China Akan Bangun Terowongan Tibet-Xinjiang Sepanjang 1.000 Kilometer - Kompas.com

China Akan Bangun Terowongan Tibet-Xinjiang Sepanjang 1.000 Kilometer

Ervan Hardoko
Kompas.com - 30/10/2017, 16:42 WIB
Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet.Wikipedia Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet.

BEIJING, KOMPAS.com - Para insinyur China saat ini sedang menguji teknologi yang akan digunakan untuk membuat terowongan sepanjang 1.000 kilometer dari Tibet ke Xinjiang.

Terowongan yang akan akan dibangun dari dataran paling tinggi di dunia itu diklaim nantinya akan mengubah Xinjiang menjadi California.

Saat ini, terowongan terpanjang di China hanya sepanjang 85 kilometer yaitu yang digunakan dalam proyek pengairan Dahofang di provinsi Liaoning.

Sedangkan terowongan terpanjang di dunia adalah jaringan pemasok air bersih di New York sepanjang 137 meter.

Baca juga : China Berencana Kembangkan Wisata Everest di Perbatasan Tibet

Sementara itu, peerintah China pada Agustus lalu telah memulai pembangunan terowongan sepanjang 600 kilometer di provinsi Yunnan.

Terowongan di Yunnan ini terdiri atas 60 seksi yang setiap bagiannya cukup luas untuk menamping dua jalur kereta api cepat.

Terowongan ini akan menembus pegunungan yang terletak beberapa ribu meter di atas permukaan laut di kawasan yang secara geologis tak stabil.

Para ilmuwan mengatakan, pembangunan terowongan di Yunnan ini merupakan "uji coba" teknologi, metode teknik, dan peralatan baru yang dibutuhkan untuk pembangunan terowongan Tibet-Xinjiang.

Terowongan ini nantinya akan mengalihkan air dari Sungai  Yarlung Tsangpo di wilayah selatan Tibet ke Gurun Taklimakan, Xinjiang.

Sungai Yarlung Tsangpo ini mengalir hingga ke India yang kemudian mmembentuk Sungai Brahmaputra yang akan bergabung dengan aliran Sungai Gangga yang melintasi Banglades.

Dataran tinggi Tibet menghalangi angin muson dari Samudera Hindia yang membawa hujan sehingga tak bisa mencapai Xinjiang.

Baca juga : China Pindahkan Jutaan Warga Tibet ke Daerah Lain

Akibatnya, 90 persen wilayah Gurun Gobi di sisi utara dan Gurun Taklimakan di sisi selatan Xinjiang tak bisa menunjang kehidupan manusia.

Gurun Taklimakan berada di kaki dataran tinggi Tibet, yang dikenal dengan sebutan "Menara Air" Asia.

Dari Tibet setiap tahun mengalir 400 miliar ton air yang juga menjadi sumber beberapa sungai besar seperti Sungai Kuning, Yangtze, Mekong, dan Gangga.

Sebenarnya rencana membuat mengalihkan air dari Tibet ke Xinjiang sudah muncul sejak abad ke-19 yang diajukan para pejabat kerajaan saat itu Lin Zexu dan Zuo Zongtang.

Ide itu kemudian dikembangkan Kementerian Sumber Daya Air yang merencanakan proyek ini lengkap dengan bendungan, pompa, dan terowongan.

Namun, biaya yang amat besar, tantangan teknis, dampak lingkungan, hingga protes dari negara tetangga membuat rencana ini tak  pernah menjadi kenyataan.

Lalu jika proyek ini nantinya akan dikerjakan berapa biayanya?

Sebagai gambaran, terowongan Yunnan yang membutuhkan waktu delapan tahun pembangunan diperkirakan bakal menghabiskan biaya 11,7 miliar dolar AS atau hampir Rp 160 triliun.

Terowongan Yunnan ini mampu memindahkan lebih dari tiga ton air setiap tahun dari wilayah barat laut ke wilayah tengah provinsi ini yang kekurangan air.

Baca juga : China Intensifkan Pemantauan Digital atas Warga Tibet

Jika proyek ini rampung, maka tak kurang dari 11 juta orang akan mendapatkan manfaatnya. Demikian pernyataan pemerintah provinsi Yunnan.

Jadi terowongan Tibet-Xinjiang yang lebih panjang dan dengan kapasitas yang lebih besar tentu biaya pembangunannya tentu akan jauh lebih mahal.

PenulisErvan Hardoko
EditorErvan Hardoko
SumberSCMP
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM