu yang tidak beres sebelum telepon tersebut.

 “Anak saya selalu menelpon setiap malam, tetapi saya sudah tidak menerima panggilan teleponnya lebih dari sepekan. Saya pikir mungkin karena telepon selulernya hilang. Beberapa hari kemudian, saya sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres,” tutur Hawa.

Akhirnya pada pukul 3 dini hari, keluarga Zukarnain tiba di rumah sakit Serdang. Petugas UPNM datang menemui mereka.

Sayangnya, mereka tidak langsung diizinkan untuk melihat jenazahnya hingga pukul 9 pagi, seolah membiarkan mereka melewati waktu yang sangat menyakitkan selama enam jam.

Menurut laporan berita, Zulfarhan diduga disiksa oleh sekelompok rekan-rekannya dari 21 hingga 22 Mei 2017 karena dituduh mencuri laptop.

Zulfarhan disiksa menggunakan setrika uap yang lalu ditekan-tekan dan digosokkan di sepanjang bagian tubuh serta badannya. Sabuk, selang karet, dan gantungan baju juga digunakan untuk menyiksanya.

Zulfarhan (tengah) bercita- cita suatu hari nanti dapat menjadi kapten kapal angkatan laut. Handout photo Zulfarhan (tengah) bercita- cita suatu hari nanti dapat menjadi kapten kapal angkatan laut.
Penyiksaan tersebut diduga dilakukan di asrama UPNM antara pukul 02.30 dan 05.30 pada 21 Mei 2017 dan kemudian kembali dilakukan keesokaan harinya pada pukul 01.30 sampai 05.45 dini hari.

Laporan dari berita yang sama juga menyebutkan bahwa sepekan kemudian pada 27 Mei 2017, dua rekan setimnya membawa Zulfarhan ke sebuah klinik di Bangi untuk menjalani perawatan. Mereka kemudian membawanya kembali ke klinik tersebut pada 31 Mei 2017.

Pada 1 Juni 2017, tepatnya sebelas hari setelah penyerangan, Zulfarhan akhirnya dibawa ke rumah sakit. Zulfarhan meninggal hanya beberapa saat setelah tiba di rumah sakit meski para dokter sempat melakukan dua kali upaya pertolongan untuk menyembuhkan kembali tubuhnya yang telah hancur.

Bagi orangtua, perasaan awal saat melihatnya begitu menegangkan dan luar biasa menyakitkan. Seperti yang Hawa jelaskan, "Ketika mereka pertama kali membawa kami masuk untuk mengidentifikasinya, kami hanya ditunjukkan mukanya."

Hawa mengatakan hal ini dengan tangan di dadanya, menerangkan bagian tubuh Zulfarhan yang sudah dibuka semuanya.

"Kami meminta untuk melihat seluruh tubuh anak laki-laki kami," ucapnya. Saat itu, suara Hawa menjadi lebih pelan seakan rasa sakit saat berduka kembali masuk ke dalam dirinya.

Menurut laporan otopsi, 80 persen tubuh Zulfarhan terkena luka bakar.

Zulkarnain kembali menceritakan, "Saya tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana rasanya melihat anak laki-laki kami di sana. Air mata saya seperti sudah habis. Ini sangat menghancurkan hati ibunya. Ibunya telah melahirkannya dengan baik seorang bayi laki-laki yang sehat."

Sang ayah melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata, "Saya tidak bisa berhenti bertanya pada diri sendiri. Mengapa kami harus menguburnya seperti ini? Apa yang terjadi?"


Hawa Osman, 54 th, dan Zulkarnain Idros, 53 th, berniat untuk menghadiri semua sidang pengadilan untuk mengetahui kebenaran tentang kematian anak mereka.
Karim Raslan Hawa Osman, 54 th, dan Zulkarnain Idros, 53 th, berniat untuk menghadiri semua sidang pengadilan untuk mengetahui kebenaran tentang kematian anak mereka.
Tubuh Zulfarhan dikuburkan oleh keluarganya pada 2 Juni 2017 pukul 15.00. Zulfarhan dimakamkan di Johor malam itu.

Saya bertemu keluarga tersebut di Kompleks Pengadilan Kuala Lumpur pada 27 Oktober 2017. Kedua orangtua tersebut memakai kaus bertuliskan #justice4farhan di dada. Pengadilan tersebut menyebutkan bahwa terdapat 19 pemuda yang terlibat dalam kematian Zulfarhan.

Lima pemuda didakwa melakukan pembunuhan dan satu pemuda didakwa ikut bersekongkol. Para pelaku terancam hukuman mati karena tuduhan tersebut.

Para pemuda yang terlihat masih sangat muda dimasukkan ke dalam penjara. Mereka diborgol di samping para pelaku narkoba dan pencuri kecil yang sudah sering keluar masuk pengadilan.

Tiga belas pemuda lainnya didakwa dengan sengaja menyebabkan luka bakar dan jika terbukti bersalah, mereka akan menghadapi hukuman 7 tahun penjara. Mereka tidak langsung dikirim ke penjara saat itu.

Para terdakwa yang saat itu memakai kemeja formal lengan panjang dan bahkan ada yang memakai jas, disuruh menunggu di samping dan di belakang tempat persidangan.

Generasi masa depan

Saat petugas registrasi meneriakkan nama mereka, mereka berjalan seperti berbaris. Saya ingat pernah berpikir bahwa mereka adalah calon perwira militer, yang ke depannya akan memadati dermaga dan kadang menimbulkan kebingungan.

Saya merasa sangat terganggu dengan suasana di pengadilan. Itu sangat aneh.

Semua pemuda berwajah segar dan cerdas terlihat di sini. Dalam konteks lain, saya berpikir, "Inilah sekelompok anak muda yang sebenarnya bermasa depan cerah. Masa depan negara saya."

Tetapi sebaliknya, mereka malah berkumpul di tengah ruang sidang. Kini masa depan mereka menjadi tidak pasti karena tindakan yang telah mereka lakukan pada Zulfarhan sekitar enam bulan lalu.

Seorang anak laki-laki, salah satu dari kelompok mereka telah meninggal dengan sangat mengerikan.

Hanya segerombolan sembilan belas pemuda ini yang tahu alasannya. Hanya mereka juga yang tahu bagaimana mereka melakukannya.

Zulfarhan Osman (kanan berbaju seragam putih) adalah mahasiswa teknik elektro tahun ketiga di Universitas Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM) dimana Ia juga dilatih sebagai calon perwira.Handout photo Zulfarhan Osman (kanan berbaju seragam putih) adalah mahasiswa teknik elektro tahun ketiga di Universitas Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM) dimana Ia juga dilatih sebagai calon perwira.
Sepanjang persidangan, Zulkarnain, Hawa, dan anak perempuan mereka yang berusia 15 tahun duduk di barisan depan tempat persidangan. Terdiam dan tenang, mereka memandangi para tersangka pelaku pembunuhan anak mereka yang memadati di depan mereka.

Sementara itu, di sekitar mereka terdapat juga orangtua para kesembilan belas terdakwa.  Beberapa terlihat menunjukkan muka malu dan beberapa ada yang mencoba menghibur anak laki-laki mereka.

Setelah melihat perbedaan tingkah laku para orangtua, saya bertanya apakah Zulkarnain melakukan interaksi dengan mereka.

Sang ayah menjelaskan, “Dua orangtua terdakwa mendekati saya untuk memohon maaf.”

 “Saya berkata kepada mereka. Jika saya memaafkan Anda apakah anak saya akan kembali?”

Namun setidaknya dalam masa percobaan yang tertunda, keluarga tersebut mendapatkan  gambaran bagaimana hari terakhir anak laki-laki mereka dan alasan kematiannya, di mana terdapat sebuah kekerasan yang luar biasa brutal di balik kematiannya.

Zulkarnain dengan blak-blakan menggambarkan bagaimana perasaan mereka saat itu. "Kami tidak tahu apa yang terjadi di sepanjang minggunya ketika anak saya disiksa hingga ditemukan meninggal. Sepertinya tidak ada yang menyadari bahwa dia hilang dan karena itulah kami harus datang ke persidangan."

Seperti yang diwajibkan, saat giliran jaga malam, ketidakhadiran Zulfarhan malah dirahasiakan.

Hawa menambahkan, "Terdapat banyak rumor sejak kejadian tersebut. Kami telah mendengar banyak hal tentang apa yang terjadi, tapi kami perlu mencari tahu fakta kebenarannya. Meskipun kasus ini akan memakan waktu yang sangat lama, saya akan terus mengikutinya demi anak saya. Kami tidak bisa begitu saja membiarkannya pergi. "

Anda dapat mengerti mengapa Anda dapat terbawa untuk mendengarkan cerita Zulkarnain yang meski menderita, tetapi tidak pernah kehilangan senyumannya hangat dan juga Hawa ketika berbicara tentang anak sulung mereka.

Zulfarhan adalah seorang mahasiswa Teknik Elektro tahun ketiga yang begitu dicintai dan bertanggung jawab. Dia bermimpi menjadi seorang kapten kapal suatu hari nanti.

Namun, impiannya tersebut telah sirna. Begitu juga dengan para kesembilan belas terdakwa, yang masa depannya hampir tidak menentu. Proses pengadilan yang tanpa akhir. Masa depan karir yang cemerlang telah hancur.

Di tengah-tengah kejadian tersebut, Hawa, seorang ibu yang masih berduka tetap memiliki hati yang kukuh. "Saya harus tahu, saya dapat menerima bahwa anak saya telah meninggal, tetapi saya tidak dapat menerima cara dia meninggal."

EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM