Perjuangan Hasina, Lahirkan Bayi di Tengah Panasnya Tenda Pengungsi... - Kompas.com

Perjuangan Hasina, Lahirkan Bayi di Tengah Panasnya Tenda Pengungsi...

Kompas.com - 12/10/2017, 16:57 WIB
Gambar yang diambil pada 11 Oktober 2017 ini menunjukkan wanita Rohingya hamil Hasina Aktar terbaring di tempat tidur dengan bayinya yang baru lahir, Mohammed Jubayed di sebuah pusat medis di kamp pengungsi Kutupalong.AFP/MUNIR UZ ZAMAN Gambar yang diambil pada 11 Oktober 2017 ini menunjukkan wanita Rohingya hamil Hasina Aktar terbaring di tempat tidur dengan bayinya yang baru lahir, Mohammed Jubayed di sebuah pusat medis di kamp pengungsi Kutupalong.

KUTUPALONG, KOMPAS.com - Tangis bayi yang baru dilahirkan, terdengar di antara hiruk pikuk dan panasnya udara kamp pengungsian Rohingya di Kutupalong, Banglades, Rabu (11/10/2017) siang.

Bayi yang diberi nama Mohammed Jubayed itu lahir di dalam sebuah tenda militer, di wilayah yang kini dipadati sejuta pengungsi Rohingya.

Awalnya, sebuah becak terlihat mengangkut seorang ibu muda yang terus mencengkeram perutnya sambil mengerang kesakitan.

Ibu yang belakangan diketahui bernama Hasina Aktar itu, sudah memasuki masa persalinan, dan menanti kelahiran anak keduanya.

Siang itu, ada dua wanita yang lebih tua, membantu Hasina, perempuan 20 tahun yang terus merintih kesakitan.

Baca: 3 Warga Rohingya Ditangkap Bawa 800.000 Pil Meth ke Banglades

Dua perempuan itu membantu Hasina berjalan beberapa langkah dari becak ke dalam tenda.

Tenda tersebut adalah sebuah klinik darurat yang baru saja disiapkan oleh tentara Banglades di Kutupalong.

Kutupalong merupakan kamp pegungsian terbesar di perbatasan dengan Myanmar.

Di dalam tenda, udaranya amat panas. Hasina hanya bisa tergeletak di atas kasur, dengan tangan yang terus mencengkram sisi tenda.

Butiran-butiran keringat terlihat jelas membasahi kulitnya.

Seorang perawat menahannya di bawah kaki, saat rasa sakit di perempuan itu kian memuncak.

Sementara itu, Ibu mertua Hasina, Fatima, adalah satu-satunya keluarga yang mendampinginya.

Perempuan itu baru berusia 40 tahun, tapi terlihat jauh lebih tua dari umurnya.

Fatima meringkuk di sisi Hasina, dan terus mengusap rambut menantunya itu untuk menenangkan.

Tak lama berselang, suara tangis bayi terdengar dari balik terpal penyekat yang memberi ruang privasi minimal bagi Hasina. 

Seorang tentara bergegas masuk ke dalam tenda, lalu berbalik ke arah kiblat dan mengumandangkan azan di telinga bayi mungil itu.

"Dalam budaya Muslim, sangat penting bahwa kata pertama yang didengar bayi yang baru lahir adalah nama Tuhan," kata tentara bernama Abdul Khalek itu kepada AFP.

Baca: Banglades Siap Bangun 14.000 Kamp untuk Pengungsi Rohingya

Data Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebutkan, jumlah perempuan hamil atau pun ibu menyusui terhitung 1:10 dari sekitar 520.000 pengungsi Rohingya yang tiba di Banglades dalam enam minggu terakhir.

Wanita-wanita dan bayi-bayi mereka menjadi kelompok yang paling rentan untuk hidup dalam kondisi putus asa di pengungsian.

Bagaimana tidak?  Usaha untuk mendapatkan makanan dan air bersih di tempat itu adalah sebuah perjuangan yang maha berat.

Banyak ibu hamil telah berjalan berhari-hari untuk mencari keselamatan di Banglades. Tak sedikit dari mereka yang harus bertahan tanpa makanan, atau air yang cukup.

Relawan yang bekerja di lokasi pengungsian itu mengatakan, beberapa perempuan pun mengalami pendarahan sampai tewas di pengungsian.

Baca: Banglades Larang 3 Badan Amal Bantu Pengungsi Rohingya, Ada Apa?

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM