Pidato di TV, Raja Spanyol Kecam Penyelenggaraan Referendum Catalonia - Kompas.com

Pidato di TV, Raja Spanyol Kecam Penyelenggaraan Referendum Catalonia

Kompas.com - 04/10/2017, 06:02 WIB
Polisi Spanyol menyita kotak suara di sebuah tempat pemungutan suara di Barcelona, pada tanggal 1 Oktober 2017, di hari referendum untuk kemerdekaan Catalonia yang ditentang oleh Pemerintah Madrid.AFP PHOTO / PAU BARRENA Polisi Spanyol menyita kotak suara di sebuah tempat pemungutan suara di Barcelona, pada tanggal 1 Oktober 2017, di hari referendum untuk kemerdekaan Catalonia yang ditentang oleh Pemerintah Madrid.

KOMPAS.com - Raja Spanyol Felipe VI mengecam pengelola referendum kemerdekaan Catalonia yang telah menempatkan diri di luar hukum.

Dalam pidato yang disiarkan di jaringan televisi nasional, Raja mengatakan pemungutan suara itu tidak sah, dan tanpa menghormati hukum.

Dengan demikian, tidak akan ada kebebasan maupun perdamaian.

Pilihan Raja Felipe VI untuk berbicara kepada publik melalui siaran televisi, merupakan hal yang amat jarang terjadi.

Raja juga menyebut situasi di Spanyol saat ini amat serius, hingga dia menyerukan persatuan.

"Hari ini masyarakat Catalonia terpecah dan terancam."

"Pihak berwenang mengabaikan dampak dan perasaan solidaritas yang mempersatukan dan yang akan mempersatukan warga Spanyol," kata dia.

Baca: Referendum Catalonia Dimulai, Apa yang Terjadi Sebenarnya?

"Mereka sudah melanggar prinsip demokrasi dari penegakan hukum," tambah Raja.

Raja Felipe VI memperingatkan, pemungutan suara bisa membawa risiko ekonomi kepada wilayah Catalonia yang makmur, dan juga ke seluruh Spanyol.

Namun dia juga memastikan, Spanyol akan mengatasi 'waktu-waktu yang sulit'.

Sementara itu, ratusan ribu orang di wilayah Catalonia menggelar unjuk rasa pada Selasa (3/10/2017).

Mereka memprotes kekerasan yang dilakukan polisi saat berupaya mencegah berlangsungnya referendum, yang menyebabkan sekitar 900 orang cedera.

Baca: Referendum Catalonia, 337 Warga dan 11 Aparat Jadi Korban Kekerasan

Dinas kesehatan setempat mengatakan, ada 33 polisi cedera dalam kekerasan yang terjadi pada hari Minggu kemarin.

Dalam unjuk rasa di Barcelona saja, polisi memperkirakan sekitar 700.000 orang turun ke jalan-jalan, meskipun belum ada pengukuhan resmi tentang jumlah pengunjuk rasa.

Aksi mogok juga berlangsung dengan kereta bawah tanah, yang hanya beroperasi sekitar 25 persen pada jam-jam sibuk, dan berhenti sama sekali di luar jam tersebut.

Beberapa tujuan wisata di Barcelona juga tutup, termasuk Gereja Sagrada Familia yang terkenal.

Sementara Mercabarna -kawasan perdagangan grosir, sepi karena 770 toko di sana tutup.

Banyak bisnis-bisnis kecil yang ikut tutup, begitu juga sekolah dan universitas. Sedangkan layanan medis beroperasi pada tingkat minimal.

Seruan mogok ini merupakan protes atas yang mereka sebut pelanggaran keras hak dan kebebasan saat pemungutan suara.

Saat pemungutan suara, di beberapa tempat, polisi menggunakan pentungan dan peluru karet untuk membubarkan para pemilih yang ingin memberikan suaranya.

Sekitar 2,2 juta pemilih memberikan suara dari total sekitar 5,3 juta pemilih.

Pemerintah wilayah Catalonia mengatakan, dukungan untuk kemerdekaan hampir mencapai 90 persen, walau hasil resmi belum diungkapkan.

Baca: Referendum Catalonia, 90 Persen Suara Memilih Merdeka

Namun partisipasi yang relatif rendah, sekitar 42 persen, tampaknya membuat posisi pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont, menjadi lemah.

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM