Uskup Desmon Tutu Kecam Suu Kyi: "Sikap Diam Anda" Menambah Kepedihan - Kompas.com

Uskup Desmon Tutu Kecam Suu Kyi: "Sikap Diam Anda" Menambah Kepedihan

Kontributor Singapura, Ericssen
Kompas.com - 08/09/2017, 19:24 WIB
Aung San Suu Kyi bertemu dengan Desmond Tutu di Yangon, Myanmar, 26 Februari 2013.AFP/Soe Than Win Aung San Suu Kyi bertemu dengan Desmond Tutu di Yangon, Myanmar, 26 Februari 2013.

JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Salah seorang tokoh anti-apartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu, melontarkan kecaman terhadap State Counsellor (Perdana Menteri) Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Seperti dilaporkan kantor berita Perancis, AFP, Jumat (8/9), Tutu akhirnya buka suara mengenai krisis etnis minoritas Muslim Rohingya yang sedang mengguncang Myanmar.

“Jika harga politik yang harus dibayar untuk kekuasaan tertinggi di Myanmar adalah sikap diam Anda, tentu itu adalah harga yang sangat mahal,” kata Tutu mengeritik Suu Kyi.

“Ini tidaklah tepat seorang yang menjadi simbol kebenaran memimpin Myanmar berlaku dengan cara ini (diam, Red). Ini menambah kepedihan kita,” ujar uskup berusia 86 tahun itu.

Baca: Konflik di Rakhine Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang

Tutu menekankan, foto-foto dari korban Rohingya sungguhlah membuat kita merasa sakit dan takut melihatnya.

Monsinyur Tutu menyatakan, dia akan berdoa agar Suu Kyi dapat lebih berani lagi dan tetap kuat untuk berbicara atas nama keadilan, hak asasi manusia, dan persatuan bangsa Myanmar.

 

Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar menilai, sentimen anti-Myanmar yang berkembang di berbagai negara merupakan buah dari kampanye kabar bohong ( hoax) yang dibuat "untuk mempromosikan kepentingan teroris”.

Gelombang simpati masyarakat internasional terhadap etnis Rohingya dibidani oleh "gunung es raksasa berupa informasi palsu," kata Suu Kyi seperti dilaporkan Deutsche Welle, Rabu (6/9/2017).

Baca: Kisah-Kisah Horor dari Rohingya, 'Ya Allah.... Ya Allah...”

Menurutnya, kampanye kabar bohong tersebut "sengaja dibuat untuk mempromosikan kepentingan teroris."

Suu Kyi dan Tutu adalah sama-sama penerima Nobel Perdamaian, Tutu di tahun 1984 dan Suu Kyi di tahun 1991.

Tutu dan Suu Kyi bersahabat. Pada 26 Februari 2013, Tutu pernah mengunjungi Yangon dan bertemu dengan Suu Kyi.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKontributor Singapura, Ericssen
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM