Trump Kembali Umbar Ancaman dan Kemarahan kepada Korut - Kompas.com

Trump Kembali Umbar Ancaman dan Kemarahan kepada Korut

Kompas.com - 09/08/2017, 08:49 WIB
Presiden AS, Donald Trump, berjalan menuju Air Force One yang akan membawanya ke Polandia dan Jerman, Rabu, 5 Juli 2017 di Pangkalan Angkatan Udara AS, Andrews, Maryland. AP Photo/Evan Vucci Presiden AS, Donald Trump, berjalan menuju Air Force One yang akan membawanya ke Polandia dan Jerman, Rabu, 5 Juli 2017 di Pangkalan Angkatan Udara AS, Andrews, Maryland.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Presiden Donald Trump lagi-lagi mengumbar ancaman kepada Korea Utara.

Trump, di Washington DC, Selasa (8/8/2017) mengatakan, Korut akan menghadapi api kemarahan atas program peluru kendali yang terus dikembangkan.

Beberapa jam sebelumnya dilaporkan Pyongyang telah berhasil membuat hulu ledak nuklir "mini", yang dapat dimuat ke dalam peluru kendali.

Updated: Korut Balas Amarah Trump dengan Ancaman Rudal ke Pangkalan AS di Guam

"Lebih baik Korea Utara tidak melakukan ancaman lain kepada Amerika Serikat," kata Trump, yang berbicara dari klub golfnya di New Jersey.

"Mereka akan disambut dengan api dan kemarahan seperti yang belum pernah terjadi di muka bumi sebelumnya," cetus Trump. 

Baca: PBB Jatuhkan Sanksi Paling Keras Sepanjang Satu Generasi untuk Korut

Peringatan Trump mengikuti sebuah laporan Washington Post yang mengutip sebuah analisis Badan Intelijen Pertahanan yang mengatakan, para pejabat menganggap Korut memiliki rudal balistik untuk mengangkut senjata nuklir, - termasuk rudal balistik antarbenua.

Pentagon tidak mengomentari cerita tersebut, namun Washington Post mengatakan, dua pejabat AS yang mengetahui analisis tersebut telah memverifikasi kesimpulan tersebut.

Sementara, CNN pun mengaku telah mengkonfirmasi laporan tersebut.

Kemajuan tersebut menunjukkan bahwa Korut berada di jalur yang lebih jauh untuk memiliki rudal nuklir yang siap diluncurkan, dibanding dengan yang diperkirakan semula. 

Para ahli telah sampai bulan lalu mengatakan, dibutuhkan waktu dua atau tiga tahun lagi bagi Korut untuk mengembangkan ICBM berhulu ledak nuklir.

ICBM kependekan dari Intercontinental Ballistic Missile atau peluru kendali balistik antarbenua.

Rudal jenis ini memiliki jangkauan yang sangat jauh, di atas 5.000 kilometer, hingga 12.000 kilometer.

Peluru kendali balistik antar benua semacam ini memang dirancang untuk dapat membawa senjata nuklir.

Baca: Tillerson: AS Tak Memusuhi, Korut Perlihatkan Diri sebagai Ancaman

Saat ini, perhitungan para pakar tersebut tiba-tiba berubah setelah Pyongyang bulan lalu menguji dua ICBM. Di mana hal itu menjadi kali pertama bagi pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un menunjukkan kemampuan semacam itu.

Peluncuran pertama itu oleh Kim digambarkan sebagai hadiah untuk "bajingan AS," dengan menunjukkan roket tersebut memiliki jangkauan potensial untuk menghantam Alaska.

Roket kedua yang diuji minggu lalu terbang lebih lama lagi, dengan beberapa ahli bahkan menyebut New York pun berada dalam jangkauan rudal itu.

Trump mengatakan, Kim Jong-Un sangat mengancam.

Baca: Kecam Sanksi PBB, Korut Berkeras Tak Akan Rundingkan Program Nuklir

"Seperti yang saya katakan, mereka akan disambut dengan api dan kemarahan," kata Trump kepada wartawan.

Ucapan tersebut menandai kenaikan tajam dalam retorika dari AS. Sebab, komentar pemerintah AS sebelumnya difokuskan untuk menemukan solusi non-militer.

Jurubicara Pentagon Letnan Kolonel Chris Logan mengatakan, AS berusaha untuk melakukan de-nuklearisasi damai di Semenanjung Korea.

"Namun, kami tetap siap untuk membela diri dan sekutu kami, menggunakan berbagai kemampuan yang ada, sehubungan dengan ancaman yang terus meningkat dari Korut," kata Logan.

Departemen Luar Negeri menolak untuk mengomentari laporan Washington Post tersebut.

Namun Wakil Menteri Luar Negeri John Sullivan mengatakan, AS terus berupaya memastikan China dan negara-negara lain menerapkan sanksi baru terhadap Korut.

Baca: China 100 Persen Dukung Sanksi PBB untuk Korut

"Kami tidak akan datang ke meja perundingan sampai Korea Utara berkomitmen untuk menghentikan tes rudal mereka," kata Sullivan.

Washington Post juga melaporkan, penilaian intelijen lain memperkirakan bahwa Korut sekarang memiliki 60 senjata nuklir, lebih dari yang diperkirakan sebelumnya.

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorGlori K. Wadrianto
Komentar