Kisah Duka Keluarga Indonesia Simpatisan ISIS di Suriah... - Kompas.com

Kisah Duka Keluarga Indonesia Simpatisan ISIS di Suriah...

Kompas.com - 05/08/2017, 08:38 WIB
Gerombolan teroris ISISAFP PHOTO Gerombolan teroris ISIS

KOMPAS.com -  Harapan akan pendidikan dan layanan kesehatan gratis, upah tinggi, dan peluang menjalani keislaman yang sempurna di bawah payung kekhalifahan, menggerakkan gadis Indonesia berusia 17 tahun mengajak keluarganya ke Suriah.

Keluarga itu tergiur janji kemakmuran gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS).

Lebih dari 20 anggota keluarga mengikuti ajakan Nurshardrina Khairadhania, orangtua, adik, bibi, paman, dan keponakan, untuk hijrah ke Suriah.

Keluarga kecil itu lalu menjual rumah, kendaraan, dan perhiasan untuk membiayai perjalanan mereka ke Raqa.

Baca: Gadis Yazidi Korban ISIS: Setiap Hari Selama 6 Bulan, Saya Diperkosa

Namun realita berkata lain. Mereka mendapati diri hidup di lingkungan yang memaksa setiap perempuan muda menikahi teroris ISIS.

Sementara, para pria harus mengangkat senjata di medan perang.

Nur bercerita, semua anggota keluarga laki-lakinya dipenjara karena menolak latihan militer. Mereka kemudian terpaksa bersembunyi.

Sementara, kaum perempuan dipaksa tinggal di asrama khusus. Nur mengaku kaget dengan kondisi kehidupan di sana.

Baca: Kisah Gadis Yazidi (2): 1.100 Korban ISIS Dibawa ke Jerman

Para perempuan saling bergosip, mencuri satu sama lain, dan bahkan berkelahi dengan senjata tajam.

Dia dan bibinya masuk dalam daftar calon pengantin yang disiapkan buat para teroris.

"Situasinya gila. Kami tidak tahu siapa mereka. Kami tidak kenal latar belakangnya. Mereka cuma mau menikah dan menikah," tutur dia.

Nur yang kini berusia 19 tahun menuturkan kisah sedihnya, dan bagaimana keluarganya berniat melarikan diri hanya beberapa bulan setelah tiba di Raqa.

Baca: WNI di Wilayah ISIS: Sakit-sakitan, Kami Ingin Kembali ke Indonesia

Mereka kemudian membayar penyelundup buat keluar dari wilayah ISIS.

Hingga saat itu, keluarganya telah cerai berai, neneknya meninggal dunia, pamannya tewas dalam sebuah serangan udara, dan tujuh anggota keluarga lain dideportasi sejak baru tiba di Turki.

"ISIS hanya mempropagandakan hal positif di internet," kata dia.

Bersama ibu, dua adik, tiga bibi, dua keponakan, beserta ketiga anaknya, Nur kini hidup di kamp pengungsi Ain Issa yang dijalankan oleh pasukan Kurdi.

Sementara, keluarga laki-laki diamankan di tempat terpisah dan harus menjalani pemeriksaan oleh militer Kurdi.

"Saya sangat bersyukur. Saya bodoh dan naif," kata Nur.

Kini mereka bersiap pulang ke Indonesia dan menghadapi program deradikalisasi yang disiapkan pemerintah.

Baca: Perbudakan Seksual Dorong Korban ISIS Bunuh Diri

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM