ISIS Janjikan Surga Dunia, Realitanya Neraka dan Teror - Kompas.com

ISIS Janjikan Surga Dunia, Realitanya Neraka dan Teror

Kompas.com - 04/08/2017, 19:21 WIB
Kendaraan bermotor milik anggota Dewan Pemuda Islam Derna, yang telah berbaiat kepada kelompok ISIS, sedang berkonvoi di pada Oktober 2014.The Guardian Kendaraan bermotor milik anggota Dewan Pemuda Islam Derna, yang telah berbaiat kepada kelompok ISIS, sedang berkonvoi di pada Oktober 2014.

KOMPAS.com - Tergiur janji muluk kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), ratusan warga Indonesia bergabung dengan militan di Suriah.

Realitanya ternyata amat jauh dari "khayalan" ideal sebuah kekhalifahan Islam versi ISIS.

Menyesal! Tinggal kata tersebut yang bisa dilontarkan. Banyak keluarga tergiur dengan "janji surga" kekhalifahan ISIS di Suriah dan Irak yang ditawarkan lewat internet.

Alasannya, beragam, mulai putus asa dibelit utang, mencoba hidup baru atau demi "keyakinan" yang dianut. Atau juga gabungan dari alasan tersebut.

Dengan membuta, tanpa mempedulikan realita yang terus disiarkan media, bahwa ISIS di Suriah dan Irak memicu perang saudara, teror dan kesengsaraan warga lokal, ratusan warga Indonesia menjual semua harta miliknya, dan bergabung dengan milisi teror tersebut.

Baca: Terpikat ISIS dan Hijrah ke Suriah, Para WNI Ini Akhirnya Kecewa

Sebuah keluarga Indonesia yang kini ditampung di kamp darurat dekat Raqqa mengaku, tahun 2015 dari menjual rumah dan harta bendanya, mereka berhasil mengumpulkan uang Rp 500 juta untuk bergabung dengan para jihadis yang menjanjikan "surga" itu.

Mata mereka mulai terbuka, saat tiba di negara transit, Turki. Aparat Turki yang memerangi ISIS masih memberi kelonggaran, dengan menyuruh mereka memilih, pulang kembali ke Indonesia atau ngotot masuk ke Suriah?

Beberapa orang yang dicurigai, bahkan angsung ditahan oleh aparat keamanan Turki. Setelah itu diekstradisi ke Indonesia, dan di tanah air dijebloskan ke tahanan.

Neraka di Raqqa

Beberapa "relawan" dari Indonesia yang ingin menjadi jihadis atau pengantin jihadis, demi mengejar "surga dunia" yang dijanjikan ISIS mulai sadar setelah masuk "khalifah Islam" versi ISIS, bahwa di Suriah atau Irak, yang ada hanyalah "neraka".

Harapan muluk kaum lelaki, mendapat kerja, dibayarkan utang dan mendapat beragam fasilitas kehidupan gratis berubah jadi mimpi buruk.

Kaum pria yang tida bersedia bertempur, langsung dipenjarakan atau disiksa. Sementara kaum wanitanya dipaksa untuk menjadi pengantin jihadis.

Baca: Mantan Anggota ISIS Beberkan Alasan Tinggalkan Kelompok Itu

Nurshardrina Khairadhania (19), perempuan WNI yang tergiur janji surga khakalifat ISIS, dalam wawancara dengan kantor berita AP menyatakan, ia amat menyesal, naiv dan bodoh.

Dalam bahasa Inggris cukup fasih, Nur menuturkan, baru setibanya di Turki ia menyadari situasinya amat berbahaya. Tapi "keluarganya" tetap ngotot pergi ke Raqqa.

Di sana, kaum perempuan dipisahkan dari kaum lelaki, dan dikurung di sebuah asrama. Di asrama itu pula, Nur dipaksa menjadi pengantin jihadis.

Disebutkannnya, pagi hari ia diminta menikah dengan jihadis, dan jawabannya harus diberikan malam hari itu juga.

Tidak sesuai kaidah Islam

Dalam wawancara itu Nur juga menegaskan, perilaku jihadis ISIS tidak sesuai kaidah Islam yang ia pahami. "ISIS melakukan represi, tak ada keadilan dan taka ada perdamaian", ujar Nur menambahkan. Terdapat perbedaan besar antara warga sipil dan anggota ISIS.

"Warga sipil harus membayar semua hal, listrik, layanan keseahatan dan lainnya. Sementara jihadis ISIS mendapat semua secara gratis. Kondisi mereka bagus, sementara warga terus mendapat opresi", kata Nur kepada kantor berita AP.

Baca: 400 WNI Pendukung ISIS Akan Pulang ke Indonesia, Ini Langkah BNPT

Impian adanya surga dunia di kalifat ISIS hancur seketika. Khayalan dan kalkulasi "dagang", bahwa modal yang dikeluarkan untuk datang ke Raqqa akan dikembalikan, dan ekonomi akan membaik, digerus habis oleh kenyataan berlakunya nepotisme, agresi, obsesi seks para jihadis serta perang yang terus mencabik "surga kalifat yang dijanjikan".

Berapa banyak kaum naiv atau garis keras atau gabungan keduanya, yang bergabung dengan ISIS yang menyerahkan diri atau ditangkap aparat keamanan, sejauh ini tidak ada angkanya.

Juga pejabat Kurdi yang menangani para eks-jihadis atau pengantin ISIS, tidak bersedia menjawab pertanyaan wartawan.

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM