China Larang Impor Besi dan Makanan Laut dari Korut - Kompas.com

China Larang Impor Besi dan Makanan Laut dari Korut

Kompas.com - 15/08/2017, 06:31 WIB
Rudal khusus untuk melengkapi kapal selam Korut ini dipamerkan pada hari ulang tahun ke-85 militer negara itu, April 2017Associated Press Rudal khusus untuk melengkapi kapal selam Korut ini dipamerkan pada hari ulang tahun ke-85 militer negara itu, April 2017

BEIJING, KOMPAS.com - China akhirnya gerah juga terhadap Korea Utara yang terus melanggar resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB terkait program nuklir dan rudal Korut itu.

Beijing pun mulai mengenakan sanksi kepada sekutunya itu. Pada Senin (14/8/2017), Beijing

mengumumkan akan menghentikan impor besi, bijih besi, dan makanan laut dari Korut mulai Selasa (15/8/2017) ini.

Beijing sekaligus meminta semua pihak menahan diri dalam krisis di Semenanjung Korea.

Keputusan China itu diumumkan setelah perang retorika yang berlangsung berhari-hari makin memuncak antara Presiden Amerika Serikat (A)S Donald Trump dan rezim Korut, Kim Jong Un.

Ketegangan itu menimbulkan kekhawatiran internasional mengenai perkembangan krisis tersebut.

Baca: Trump Peringatkan Korut, AS Telah "Terisi Muatan" untuk Hadapi Rudal

Beijing sebelumnya telah berjanji untuk memberlakukan sanksi setelah AS menuduh Cina tidak berbuat cukup untuk mengendalikan tetangganya, yang secara ekonomi sangat bergantung pada China.

Kementerian Perdagangan China, Senin (15/8/2017), mengatakan di situsnya, semua impor batubara, besi, bijih besi, dan makanan laut akan "dilarang sepenuhnya" mulai Selasa ini.

Penangguhan impor batubara sudah dilakukan China sejak Februari 2017.

DK PBB menyetujui sanksi keras terhadap Pyongyang pada 6 Agustus 2017. Keputusan itu diambil dengan suara bulat dan dapat merugikan Korut sampai 1 miliar dollar per tahun.

Sanksi itu adalah tanggapan atas uji coba rudal balistik antar benua yang dilakukan Korut bulan lalu. Setelah itu pimpinan Kim Jong Un menyatakan, Korut sekarang dapat menyerang bagian manapun dari AS.

Ketegangan regional makin memuncak sepekan terakhir karena Trump balik mengancam bahwa Korut akan menghadapi "api dan kemarahan" yang "belum pernah dilihat dunia sebelumnya, jika berani menyerang AS ".

Baca: Jika AS dan Korut Perang, Bagaimana Perekonomian Indonesia

Tapi, Korut membalas retorika itu dan menyatakan, mereka menyiapkan serangan rudal ke pulau Guam, wilayah AS di Pasifik.

Presiden China Xi Jinping beberapa kali mendesak kedua belah pihak agar menenangkan diri. Presiden Korse, Moon Jae-in, juga menyerukan diakhirinya "semua provokasi dan retorika yang bermusuhan" dengan segera agar tidak "memperburuk situasi lebih jauh".

China sudah mengusulkan agar perundingan enam negara yang telah lama tidak aktif digelar lagi untuk menyelesaikan krisis secara damai, dengan syarat Korut harus menghentikan program nuklirnya. Namun usulannya diabaikan rezim di Pyongyang.

"Pihak-pihak terkait harus menahan diri, kata-kata dan tindakan, agar tidak memperparah situasi tegang di Semenanjung Korea," kata juru bicara kementerian luar negeri Hua Chungying, Senin (14/8/2017).

"Untuk menyelesaikan masalah nuklir semenanjung Korea pada akhirnya, (pihak-pihak terkait) harus bertahan dalam negosiasi dan tetap berkomitmen pada acuan umum penyelesaian politik," katanya.

Baca: PBB Jatuhkan "Sanksi Paling Keras Sepanjang Satu Generasi” untuk Korut

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM