Bagaimana Orang Myanmar Memandang Warga Rohingya? - Kompas.com

Bagaimana Orang Myanmar Memandang Warga Rohingya?

Kompas.com - 12/09/2017, 06:59 WIB
Pengungsi Rohingya berjalan menuju pantai dengan harta benda mereka setelah menyebrangi perbatasan Bangladesh-Myanmar menggunakan perahu melalui Teluk Benggala di Teknaf, Bangldesh, Selasa (5/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammad Ponir Hossain Pengungsi Rohingya berjalan menuju pantai dengan harta benda mereka setelah menyebrangi perbatasan Bangladesh-Myanmar menggunakan perahu melalui Teluk Benggala di Teknaf, Bangldesh, Selasa (5/9).

YANGON, KOMPAS.com - Muncul kecaman dari seluruh dunia atas perlakuan Myanmar terhadap minoritas Rohingya, namun di Yangon pandangannya sangat berbeda, seperti dilaporkan Saw Yan Naing dari BBC Burma.

Jika Anda berbicara dengan siapa pun di jalanan Yangon, kota terbesar dan ibu kota Myanmar sebelum dipindahkan ke Naypyidaw, mengenai apa yang terjadi di negara bagian Rakhine dan Anda tidak akan mendengar kata “Rohingya”.

Kelompok minoritas itu disebut sebagai “orang Bengali”, merefleksikan sebuah persepsi umum bahwa anggota komunitas Rohingya adalah orang asing, imigran dari Banglades, dengan budaya dan bahasa yang berbeda.

Apa yang dilihat di mata internasional sebagai isu HAM dipandang di Myanmar sebagai suatu kedaulatan nasional, dan muncul dukungan luas untuk operasi militer di utara Rakhine.

Baca: Myanmar Bunuh Tiga Terduga Militan Rohingya di Rakhine

Koran-koran membawa kepentingan pemerintah, yaitu membawa sikap bahwa Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan atau Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) menyerang lebih dari 20 pos pasukan keamaan Myanmar pada 25 Agustus 2017.

Sebagai respons, pasukan yang juga dikenal sebagai Tatmadaw, meluncurkan operasi militer di Maungdaw, wilayah yang tercabik oleh konflik di Rakhine.

Permusuhan panjang

Kebanyakan orang Myanmar memandang peliputan media internasional berpihak, terlalu condong ke Rohingya, dan tidak cukup meliput penderitaan orang non-Rohingya di Rakhine yang melarikan diri dari kekerasan di desa mereka.

Akses media di daerah yang terdampak di Rakhine sangat terbatas, jurnalis asing tak bisa datang ke sana dengan bebas dan karenany tak bisa memverifikasi kisah-kisah mereka.

Media lokal fokus pada “serangan teroris” dan pada evakuasi orang non-Rohingya yang juga tersingkir akibat konflik.

Suatu berita utama di Myawaddy Daily, berbunyi,  " Teroris Bengali ekstremis ARSA akan menyerang kota-kota besar".

Yang lainnya, di situs berita Eleven, juga serupa, "Ekstremis ARSA teroris Bengali menyerang pasukan keamanan di kota kecil Maungdaw".

Baca: Kekerasan Mematikan di Rakhine Memburuk, Hampir 100 Orang

Laporan-laporan menyebutkan bahwa kelompok militanlah yang membakar desa-desa, bukan tentara, dan tidak disebutkan mengenai banyaknya pencari suaka Rohingya yang melarikan diri ke Banglades.

Penggunaan kata “teroris” dipaksakan oleh Komite Informasi Myanmar, yang memperingatan media agar mereka patuh.

Berita dan gambar-gambar yang menyesatkan atau bohong di media sosial hanya membuat perpecahan lebih dalam lagi.

Permusuhan terhadap kaum Rohingya bukanlah hal baru di Myanmar, namun lahir dari prasangka yang sudah lama terhadap kelompok minoritas itu, yang tidak dianggap sebagai warga Myanmar.

Kelompok Rohingya, yang bahasanya begitu berbeda dengan bahasa lain di negara bagian Rakhine, tidak dianggap salah satu dari 135 kelompok etnis resmi di Myanmar.

Kelompok nasionalis menghembus-hembuskan desas-desus bahwa Muslim Rohingya adalah ancaman, antara lain dengan karena pria Muslim berhak memiliki empat istri dan banyak anak.

Banyak yang berada di Rakhine takut mereka akan mengambil alih lahan mereka suatu hari karena populasi mereka terus bertambah.

Sikap bermusuhan dengan cepat terlihat saat kita berbicara dengan warga biasa.

Baca: Konflik Politik dan Ekonomi di Balik Tragedi Kemanusiaan Rohingya

"Mereka tidak berpendidikan dan tidak memiliki pekerjaan. Mereka bikin banyak anak," seorang perempuan di usia 30-an mengatakan hal itu kepada saya di jalanan.

"Jika tetanggamu punya banyak anak dan membuat keributan di sebelah, akankah kamu menyukainya?"

"Saya kira orang-orang itu bermasalah. Mereka jelek. Saya tidak suka mereka," kata perempuan lain, seorang pekerja rumah tangga.

Namun dia menambahkan bahwa, "Kita tidak dapat bertepuk hanya dengan satu telapak tangan," yang berarti dia sadar bahwa ada dua sisi dari sebuah cerita.

Tentu saja masih ada sebagian yang simpati dengan keadaan Rohingya, meski mereka dianggap kurang vokal.

"Saya kira banyak Muslim Bengali yang terbunuh," kata seorang supir taksi.

"Saya kira banyak yang dibunuh pasukan pemerintah karena sebagian lokasi mereka terisolasi. Saya pikir PBB seharusnya dilibatkan."

Baca: Kekerasan Rohingya Dinilai Berdampak Buruk bagi HAM di Asia


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Terkini Lainnya

Disebut Paling Disetujui Jadi Cawapres Prabowo, Bagaimana Tanggapan Anies?

Disebut Paling Disetujui Jadi Cawapres Prabowo, Bagaimana Tanggapan Anies?

Megapolitan
Jelang Tanding Lawan Sandiaga, Susi Pudjiastuti Tinjau Danau Sunter

Jelang Tanding Lawan Sandiaga, Susi Pudjiastuti Tinjau Danau Sunter

Megapolitan
Usung Jokowi sebagai Capres, PDI-P Jalin Komunikasi dengan Parpol Luar Koalisi

Usung Jokowi sebagai Capres, PDI-P Jalin Komunikasi dengan Parpol Luar Koalisi

Nasional
Jalur Kereta Cirebon-Purwokerto Bisa Dilintasi, Keberangkatan dari Stasiun Senen Berangsur Normal

Jalur Kereta Cirebon-Purwokerto Bisa Dilintasi, Keberangkatan dari Stasiun Senen Berangsur Normal

Megapolitan
Nyatakan Cinta ke Penumpang di Bawah Umur, Sopir Taksi Dideportasi

Nyatakan Cinta ke Penumpang di Bawah Umur, Sopir Taksi Dideportasi

Internasional
Simpati Dua Calon Gubernur Jateng untuk Korban Longsor Brebes

Simpati Dua Calon Gubernur Jateng untuk Korban Longsor Brebes

Regional
Anwar Fuady: Omong Kosong Narkoba untuk Menambah Kreativitas Artis

Anwar Fuady: Omong Kosong Narkoba untuk Menambah Kreativitas Artis

Nasional
Digugat Konsumen Reklamasi, Begini Tanggapan Gubernur Anies

Digugat Konsumen Reklamasi, Begini Tanggapan Gubernur Anies

Megapolitan
'Buat Apa Jadi Pemimpin kalau Rakyatnya Pecandu Semua...'

"Buat Apa Jadi Pemimpin kalau Rakyatnya Pecandu Semua..."

Nasional
Puan: Kriteria Cawapres Jokowi Sudah Ada

Puan: Kriteria Cawapres Jokowi Sudah Ada

Nasional
Selidiki Tewasnya Mantan Wakapolda, Polisi Terjunkan Anjing Pelacak

Selidiki Tewasnya Mantan Wakapolda, Polisi Terjunkan Anjing Pelacak

Regional
Kedubes AS di Israel akan Dipindahkan ke Yerusalem Bulan Mei

Kedubes AS di Israel akan Dipindahkan ke Yerusalem Bulan Mei

Internasional
Antisipasi Peredaran Narkoba, Kompolnas Minta Polisi Perairan Diperkuat

Antisipasi Peredaran Narkoba, Kompolnas Minta Polisi Perairan Diperkuat

Nasional
Jokowi Diminta Terbitkan Peraturan yang Beri Kewenangan Lebih untuk BNN

Jokowi Diminta Terbitkan Peraturan yang Beri Kewenangan Lebih untuk BNN

Nasional
Dilaporkan ke Polisi, Anies Bilang 'Tentu Ada Masalah Saat Tegakkan Keadilan'

Dilaporkan ke Polisi, Anies Bilang "Tentu Ada Masalah Saat Tegakkan Keadilan"

Megapolitan

Close Ads X