Banglades Siap Bangun 14.000 Kamp untuk Pengungsi Rohingya - Kompas.com

Banglades Siap Bangun 14.000 Kamp untuk Pengungsi Rohingya

Kompas.com - 17/09/2017, 15:03 WIB
Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di jalan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, Jumat (1/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammad Ponir Hossain Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di jalan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, Jumat (1/9).

DHAKA, KOMPAS.com – Pemerintah Banglades menyatakan kesiapan mereka untuk memberikan bantuan kemanusiaan berupa pembangunan 14.000 kamp baru bagi pengungsi Rohingya.

Kantor berita Perancis, AFP, Minggu (17/9/2017), melaporkan, setiap tenda penampungan diharapkan bia mengakomodasi lima hingga enam keluarga.

Hingga sejauh ini, 400.000 warga etnis Minoritas Rohingya melintasi perbatasan dari Myanmar ke Banglades setelah militan Rohingya menyerang 20 pos keamanan Myanmar, 25 Agustus 2017.

Gelombang besar pengungsian Rohingya itu hampir tidak bisa digabung dengan etnis Rohingya lain yang telah mengungsi akibat kekerasan pada Oktober 2017 dan sebelumnya.

Baca: Pengungsi Rohingya Tinggal Berjejalan di Kamp Banglades

Sebab, kamp pengungsian terdahulu sudah tidak sanggu menampung pendatang baru. Menurut juru bicara Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) kamp-kamp resmi telah “meledak”.

Ratusan ribu pengungsi baru itu terpaksa mendirikan tempat penampungan darurat di tempat-tempat sementara di luar lokasi penampungan resmi etnis Rohingya yang sudah ada sebelumnya.

Merespons masuknya pengungsi, Banglades akan mendirikan 14.000 tempat penampungan tambahan di Kutupalong, dekat perbatasan dengan Myanmar, seperti dilaporkan Daily Star.

Setiap tempat penampungan akan menampung hingga enam keluarga. Tempat itu juga akan menyediakan 8.500 toilet sementara dan 14 gudang untuk menyimpan bantuan dan ketentuan.

Baca: Banglades Akan Pindahkan Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil

Aturan ketat

Namun, Dhaka juga berencana memberlakukan sejumlah aturan atau pembatasan yang ketat terhadap penghuni tempat penampungan tersebut.

Pekan lalu, Menteri Dalam Negeri Banglades Asaduzzaman Khan mengatakan, penghuni baru dilarang meninggalkan kamp dan bepergian ke seluruh negeri dengan kendaraan.

Krisis terbaru di negara bagian Rakhine, Myanmar, dimulai pada 25 Agustus, ketika sebuah kelompok gerilyawan Rohingya menyerang lebih dari 20 pos keamanan, termasuk pos polisi.

Hal ini mendorong militer Myanmar untuk meluncurkan "operasi pembersihan" militan atau gerilyawan Rohingya, pihak yang bertanggung jawab serangan yang menewaskan puluhan orang itu.

Dunia internasional telah mengecam militer dan pemerintah Myanmar karena melakukan “pembersihan etnis” minoritas Rohingya, yang tentu saja disangkal keras otoritas Myanmar.

Baca: Banglades Akan Pindahkan 32.000 Pengungsi Rohingya ke Sebuah Pulau

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM