Pemerkosaan Perempuan Rohingya Dilakukan Lebih dari 5 Tentara Myanmar - Kompas.com

Pemerkosaan Perempuan Rohingya Dilakukan Lebih dari 5 Tentara Myanmar

Ardi Priyatno Utomo
Kompas.com - 16/11/2017, 15:56 WIB
Wanita dan anak-anak imigran asal Myanmar dan Bangladesh menunggu di tenda darurat di Desa Matang Raya, Baktya, Aceh Utara, 10 Mei 2015. Sebanyak 469 orang asal Myanmar dan Bangladesh ditemukan terdampar di perairan utara Aceh.AFP PHOTO / REZA JUANDA Wanita dan anak-anak imigran asal Myanmar dan Bangladesh menunggu di tenda darurat di Desa Matang Raya, Baktya, Aceh Utara, 10 Mei 2015. Sebanyak 469 orang asal Myanmar dan Bangladesh ditemukan terdampar di perairan utara Aceh.

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Lembaga Pengamat HAM menilai, serdadu Myanmar melakukan kekerasan fisik secara sistemtis ketika melakukan operasi militer kepada etnis Rohingya 25 Agustus lalu.

Dilansir Sky News Kamis (16/11/2017), penilaian itu didasarkan pada wawancara 52 perempuan Rohingya, baik dewasa maupun anak-anak, dari 19 berbeda.

Wawancara itu dilakukan di kamp pengungsi di Banglades.

29 di antara 52 perempuan tersebut mengaku diperkosa. Hanya satu yang mengatakan diperkosa secara bergiliran.

Salah satunya adalah Hala Sadak dari Desa Hathi Para. Perempuan 15 tahun itu berkata dia telah diperkosa oleh 10 tentara.

Baca juga : 25.000 Anak Etnis Rohingya di Pengungsian Alami Gizi Buruk

"Ketika kakakku datang untuk menyelamatkan saya, saya sudah terbaring di rerumputan. Mereka mengira saya sudah mati," ungkap Sadak.

Skye Wheeler, penulis laporan itu menjelaskan, dalam delapan kasus yang dia temukan, perkosaan itu dilakukan lima orang atau lebih tentara Myanmar.

Akibatnya, korban terpaksa berjalan berhar-hari dengan menahan rasa sakit di organ kewanitaan mereka untuk mencapai Banglades.

"Perkosaan sudah menjadi ciri khas dari tentara Myanmar ini dalam kampanye mereka membersihkan etnis Rohingya," kecam Wheeler.

Tindakan barbar ini, lanjut Wheeler, telah membuat puluhan perempuan Myanmar mengalami trauma fisik dan mental.

Baca juga : Negara Islam Desak PBB Perjuangkan Nasib Rohingya

Laporan yang dirilis Wheeler terjadi setelah Utusan Khusus PBB Bidang Kekerasan Seksual, Pramila Patten, memberikan ulasannya.

Patten menyatakan, aparat keamanan Myanmar terbukti mengatur dan memerintahkan kekerasan seksual.

Fakta ini membuat banyak pihak mendesak Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi embargo senjata kepada Myanmar.

Namun, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, menilai sanksi tidak akan serta-merta menyelesaikan krisis kemanusiaan di Myanmar.

Akibat operasi militer yang dilakukan militer, sebanyak 600.000 orang mengungsi ke Banglades.

Baca juga : Menlu Tillerson Sebut Sanksi ke Myanmar Tidak Akan Selesaikan Krisis Rohingya

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisArdi Priyatno Utomo
EditorArdi Priyatno Utomo
SumberSky
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM