Paus Fransiskus Melawat Myanmar di Tengah Guncangan Krisis Rohingya - Kompas.com

Paus Fransiskus Melawat Myanmar di Tengah Guncangan Krisis Rohingya

Kompas.com - 12/10/2017, 15:50 WIB
Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi bertemu Paus Fransiskus di Vatikan City, Kamis (4/5/2017).  TONY GENTILE/AFP Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi bertemu Paus Fransiskus di Vatikan City, Kamis (4/5/2017).

YANGON, KOMPAS.com – Paus Fransiskus akan melakukan pembicaraan damai pada lawatannya ke Myanmar, kata Wakil Gereja Katolik pada Kamis (12/10/2017).

Lawatan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Sedunia itu berlangsung di tengah krisis keamanan dan kemanusiaan yang dialami warga minoritas Muslim Rohingya di negara dengan mayoritas penduduknya Buddhis itu.

Menurut kantor berita Perancis, AFP, krisis di negara bagian Rakhine, Myanmar, itu telah menyebabkan gelombang pengungsian ratusan ribu warga Rohingya ke Banglades, negara dengan mayoritas penduduknya Muslim.

Militer Myanmar dituding telah melakukan kekerasan mematikan ketika hendak memburu milisi Rohingnya yang menyerang lebih dari 30 pos keamanan pada 25 Agustus 2017.

Kunjungan Paus dijadualkan berlangsung pada 27-30 November.  Juru bicara Gereja Katolik Myanmar mengatakan, belum diketahui pasti apakah Paus akan menyoroti krisis Rohingya.

Baca: Suu Kyi Temui Paus, Myanmar dan Vatikan Jalin Hubungan Diplomatik

Namun, ketika krisis Rakhine menjadi perhatian global untuk pertama kalinya pada Oktober 2016 - setelah milis Rohingya membunuh sembilan polisi dalam serangan ke sebuah pos perbatasan - Paus menyapa Muslim Rohingya sebagai “saudara laki-laki dan perempuan”.

"Kami belum tahu apa yang akan disampaikannya... tapi dia akan datang untuk kepentingan negara ini dan akan berbicara tentang perdamaian," kata Pastor Mariano Soe Naing, juru bicara Konferensi Uskup Myanmar seperti dilaporkan AFP.

"Tidak akan ada pertemuan (dengan tokoh, Red) antaragama karena kurangnya waktu," katanya, meskipun demikian, Paus akan bertemu dengan otoritas tertinggi Buddhis.

Menurut AFP, setiap komentar yang terkesan mendukung Rohingya dapat memicu reaksi keras dari tokoh-tokoh agama garis keras dalam masyarakat mayoritas Buddis, yang selama ini terpojok oleh dukungan global terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Myanmar memiliki kira-kira setengah juta populasi minoritas Katolik, terutama di daerah terpencil. Paus juga akan mengunjungi kaum minoritas Katolik Banglades, negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Perayaan misa

Pastor Mariano mengatakan, 200.000 umat Katolik diharapkan menghadiri perayaan misa yang dipimpin Paus Fransiskus di stadion Kyaikkasan Grounds, Yangon, kota utama Myanmar.

Baca: Usai Ungkap Simpati untuk Muslim Rohingya, Paus Segera Datangi Myanmar

Myanmar dan Vatikan menjalin hubungan diplomatik penuh pada Mei 2017, tak lama setelah pemimpin de facto Aung San Suu Kyi bertemu Paus Fransiskus dalam lawatan ke Eropa.

Kunjungan itu dibayangi oleh perlakuan buruk terhadap warga minoritas Rohingya di Myanmar, yang tidak diakui sebagai warga negara dan mengungsi akibat kekerasan komunal.

Beberapa minggu sebelum pertemuannya dengan Suu Kyi, Fransiskus menyapa minoritas Muslim sebagai "saudara laki-laki dan perempuan" yang sedang disiksa dan dibunuh karena iman mereka.

Paus menambahkan,  warga Rohingya adalah "orang-orang baik dan hidup damai, tetapi telah menderita selama bertahun-tahun".

Setiap mengulangi pernyataan sikap seperti itu tentu saja akan membuat Paus Fransiksus akan ditentang oleh warga Myanmar. 

Pihak berwenang Myanmar telah berulangkali menolak tudingan telah melakukan kekejaman atau mengusir Rohingya sebagai penjahat.

Kelompok garis keras nasionalis Buddhis sebelumnya telah berjanji untuk melakukan demononstrasi menolak lawatan Paus Fransiskus karena ia telah mendukung kelompok minoritas Muslim Rohingya.

Namun, Minggu ini pemerintah Myanmar telah menyerukan persatuan dalam sebuah pawai yang melibatkan warga berbeda keyakinan di Yangon, pawai pertama sejak pecah krisis di Rakhine.

Menurut rencana perjalanan dirilis Vatikan, Fransiskus akan berkunjung ke ibu kota Naypyidaw dan kota terbesar Yangon sebelum menuju ke Banglades – yang telah menamping lebih dari 520.000 pengungsi Rohingya sejak Agustus 2017.

Baca: Paus Fransiskus Serukan Dialog Antaragama di Myanmar

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM