Konflik di Rakhine Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang - Kompas.com

Konflik di Rakhine Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang

Kompas.com - 08/09/2017, 19:04 WIB
Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di jalan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, Jumat (1/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammad Ponir Hossain Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di jalan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, Jumat (1/9).

SEOUL, KOMPAS.com – Lebih dari 1.000 orang telah teas akibat konflik bersenjata di negara bagian Rakhine, Myanmar, dan mereka pada umumnya adalah warga minoritas Rohingya.

Jumlah tersebut dua kali lebih besar dari angka total yang dirilis pemerintah Myanmar. Penjelasan itu disampaikan seorang wakil khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat (8/9/2017).

Utusan senior PBB itu juga mendesak Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar yang juga pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1991, untuk segera bertindak menolong kaum Rohingya.

Menurut kantor berita Perancis, AFP, kekerasan terbaru yang terjadi pada 25 Agustus dan dampak ikutannya telah menyebabkan lebih dari 270.000 warga sipil Rohingya melarikan diri ke Banglades.

Kekerasan di Myanmar, kata Yanghee Lee, pelapor khusus PBB untuk uusan HAM di Myanmar, "mungkin telah menyebabkan sekitar seribu atau lebih yang tewas" dan

Baca: Kisah-Kisah Horor dari Rohingya, 'Ya Allah.... Ya Allah...”

Kematian sebanyak itu, kata Lee,  “mungkin berasal dari dua kubu (etnis Rohingya dan lokal), namun sangat terkonsentrasi pada populasi Rohingya”.

Suu Kyi, yang telah diberi jabatan khusus sebagai state counsellor (setara dengan Perdana Menteri) oleh Presiden Htin Kyaw hingga sejauh ini belum menunjukkan langkah mencegah kekerasan.

Menurut PBB, banyak warga Rohingya juga tewas saat berusaha melarikan diri dari pertempuran antara militer dan militan di Rakhine.

Banyak saksi mata melaporkan, permukiman Rohingya di Rakhine telah dibakar sejak militan Rohingya melakukan serangant terkoordinasi ke 20 pos militer dan polisi pada 25 Agustus.

Gelombang kekerasan di  Rakhine terjadi pertama kali dipicu oleh serangan terhadap sebuah pos polisi di perbatasan oleh militan sehingga sembilan polisi tewas.

Serangan itu memicu kemarahan besar aparat keamanan Myanmar yang lalu melakukan operasi besar-besaran menyisir pelaku dari kampung ke kampung dan desa ke desa.

Baca: Rohingya, Mereka yang Terempas sebagai “Kalas” di Tanah Penuh Berkat

Dalam proses itulah penduduk melaporkan, militer telah melakukan berbagai tindak kekerasan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan penculikan.

Gelombang kekerasan terbesar terjadi pada 25 Agustus lalu, yang juga memicu pengerahan pasukan besar-besaran ke wilayah Rakhine oleh otoritas Myanmar.

Lee, cendekiawan asal Korea Selatan, mengatakan dia khawatir kekerasan “itu sedang bergerak menuju bencana terburuk yang dunia dan Myanmar pernah saksikan dalam beberapa tahun ini.”

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM