Militan ISIS Sesaki Perbatasan Suriah-Irak, Mau Pulang ke Negara Asal - Kompas.com

Militan ISIS Sesaki Perbatasan Suriah-Irak, Mau Pulang ke Negara Asal

Kompas.com - 13/09/2017, 11:05 WIB
Kota Raqqa, Suriah utara, yang menjadi ibu kota kekhalifahan ISIS, kini telah hancur dan ribuan militan telah meninggalkan kota itu setelah kehilangan wilayahnya. Kota itu jatuh ke tangan pasukan Kurdi yang didukung AS. Reuters via The Guardian Kota Raqqa, Suriah utara, yang menjadi ibu kota kekhalifahan ISIS, kini telah hancur dan ribuan militan telah meninggalkan kota itu setelah kehilangan wilayahnya. Kota itu jatuh ke tangan pasukan Kurdi yang didukung AS.

IDLIB, KOMPAS.com - Ratusan pembelot dari kelompok teror Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS) di perbatasan Irak dan Suriah berharap bisa melarikan diri ke negara lain atau pulang ke negara asalnya.

Beberapa lusin bekas militan telah menyeberang ke selatan Turki dalam beberapa pekan terakhir setelah kelompok teror itu kehilangan wilayahnya di Irak dan juga Suriah.

Mereka saat ini berkumpul di Provinsi Idlib di Suriah. Kebanyakan mereka berencana untuk menyeberangi perbatasan Turki di dekat wilayah itu dan menemukan jalan kembali ke Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa, serta Asia.

Menurut laporan The Guardian, Selasa (12/9/2017),  beberapa lusin mantan militan itu bahkan telah berhasil melintasi perbatasan yang dijaga ketat oleh tentara dan polisi perbatasan.

Mereka telah menyerang dalam beberapa pekan terakhir setelah membayar sejumlah uang kepada para penyelundup manusia.

Baca: Mantan Budak Seks ISIS Pulang dan Ingin Balas Dendam

Empat ekstremis Arab Saudi tiba di sebuah komunitas Turki selatan, awal September, setelah membayar 2.000 dollar AS per orang kepada penyelundup.

Mereka nekad menyamar dan berbahay usaha lainnya demi keamanan mereka sendiri ketika  melewati jalur berbahaya di bawah penjaga perbatasan yang kejam, yang telah membunuh puluhan penyusup tahun ini.

Eksodus besar-besaran para militan ISIS dari daerah yang pernah dikuasai ke daerah lain di Suriah dan Irak berlangsung sejak tahun lalu setelah kelompok teror itu kehilangan banyak wilayah.

ISIS kehilangan banyak wilayah di Irak karena gempuran tentara Irak dan pasukan koalisi AS yang juga didukung oleh milisi pro-Baghdad.

Pasukan yang bersekutu dengan rezim pemerintah Suriah, Presiden Bashar al-Assad, dan koalisi udara pimpinan AS di satu pihak dan koalisi Rusia di sisi lain telah menyebabkan ISIS kalah.

Baca: 400 WNI Pendukung ISIS Akan Pulang ke Indonesia, Ini Langkah BNPT

Sejumlah besar militan dan keluarga mereka sekarang berusaha untuk meninggalkan dua negara yang tercabik perang itu.

Kondisi tersebut, demikian The Guardian, jelas merupakan tantangan signifikan bagi komunitas intelijen global yang, sebagian besar, memandang mereka sebagai ancaman global pula.

Seorang warga Arab Saudi yang melarikan diri dari Suriah pada akhir Agustus 2017 mengatakan, 300 mantan anggota ISIS sis, kebanyakan dari mereka orang Saudi, telah membentuk sebuah komunitas di utara kota Idlib, yang sekarang didominasi oleh sayap Al Qaeda, yakni Jabhat al-Nusra.

"Kebanyakan ingin pergi, seperti saya," kata pemuda berusia 26 tahun, yang menyebut dirinya Abu Saad kepada media Inggris tersebut.

"Banyak dari mereka menyadari bahwa kelompok mereka telah menipu mereka. Yang lainnya tidak mempercayai Nusra. Tidak banyak yang percaya bahwa orang-orang yang berada bersama mereka berada di jalan yang benar," kaa Saad lagi.

Baca: ISIS Berbahaya karena Halalkan Kekerasan atas Nama Agama

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM